Saudi Tangkap Dr. Safar Al-Hawali Setelah Mengkritik Kerajaan dalam Bukunya

Ulama, juru dakwah, dan mantan Ketua Jurusan Akidah dan Madzhab-Madzhab Kontemporer Universitas Ummul Qura Makkah, Syaikh Dr. Safar bin Abdurrahman Al-Hawali (68), kembali ditangkap oleh rezim Arab Saudi untuk ketiga kalinya pada Kamis, 12 Juli 2018 M lalu.  Dikabarkan bahwa beliau ditangkap bersama putra beliau, Ibrahim.

 

Penangkapan Syekh Safar Al-Hawali telah dikonfirmasi beberapa sumber-sumber yang dekat dengan beliau. Demikian dilansir dari Aljazeera.net. Penangkapan Syekh Al-Hawali juga dilaporkan kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di London, ALQST. Aktivis ALQST, Yahya Assiri, kepada Reuters, Jumat (13/7/2018), mengatakan bahwa beliau ditangkap hari Rabu lalu setelah menerbitkan sebuah buku yang mengkritik pihak Kerajaan Arab Saudi.

Selain itu, akun Twitter yang kerap mengabarkan penangkapan aktivis dan ulama di Saudi, @m3takl (12/7),[1] menguatkan konfirmasi atas kabar penangkapan Syekh Al-Hawali. Penangkapan tersebut disertai penyitaan alat komunikasi keluarga. Akun tersebut juga berbicara tentang menurunnya kesehatan beliau. Disebutkan bahwa Syekh Al-Hawali menderita penyakit di panggul dan stroke.

(Baca juga: Pernyataan Resmi IIA Menanggapi Hasil KTT di Arab Saudi)

Kemudian Akun tersebut merinci bahwa pihak berwenang juga menangkap putra Syekh Al-Hawali yang lain, yaitu Abdullah dan Abdurrahman, saat menghadiri acara pernikahan di daerah Baha (di selatan). Kemudian menegaskan susulan kabar penangkapan saudara beliau, Sa’dullah Al-Hawali, dan putra beliau yang tinggal di Makkah, Abdurrahim.

Pihak berwenang Riyadh belum menanggapi permintaan komentar yang diajukan wartawan. Riyadh selama ini mengklaim tidak memiliki tahanan politik. Namun, para pejabat senior mengklaim, pemantauan terhadap aktivis diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial di negara tersebut.

Syekh Al-Hawali menjadi ulama yang terkenal 25 tahun yang lalu sebagai pemimpin kelompok “Shahwah”. Kelompok itu tampil setelah ulama dan rakyat gelisah dengan westernisasi dan penempatan kekuatan militer asing di Arab Saudi. Beliau dikenal lewat nasihat dan kritiknya kepada pihak kerajaan karena korupsi, liberalisasi sosial, dan bekerja untuk Barat.

(Baca juga: Menhan Amerika Berterimakasih Atas Peran Saudi Soal Afghanistan)

Syekh Al-Hawali pernah dipenjara terkait tindakan keras otoritas Saudi terhadap kelompok Islamis pada 1990-an. Namun, beliau dibebaskan kemudian. Setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003, beliau mendukung kelompok pejuang anti-AS. Namun, beliau juga mengecam serangan militan terhadap orang-orang Barat di Arab Saudi.

Penangkapan kembali Syaikh Safar Al-Hawali erat kaitannya dengan “kritikan-kritikan” beliau kepada kebijakan rezim Arab Saudi yang sangat pro-Amerika Serikat. Rezim Arab Saudi berang atas kritikan-kritikan terbaru beliau, yang dituangkan dalam sebuah buku setebal 3059 halaman. Buku yang mengguncang rezim Arab Saudi tersebut berjudul “Al-Muslimun wa Al-Hadharah Al-Gharbiyah” (Kaum Muslimin dan Peradaban Barat).

Penangkapan kembali Syaikh Safar Al-Hawali erat kaitannya dengan “kritikan-kritikan” beliau kepada kebijakan rezim Arab Saudi yang sangat pro-Amerika Serikat.

Dalam buku tebal tersebut, Syaikh Safar Al-Hawali mengungkapkan bukti-bukti kebijakan rezim Arab Saudi yang sangat pro-Amerika dan merugikan kaum muslimin. Beliau juga memaparkan kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika yang penuh kezaliman terhadap kaum muslimin di berbagai penjuru dunia.

Sebagai seorang ulama dan juru dakwah, berbagai tindak kezaliman dan kemungkaran yang luar biasa besar tersebut tentu tidak bisa didiamkan begitu saja. Ulama dan juru dakwah tidak boleh menutup mata, pura-pura tidak melihat dan mendengar, segala kemungkaran dan kezaliman yang terjadi di depan mata mereka. Mereka harus meneladani sikap para nabi, rasul, dan ulama salaf yang bekerja tanpa kenal lelah dalam mengupayaan kebaikan dan perbaikan.

Siapa Sejatinya Safar Al-Hawali?

Dr. Safar Al-Hawali. Nama lengkapnya Safar bin Abdurrahman Al-Hawali. Lahir di wilayah Al-Bahah, selatan kota Tha‘if, Kerajaan Arab Saudi, pada tahun 1370 H (1950 M). Beliau tinggal di tengah-tengah kabilah Bani Ghamid. Belajar kepada salah seorang pemuka yang dianggap pintar di tingkat Ibtidaiyah (Sekolah Dasar).

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, penulis melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah hingga berhasil lulus dengan meraih gelar Bachelor (S-1/Lc.). Kemudian meneruskan studi S-2 di Universitas Ummul Qura, Makkah, dan berhasil meraih gelar Magister (M.A.) dengan predikat Mumtaz-Asyaraful Ula lewat tesis yang berjudul Al-‘Almaniyyah (‘Sekularisme’).

Terakhir, beliau berhasil meraih titel doktor (Dr.) di bidang Akidah pada tahun 1406 H (1986 M) dari universitas yang sama, juga dengan predikat summa cum laude lewat desertasi berjudul Zhahiratul Irja’i fil Fikril Islami (‘Fenomena Murjiah dalam Pemikiran Islami). Desertasi beliau ini cukup mencengangkan dewan penguji dan para pengajar beliau hingga akhirnya pihak Universitas Ummul Qura menerbitkannya dalam dua jilid buku tebal.

(Baca juga: Saudi Minta Taliban Akui Pemerintah Afghanistan Bentukan AS)

Setelah meraih gelar doktor, beliau menjadi staf pengajar di Jurusan Akidah Universitas Ummul Qura, hingga kemudian dilantik sebagai Ketua Jurusan Akidah. Penulis dikenal sebagai seorang yang memiliki akhlak yang luhur, lapang dada, dan tawadhu‘.

Sekitar lima tahun sebelum Perang Teluk I, beliau biasa menyampaikan pelajaran kepada sejumlah murid beliau di masjid yang berada di dekat gedung Universitas Raja Abdul Aziz, Jeddah. Pelajaran diberikan setiap pekan, yaitu selepas shalat Ashar pada hari Ahad, yang merupakan waktu berkumpulnya para pemuda.

Garis besar perjalanan hidup beliau diwarnai dengan aktivitas untuk menyuarakan kebenaran, tanpa tinggal diam. Beliau mendapatkan ujian yang cukup berat-sebagaimana Para ulama Jazirah Arab lainnya-berkenaan dengan kehadiran kekuatan militer Amerika setelah peperangan di Kuwait.

Beliau memfatwakan tentang haramnya mendatangkan/meminta bantuan Tentara Amerika dalam Perang Teluk, dan membantah pendapat ulama “resmi” yang membolehkannya, setinggi apapun kedudukan mereka. Secara pribadi beliau menulis buku Wa ‘du Kissinger, yang merupakan surat terbuka kepada para ulama dan umat tentang bahaya kehadiran Tentara Amerika Serikat di Jazirah Arab.

Penguasa Arab Saudi rupanya tidak tinggal diam melihat sepak terjang “perlawanan ilmiah” Syaikh bersama dengan para ulama dan dai yang satu barisan dengan beliau-seperti Dr. Salman Al-Audah dan Dr. Nashir Al-Umar.  Beliau pun “diciduk” dan kemudian dipenjara, tepatnya pada tanggal 11 Rabiuts Tsani 1415 H (1994 M.). Beliau mendekam di penjara selama kurang lebih lima tahun dan baru dibebaskan pada tahun 1999 M. Gerakan yang dipelopori oleh ketiga ulama di atas dikenal sebagai gerakan “Ishlah” (Perbaikan) dan para ulama tersebut juga dikenal sebagai ulama “Shahwah” (Kebangkitan).

Kelompok Shahwah telah dilemahkan oleh tindakan represi dan kooptasi, namun masih aktif. Pemerintah Arab Saudi tampaknya masih menganggap kelompok Islamis sebagai ancaman internal yang serius bagi kekuasaannya di negara tersebut. Pemerintah Saudi melancarkan “perang” terhadap mereka dengan melakukan pencekalan dengan delik penerangan, keamanan, atau selainnya.

Di bawah ini adalah judul buku-buku karangan beliau:

  1. Al-‘Ilmaniyyah
  2. Al-Qaumiyyah
  3. Al-Imanu wa Nawaqidhuhu
  4. Zhahiratul Irja’ fil Fikril Islami
  5. Manhajul ‘Asya’irati fil ‘Aqidah
  6. Wasathiyyatu Ahlis Sunnah wal Jama‘ah: Ar-Raddu ‘alal Khurafiyyin (Al-Maliki)
  7. Kasyful Ghummah ‘an ‘Ulama’il Ummah
  8. Wa‘d Kissinger
  9. Syarh Risalah Tahkim Al-Qawanin
  10. Mujaddid Millah ‘Amr bin Luhai wa Da‘iyyah Asy-Syirk fi Hadza Az-Zaman
  11. Al-Quds bainal Wa‘d Al-Haqqi wa Wa‘d Al-Muftara
  12. Yaumul Ghadhab: Hal Bada’a bi Intifadhati Rajab
  13. Al-Intifadhah wat Tatar Al-Jadid
  14. Malhamah Asy-Syam
  15. Muqaddimah fi Tathawwur Al-Fikri Al-Gharbi wa Al-Hadatsah
  16. Al-Muslimuna wa Dirasatul Mustaqbal
  17. Bayan lil Ummah ‘anil Ahdats wa Khuthab ilar Ra’is Al-Amriki Bush
  18. Risalah min Makkah: ‘An Ayyi Syai’ Nudafi‘

Dan masih banyak lagi pelajaran beliau yang dituangkan dalam berbagai muhadharah dan kaset-kaset rekaman. Demikian yang ditulis oleh Mahmud Ar-Rifa’i di dalam buku Masyru’ Al-Ishlah fi As-Su‘udiyyah: Qishshah Safar Al-Hawali wa Salman Al-‘Audah.

 

Baca halaman selanjutnya: Buku Terbaru: Al-Muslimun wa Al-Hadharah Al-Gharbiyyah

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *