Dahsyatnya Perang Narasi Pertama, Musa VS Fir’aun

Wahai Firaun! Sungguh, aku adalah utusan dari Tuhan seluruh alam” (QS. Al-A’raf: 104) tegas Nabi Musa di hadapan Firaun. Ungkapan ini ibarat petir yang mengejutkan sekaligus memekakkan telinga Firaun.

 

Ia terkesima. Hatinya serta merta bergetar. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyusup dalam jiwanya. Barangkali, inilah kali pertama ia mendengar seseorang mendengarkan kalimat itu kepadanya. Apalagi orang tersebut adalah Musa, sosok yang cukup ia kenal.

Padahal narasi yang selama ini ia propagandakan—dan sejauh itu berhasil—Ana Rabbukumul A’la (QS. Annaziat: 24), sayalah Tuhanmu yang paling tinggi. Narasi yang mampu membelenggu ide rakyatnya setelah keberhasilannya membelenggu raga mereka.

Ana Rabbukumul A’la adalah satu-satunya ideologi kerajaan yang sah, ideologi harga mati.

Mereka boleh saja memiliki Tuhan selainnya, namun Tuhan tertinggi adalah dirinya. Oleh itu, siapa saja yang mendeklarasikan bahwa ada Tuhan yang lebih tinggi darinya, otomatis telah melakukan pelanggaran berat dan akan dijatuhi hukuman yang juga berat. Para tukang yang sihir yang beriman kepada Nabi Musa adalah di antara contoh yang paling terkenal.

(Baca juga:  Membangun Tirani: Bagaimana Para Penguasa Menggunakan Isu Terorisme untuk Melanggengkan Kekuasaan)

Tentu saja Nabi Musa sadar sepenuhnya bahwa apa yang baru ia ucapkan merupakan sebuah pemberontakan kepada Firaun, pembesar-pembesarnya, kerajaannya, dan kekuasaannya.

Karena baik Nabi Musa dan Firaun sama-sama tahu bahwa maksud dari Tuhan semesta alam, Rabbul ‘Alamin, yaitu membatalkan semua undang-undang semua pemerintahan yang berusaha memaksakannya kepada manusia tanpa mau menggunakan syariat Allah dan perintahnya. Selain juga untuk menjauhkan perbuatan pernghambaan kepada sesama manusia, dan untuk mengembalikan manusia untuk hanya menghambakan diri kepada Tuhan penciptanya dan tunduk pada syariat dan perintah-Nya.

Lebih dari itu, Nabi Musa langsung mengatakan, “Wahai Firaun!” bukan “Wahai Raja!” sebagaimana yang diucapkan oleh orang-orang pada umumnya. Nabi Musa langsung memanggilnya dengan menyebut gelarnya, dan dilakukannya dengan sopan namun penuh percaya diri lagi tegas.

Menanti Firaun bangkit dari keterkejutannya, Nabi Musa lalu melanjutkan dengan penuh percaya diri, “Aku wajib tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang hak …” (QS. Al-A’raf: 105). Kemudian untuk meyakinkan Firaun bahwa ia adalah betul-betul utusan Allah, Nabi Musa dengan tegas mengatakan, “Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu …” (QS. Al-A’raf: 105). Yaitu suatu bukti yang menunjukkan kepada Firaun atas kebenaran perkataannya bahwa “Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan semesta alam.”

(Baca juga:  Jihad Wali Songo untuk Menegakkan Islam di Jawa (bag. 1))

Atas nama hakikat yang besar nan agung tersebut; hakikat bahwa ia adalah benar-benar utusan Tuhan yang paling berkuasa di semesta alam, maka Nabi Musa pun meminta kepada Firaun supaya melepaskan Bani Israil pergi bersamanya, “Lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku” (QS. Al-A’raf: 105). Suatu permintaan yang merupakan misi kedua diutusnya ia oleh Allah setelah mendakwahi Firaun untuk beriman kepada Allah.

 

Baca halaman selanjutnya: Firaun Mengungkit Jasanya, Nabi Musa Mengkomparasikannya Dengan Kejahatan Fir’aun

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *