Anti-Amerikanisme: Membaca Citra Buruk Amerika di Seluruh Dunia

Anti-Amerikanisme lebih dari tentang persepsi. Tidak ada yang lebih sulit untuk dipertahankan bagi suatu negara daripada citra yang baik, terutama ketika negara, seperti Amerika Serikat, yang bertindak mengatur seluruh dunia dan bersikeras pada standar tertinggi dalam kebebasan dan demokrasi.

Sebuah peristiwa tak terduga dapat mempengaruhi persepsi. Peristiwa traumatis 9/11 tentu menghasilkan simpati di seluruh dunia. Namun invasi ke Irak, perpecahan antara Amerika Serikat dan “Eropa Tua,” manajemen yang buruk dari eksperimen dalam pembangunan bangsa, dan berita tentang penyiksaan di penjara Abu Ghraib dan Guantanamo, telah merusak citra AS dan membuat banyak orang Amerika harus menilai kembali pemahaman mereka tentang respon yang tepat terhadap serangan 9/11.

Bentuk anti-Amerika yang pertama dan paling jelas adalah anti-presiden AS. Presiden AS sebagai penanggung jawab seluruh kebijakan pemerintahan adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas semua akibat dari kebijakan yang dijalankan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Buku ini lahir di masa pemerintahan Bush, sehingga konsentrasi penulis terbatas pada Anti-Bush-isme yang menjalar ke seluruh dunia sebagai akibat dari kebijakan AS di masa Bush.

Bentuk anti-Amerika kemudian semakin meluas di masa pemerintahan Bush, sebagai pemegang tampuk kekuasaan di AS pada periode awal Perang Melawan Terorisme, Obama, sebagai pengganti Bush, yang menggencarkan serangan drone, dan Trump, presiden AS yang semakin membangkitkan anti-amerikanisme di dunia Islam karena memindahkan kedutaan besar di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Fenomena ini kemudian menjadi sebuah fenomena yang tersebar luas, baik di Amerika Serikat maupun di belahan dunia lainnya.

Apa penyebab utama dari anti-Amerikanisme?Akar dari anti-Amerikanisme adalah kebijakan luar negeri AS! Simak pendapat seorang Michael Portillo, yang sangat mendukung perang di Irak dan awalnya tidak melihat masalah dengan “kebijakan luar negeri Bush.” Setelah terkejut dengan kekejaman penjara Abu Ghraib, ia heran dan mengatakan bahwa “pemerintahan yang kelihatannya begitu tangguh itu  telah membuat begitu banyak kesalahan yang membawa bencana.”

Atau, cermati pendapat dari seorang pengusaha Amerika terkemuka, Eric Best, seorang managing director di Morgan Stanley, yang menyatakan pada waktu yang hampir bersamaan, “Saya bersaksi bahwa ada penghancuran luar biasa terhadap branding Amerika yang dilakukan oleh pemerintahan ini (Bush), dari Eropa hingga Hong Kong , dari Shanghai  ke Tokyo, dan seterusnya.  Jika ada CEO dari perusahaan multinasional yang melakukan hal ini pada perusahaannya, secepat dan secara radikal seperti yang telah dilakukan George Bush Jr. untuk AS, CEO tersebut akan digantikan oleh dewan komisaris dalam waktu singkat.”

Tentu saja, ada bentuk lain anti-Amerikanisme selain anti-Bushi-sme. Anti-Amerikanisme sama tuanya dengan Amerika sendiri. Dapat bersifat defensif atau reaktif, rasional atau irasional, populer atau elitis, politis atau budaya; ia bisa berpusat pada isu-isu ekonomi atau agama. Dalam bentuknya yang paling ringan, anti-Amerikanisme hanyalah kritik terhadap beberapa kebijakan atau karakteristik sosial Amerika. Pada bentuk lain yang ekstrim, ia mengekspresikan benturan peradaban, penolakan penuh terhadap apa pun dan segala hal yang berbau “Amerika,” bahkan sampai penolakan hal-hal seperti budaya Amerika atau demokrasi Amerika.

Jadi, ketika seorang filsuf Perancis, Jean Baudrillard, merumuskan keinginannya yang radikal , yaitu penghancuran total Amerika,  hanya karena Amerika Serikat ia anggap terlalu hegemonik menurutnya, kebenciannya tersebut tidak dapat dibandingkan dengan penolakan Presiden Chirac atau Kanselir Schröder untuk mendukung keputusan Amerika untuk menyerang Irak. Kebencian filsuf Prancis tersebut sangat ekstrem sehingga tidak dapat dijelaskan secara rasional. Sebaliknya, penentangan Chirac dan Schröder untuk menyerang Irak, meskipun tidak menyenangkan pemerintahan Bush, menjadi bagian dari perselisihan yang masuk akal dan beralasan. Penting untuk membedakan antara keduanya.

Di Arab Saudi, anti-Amerikanisme bersifat endemik; sebagian karena opini publik mendapat pengaruh dari arus informasi — meskipun secara selektif — tentang dunia, yang sangat sensitif terhadap kekerasan yang dihasilkan konflik Israel-Palestina. Tetapi, anti-Amerikanisme, seperti yang ditunjukkan Gregory Gause (Bab 7), tidak monolitik. Hal ini sangat tersegmentasi, mencerminkan pandangan yang berbeda dari elit intelektual, pemimpin pemerintahan, dan lingkaran Islamis salafi. Di kalangan ulama salafi tertentu, ada narasi yang kuat untuk mengecam Amerika Serikat, karena alasan agama, AS dianggap sebagai kekuatan jahat yang harus dikeluarkan dari wilayah tersebut.

Tetapi sejumlah tokoh agama terkemuka, bersama dengan intelektual liberal tertentu, lebih menyukai dialog dengan Barat atas nama pragmatisme dan realisme. Faktanya, Gause berargumen, sifat sebenarnya dari hubungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi harus dinilai hanya di tingkat elit. Di kedua belah pihak tidak ada ikatan publik yang kuat pada hubungan tersebut. Ini adalah hubungan antara elit dengan elit, berdasarkan pemahaman yang sangat jelas tentang kepentingan bersama. Tidak ada sentimen di dalamnya. Perdagangan minyak yang memulai hubungan, dan itu akan terus berlanjut menjadi hubungan di masa depan yang berkaitan dengan kepentingan, yang akan berkembang.

Persepsi rakyat Palestina tentang Amerika, sebagaimana dijelaskan oleh Camille Mansour (di Bab 8), menekankan pada satu hal. Satu hal tersebut, yang sangat disesalkan oleh penduduk Palestina pada titik kebencian yang bertahan lama adalah kebijakan luar negeri AS (dan terutama kebijakan Timur Tengah), yang dianggap selalu sepihak dan “secara membabi buta selalu menguntungkan Israel.”

Anti-Amerikanisme di Asia Tenggara terkait erat dengan masa lalu kolonial di kawasan itu dan keterlibatan Amerika di wilayah tersebut, khususnya di Filipina. Kekuatan sentimen anti-Amerika terkait dengan ukuran minoritas Muslim setempat, perlakuan terhadap mereka oleh para elit yang berkuasa, dan pengaruh tarik ulur dari Islamis radikal dan moderat.

Sebagaimana ditunjukkan dengan baik oleh Farish Noor (Bab 11), peristiwa 9/11 telah memunculkan kebijakan yang semakin represif dari pemerintah Asia terhadap minoritas Muslim. Hal ini telah memiliki konsekuensi yang memperburuk anti-Amerikanisme dari “banyak aktivis Islam dan aktivis pro-demokrasi,”  yang hari ini dapat dengan mudah menunjukkan hubungan antara kepentingan AS dan aturan otoriter pemerintah mereka sendiri.

Upaya untuk “mengekspor demokrasi” ke Afghanistan dan Irak, pada kenyataannya, memperkuat rezim otoritarian di Asia Tenggara, yang telah “terlalu senang” untuk menekan gerakan-gerakan demokratis lokal atas nama perjuangan yang tidak jelas melawan terorisme.

Apakah opini publik di Eropa berbeda secara signifikan dari sentimen non-Barat, sepeti Timur Tengah, atau Asia? Seperti yang ditunjukkan oleh Gérard Grunberg dalam Bab 3, hal ini tentu tidak berkaitan dengan invasi Amerika ke Irak. Orang-orang Eropa secara mayoritas menentang perang di Irak, bahkan ketika para pemimpin mereka menyukai campur tangan Amerika. Faktanya, mengejutkan bahwa dua pertiga orang Polandia, 90 persen orang Spanyol, dan lebih dari 50 persen orang Inggris menyatakan penentangan mereka terhadap perang.

Setelah perang dimulai, sudah pasti, dua pertiga dari rakyat Inggris menyatakan dukungan untuk intervensi AS di Irak. Tetapi dukungan itu memudar dengan sangat cepat, dan dengan tidak adanya bukti “senjata pemusnah massal di Irak,” dukungan tersebut kini hampir sepenuhnya menguap dan hilang. Bagaimanapun, dan dengan mengecualikan Inggris, kesimpulan dari  Grunberg harus direnungkan secara serius: “Orang-orang Eropa tidak lagi yakin bahwa mereka mendukung alasan yang sama dan berusaha untuk tujuan yang sama seperti orang Amerika.”

Anti-Amerikanisme jenis baru yang tumbuh di Jerman, sebagaimana dibuktikan secara meyakinkan oleh Detlev Claussen (Bab 4), memang meniru narasi anti-Amerika yang lebih tua dan menghidupkan kembali kenangan anti-Amerika yang lebih tua berdasarkan pertentangan tahun 1960-an dan 1970-an. Tetapi “anti-Amerikanisme jenis baru” ini bukan hanya merupakan pengulangan perdebatan politik yang lebih tua, tetapi mengungkapkan sebuah fenomena baru: psikologi sosial kelas menengah Jerman baru di Jerman bersatu, yang bersemangat, untuk pertama kalinya dalam enam dekade, untuk menegaskan kembali identitas mereka dan kesediaan untuk mengecam penggunaan kekuatan militer Amerika sebagai manifestasi dari “arogansi kekuasaan”, suatu yang tidak dapat diterima.

Anti-Amerikanisme di Jerman sudah mapan di antara elit budaya dan publik pada umumnya. Hal ini diperkuat dan dilegitimasi oleh apa yang oleh banyak orang Jerman dilihat sebagai pendekatan khas negara mereka terhadap urusan internasional, dengan penekanan pada keterlibatan pembicaraan damai dan standar moral yang tinggi.

Persepsi Rusia tentang Amerika benar-benar berbeda dari persepsi Eropa Barat dan Timur, sebagian karena masih adanya sikap lama yang diwariskan dari Perang Dingin, dan sebagian lagi karena “kekecewaan yang berkembang” di Rusia selama tahun-tahun kepresidenan Yeltsin, seperti yang dijelaskan oleh Nikolai Zlobin (Bab 6). Selain itu, kehilangan pengaruh global bagi Rusia, memiliki dampak traumatis terhadap elit politik Rusia. Akibatnya, peristiwa dramatis 9/11 tidak secara signifikan mengubah persepsi orang-orang Rusia terhadap Amerika Serikat.

Kebangkitan “gagasan nasional” Rusia dan “kebanggaan” Rusia di bawah pemerintahan Vladimir Putin, bersama dengan nostalgia tertentu dalam “nilai-nilai budaya Soviet,” didokumentasikan dengan baik. Paradoksnya, ini membuat opini publik Rusia menjadi kurang rentan terhadap jenis anti-Amerikanisme dari negara dan orang-orang yang ingin melarikan diri dari bayang-bayang kekuatan Amerika. Orang-orang Rusia tidak berkeberatan dengan munculnya “hubungan yang lebih dekat” dengan Amerika, selama hubungan ini dipahami sebagai hubungan “setara.”

Buku With Us or Against Us ini adalah sebuah perspektif yang menceritakan berbagai untaian anti-Amerikanisme kontemporer. Buku ini menjelaskan reaksi dari semua wilayah utama dunia – Eropa Barat dan Timur, Timur Tengah, dan Asia, terhadap Amerika Serikat. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari banyak penulis, yang dieditori oleh Denis Lacorne dan Tony Judt.

Kumpulan esai ini menyajikan pemahaman yang hampir menyeluruh tentang persepsi dari negara-negara Barat dan non-Barat tentang Amerika Serikat sejak Perang Dunia II. Buku ini tidak berusaha untuk menyerang atau membela Amerika Serikat tetapi lebih terlihat untuk membawa perhatian yang berkelanjutan terhadap sumber-sumber anti-Amerikanisme, keragamannya saat ini, dan kemungkinan perkembangannya di masa depan.

 

Review Buku:

Judul:  With Us or Against Us: Studies in Global Anti-Americanism

Editor: Denis Lacorne dan Tony Judt

Penerbit: Palgrave Macmillan

Tahun Terbit: 2005