Mengapa Zionis Israel Memilih Palestina?

Mengapa Zionis Israel Memilih Palestina? (Seri Yahudisasi Palestina Bag. 3)

Sejak gerakan Zionisme Internasional berdiri, para tokoh agama dan politik zionis menumpahkan perhatian yang sangat besar terhadap kota Al-Quds atau Yerusalem.[1] Mereka sangat terobsesi untuk menjajah dan menguasai Palestina sehingga terjadi migrasi besar-besaran kaum Yahudi ke Palestina dengan dukungan penuh dari Barat.

Proyek pendudukan menjadi mainstream pergerakan Zionisme. Catatan para pendiri Gerakan Zionisme sangat vulgar dalam hal ini. Lima puluh tahun sebelum negara penjajah Israel berdiri, Bapak Zionisme Internasional Theodor Herzl pernah berseru,“Jika saat kita berhasil merebut kota Al-Quds aku masih hidup dan mampu berbuat, maka saya tidak akan membiarkan satu situs keagamaan pun berdiri tegak selain milik Yahudi. Aku akan membakar seluruh warisan budaya yang telah eksis berabad-abad lamanya.”[2]

(Baca juga: Sejarah Yahudisasi Palestina dan Perlawanan Daulah Utsmaniyah (Seri Yahudisasi Palestina Bag. 1) )

Herzl tidak berhenti pada teori, tetapi langsung beraksi untuk mengaplikasikannnya. Pada tahun 1902 ia mengusulkan kepada Khalifah Turki Utsmani saat itu agar mendirikan Universitas Yahudi di Al-Quds, seraya berdalih, Kami Bangsa Yahudi memiliki peran penting dalam aktivitas universitas hampir di segenap penjuru dunia, profesor Yahudi juga memenuhi universitas di semua negara…, karenanya, kami juga pasti mampu mendirikan universitas Yahudi di imperium kekuasaan Anda, dan Al-Quds adalah lokasi yang paling pas untuk itu.”

Ben Gourion menyatakan, “Palestina tak berarti tanpa Al-Quds, dan tiada arti Al-Quds tanpa Haikal.”

Kendati demikian gencarnya kampanye Zionis yang mengklaim bahwa Al-Quds adalah milik mereka, namun faktanya sangat sedikit situs suci Yahudi di sana. Bahkan jumlah mereka tak lebih dari 115 orang dalam sensus tahun 1752, komunitas yang tenggelam dalam kemiskinan, dan senantiasa menjadi kaum minoritas. Fakta inilah yang membuat Zionisme sangat bersemangat mengajak migrasi besar-besaran ke Palestina, membuka pemukiman, dan mendirikan situs-situs agama baru, termasuk di antaranya Benteng Ratapan.

(Baca juga: Hubungan Zionisme dengan Kekuatan Kolonial Barat (Seri Yahudisasi Palestina Bag. 2))

Selain membuat teori-teori pemikiran tentang Al-Quds, para pemimpin Gerakan Zionisme juga memanfaatkan agama untuk mencaplok kota dan situs-situs suci yang ada. Maka mereka mendoktrin para pengikutnya dengan Taurat dan mengangkat tema tentang Zionisme, Tanah yang Dijanjikan, Haikal Tuhan, dan lain-lain. Dengan doktrin ini mereka berharap Yahudi Dunia tertarik untuk bermigrasi ke kota Al-Quds dan menguasainya.

Palestina memiliki posisi yang unik dibandingkan dengan negeri-negeri lainnya di dunia. Sebab, di dalamnya terdapat Al-Masjid Al-Aqsha di bumi yang diberkati. Masjid ini merupakan kiblat pertama kaum Muslim, masjid kedua yang dibangun di dunia, Tanah Haram ketiga, tanah tempat Isra’ dan Mi’raj, yang pada peristiwa itu Rasulullah menjadi imam shalat di depan seluruh nabi.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj menunjukkan bahwa Baitul Maqdis adalah “pintu gerbang” menuju langit. Peristiwa tersebut menegaskan kembali relasi antara Al-Masjid Al-Haram di Jazirah Arab dengan Baitul Maqdis di Syam. Dalam perspektif umat Islam dan Arab, Baitul Maqdis adalah visi masa depan khilafah islamiyah, sesuai dengan informasi nubuat. Menjelang akhir kehidupan dunia, Al-Quds diyakini akan menjadi tempat berkumpul dan menyebarnya umat manusia.

Dalam sejarahnya, kawasan ini telah menghadapi beberapa kali pendudukan dari tiga benua tua dunia: Asia, Eropa, dan Afrika. Antara lain dari pihak Romawi dan Yunani yang mewakili Barat, Babilonia Persia yang mewakili Timur, dan Firaun Mesir yang mewakili Afrika. Selanjutnya, dari pihak Salibis Eropa dan Inggris. Pendudukan terakhir dan masih terjadi ialah dari Zionisme Yahudi yang terjadi sejak paruh kedua abad ke-19.

(Baca juga:  69 Tahun Nakba, Saat Israel Berdiri di Atas Ribuan Mayat Warga Palestina)

Pendudukan Zionis mencapai puncak momentumnya dengan deklarasi berdirinya Negara Israel pada akhir dekade keempat abad ke-20. Negara yang sekaligus membawa misi ekspansi dalam segala aspek kehidupan dengan melibatkan imigran Yahudi dari 102 negara di dunia dengan latar kebangsaan yang sangat heterogen.

Sehari sesudahnya terjadi peristiwa yang kemudian disebut sebagai Nakbah.[3] Hari Nakbah (يوم النكبة‎ )—yang berarti “hari kehancuran” atau “hari bencana” atau “hari malapetaka” — adalah hari peringatan tahunan untuk pengusiran bangsa Palestina yang mendorong terbentuknya Negara Israel pada tahun 1948.[4] Peristiwa tersebut terjadi ketika lebih dari 700 ribu warga Arab meninggalkan Palestina secara terpaksa maupun sukarela dari tanah dan rumah mereka akibat Perang Arab-Israel 1948.[5] Istilah “nakbah” juga dinisbatkan pada periode perang itu sendiri dan kejadian-kejadian yang menimpa warga Palestina dari bulan Desember 1947 hingga Januari 1949.

(Baca juga:  Sejarah Umat Kristen di Yerusalem Dalam Naungan Daulah Utsmaniyah)

Di Palestina, peringatan Hari Nakbah diadakan pada tanggal 15 Mei, satu hari setelah tanggal Masehi untuk Hari Kemerdekaan Negara Israel. Karena adanya perbedaan antara kalender Ibrani dan Gregorian, Hari Kemerdekaan dan tanggal resmi 15 Mei untuk Hari Nakbah biasanya bertabrakan setiap 19 tahun.

Pada Perang Dunia II (1939-1945) Hitler berhasil menguasai beberapa kota besar Rusia. Akan tetapi, penentu kemenangan adalah ibu kota. Akhirnya pasukan Nazi berhasil dihalau dan dikalahkan di kota Stalingrad, dekat Moskow. Kenyataan ini semakin memotivasi para pendiri Negara Israel untuk menyerang Sinai dan merebut Al-Quds sekitar 20 tahunan sejak deklarasi berdirinya negara mereka.

Dalam sejarahnya, umat Islam dan Arab telah berkali-kali berhasil membebaskan kota Al-Quds. Pada era modern ini peran umat Islam dan Arab kembali ditunggu untuk membebaskan Palestina pada umumnya dari belenggu penjajahan Zionis-Yahudi.

 

[1] Abu Jamus, Ridwan, 2013, Al-Istithan ash-Shahyuni, al-Fikr wa al-Mumarasat, Quds.net.

[2] Aric, 2009,Asralat al-Quds, Ma’had al-Abhast al-Tathbiqiyah.

[3] Di dalam Kamus Indonesia-Arab, Arab-Indonesia yang disusun oleh K.H. Adib Bisri dan K.H. Munawwir A. Fatah, Penerbit Pustaka Progresif, Surabaya, Cetakan I, 1999, hlm. 736, nakbah diartikan dengan musibah, bencana, atau malapetaka.

[4] David W. Lesch, Benjamin Frankel (2004). History in Dispute: The Middle East since 1945 (Illustrated ed.). St. James Press. p. 102.

[5] McDowall, David; Claire Palley (1987). The Palestinians. Minority Rights Group Report no 24. p. 10.