Amerika Menang di Afghanistan Itu Hanya Pencitraan

 

Pembunuhan green on blue (oleh personel keamanan Afghanistan) pada seorang tentara Amerika hanyalah salah satu indikasi terbaru bahwa perang ini telah gagal.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengunjungi Afghanistan awal pekan ini (10/7) dan menyatakan bahwa strategi AS di sana “memang bekerja.” Sayangnya, bukti keberhasilan dalam perang terpanjang Amerika sulit ditemukan. Pada hari Sabtu (7/7), tepat sebelum sekretaris membuat pernyataan penuh harap, seorang tentara Afghanistan membunuh Kopral Joseph Maciel dari Gerbang Selatan, California. Pendekatan administrasi tidak “bekerja” untuknya.

Setelah serangan 9/11, AS menargetkan al-Qaeda dan pemerintah Taliban di Afghanistan. Keduanya dengan cepat, bisa dikatakan kalah. Artinya ancaman terhadap Amerika sudah tidak ada atau berkurang.

Hari ini, al-Qaeda menjadi inspirasi bagi kelompok-kelompok lokal, seperti al-Qaeda di Jazirah Arab, yang saat ini menjadi target di Yaman oleh kampanye pemboman besar AS. Osama bin Laden mendapatkan perlindungan di Pakistan, di mana pasukan Amerika akhirnya menemukannya. Pada tahun 2001 tidak ada IS, namun hari ini IS terlibat dalam banyak serangan berdarah di Afghanistan.

Taliban terus berjuang untuk mendapatkan kekuasaan, tapi kekuatannya berkurang setelah serangan Barat. Apa yang tersisa dari al-Qaeda tidak akan mendapatkan apa-apa dari kemenangan Taliban, karena al-Qaeda dapat beroperasi dari mana saja di seluruh dunia.

Singkatnya, Washington dapat mengklaim “misi selesai” dan membawa personilnya pulang beberapa tahun yang lalu. Tetapi sekarang situasinya berubah semakin kompleks dengan kesalahan sebelumnya harus dibayar mahal sekarang.

Dalam perang yang berlangsung hampir 17 tahun, 2.400 tentara AS tewas dan 3.500 kontraktor militer AS tewas, serta hampir satu triliun dolar ludes, pasukan AS tetap berada di markas militer di Asia Tengah. Donald Trump telah menaikkan jumlah kekuatan, memperluas operasi rahasia CIA, dan meningkatkan serangan udara. Secara keseluruhan, Washington akan menghabiskan $ 45 miliar di Afghanistan tahun ini.

Meskipun selalu berulang klaim kemajuan dan janji perbaikan, pemerintahan Kabul tampaknya sedikit sekali perkembangannya untuk siap mandiri. Ketika saya mengunjungi Afghanistan sebagai bagian dari delegasi NATO beberapa tahun yang lalu, komentar-komentar pribadi, off-the-record dari personil militer sekutu, kontraktor sipil, dan orang-orang Afghanistan selalu merasa pesimistis.

Pemerintah ada dalam krisis permanen. Produksi opium tahun lalu mencapai yang tertinggi. Jumlah pejuang Taliban diperkirakan meningkat tiga kali lipat sejak 2014 menjadi 60.000, dan aktif di seluruh negeri, bahkan melancarkan serangan dengan peralatan penglihatan malam. Kabul tidak aman, AS seringkali terpaksa mengangkut personelnya ke bandara dengan helikopter.

Pemerintah AS selalu mengklaim optimis tentang masa depan Afganistan, sentimen yang secara sengaja membutakan atau menipu. Kehadiran Washington yang terus berlanjut tidak bisa membawa kemenangan dan juga tidak kalah. Presiden terpilih selalu berusaha menunda penarikan militer Amerika yang tak terhindarkan dan konsekuensi jatuhnya pemerintahan Kabul bila itu dilakukan.

Dengan ditinggal AS mungkin saja negara itu menunjukkan ketahanan yang lebih dari yang diharapkan -penarikan pasukan Soviet tidak segera mengakhiri pemerintahan Presiden Mohammad Najibullah. Namun, tanpa pasukan AS, Afghanistan hari ini kemungkinan akan terpecah dan kembali ke kondisi alamnya, sebuah pemerintahan di tingkat desa dan lembah. Negosiasi mungkin menciptakan pemerintahan formal nasional untuk menduduki sebuah kursi di PBB, tetapi demokrasi yang stabil, liberal, dan bergaya Westminster yang bersekutu dengan Barat adalah sebuah fantasi.

Uang yang begitu banyak telah disia-siakan dalam upaya gila ini untuk mempromosikan demokrasi di Asia Tengah. Lebih buruk lagi, personil militer AS, kontraktor militer, dan staf sipil telah mati untuk alasan kecil, hanya untuk melindungi reputasi dan ambisi presiden yang berkuasa berturut-turut. Ini adalah skandal penyalahgunaan militer Amerika.

Kenapa semua ini dilakukan AS? Hingga tahun 2001, Washington memiliki sedikit minat atau pengaruh di Afghanistan. Mengapa Asia Tengah dianggap penting hari ini bagi AS?

Alasan terorisme tetap menjadi alasan favorit. Komandan AS yang baru-baru ini dilantik, Jenderal Austin, “Scott” Miller berpendapat: “Ini adalah tentang melindungi warga AS.” Pendahulunya, Jenderal John Nicholson berkata: “Kita tetap menekan mereka di sini, atau mereka membawa perlawanan ke depan rumah kita.”Senator Lindsey Graham berpendapat bahwa “Terakhir kali kami mengabaikan Afghanistan, kami mendapat serangan 9/11. ”

Namun realitanya Afghanistan tidak relevan dengan teroris. Masalah Bin Laden tidak terkait dengan Afghanistan. Setelah AS menyerbu, dia pindah ke Pakistan. Serangan 11 September terutama direncanakan oleh Khalid Sheikh Muhammed, yang hidup dan berperang di Kuwait, Bosnia, Qatar, dan Pakistan — di mana ia ditangkap. (Bahkan, dia sempat menolak permintaan bin Laden untuk pindah ke Afghanistan.)

Bahkan ketika 140.000 tentara sekutu menduduki Afghanistan, sebagian besar wilayah negara itu berada di luar kendali Washington atau Kabul. Jika Taliban memegang kendali, tidak akan mungkin untuk mengundang kembali gerakan yang kegiatannya memicu pendongkelannya (oleh agresi AS) hampir dua dekade lalu. Taliban tidak akan tunduk pada aturan New World sesuai kemauan Barat: Taliban ingin mengatur dan memerintah wilayah yang telah diperjuangkannya selama bertahun-tahun.

Menteri Pertahanan Jim Mattis berpendapat bahwa pemerintah berharap untuk “memperkuat pasukan keamanan Afghanistan untuk meyakinkan para ‘pemberontak’ bahwa mereka tidak dapat menang di medan perang, dan mendorong mereka untuk memilih rekonsiliasi.” Sayangnya, setelah hampir 17 tahun, orang-orang Afghanistan tidak tampak lebih yakin dan menghentikan pemberontakan. Mattis mengatakan, “Kami tidak di sana untuk tinggal selamanya,” tetapi jelas terlihat seperti itu. Pentagon akan segera mengirim mereka yang lahir setelah 9/11 ke Afghanistan.

AS ingin untuk mengalahkan Taliban dan mendirikan sebuah republik liberal. Tapi itu lebih merupakan preferensi daripada interes, dan tentu saja tidak menambah nilai hidup dan uang Amerika. Jika lebih dari 110.000 tentara AS dan 30.000 pasukan sekutu tidak dapat mencapai kemenangan pada tahun 2011, maka sekitar 15.000 personil AS dan 7.000 tentara sekutu tidak akan menang pula hari ini.

Beberapa analis ingin menstabilkan Pakistan. Tetapi cara terbaik untuk melakukannya adalah mengakhiri perang. Apa pun kenyamanan memiliki beberapa lapangan udara di Asia Tengah, harga yang harus dibayar dengan darah dan dolar terlalu tinggi.

Mereka yang mempelajari peperangan dengan seksama tidak banyak bicara tentang hal itu. Sebuah survei BBC pada bulan Januari menunjukkan bahwa Taliban menguasai sepenuhnya 4 persen wilayah negara namun aktif di 66 persen lainnya di wilayah Afghanistan. Setengah dari populasi tinggal di daerah di mana serangan Taliban adalah suatu hal biasa. Para pemberontak (taliban) telah “mendorong benteng perlawanan tradisional mereka di selatan ke bagian timur barat dan utara negara itu.”

Inspektur Jenderal Khusus untuk Afghanistan (SIGAR) John F. Spoko baru-baru ini mengatakan kepada Senat bahwa stafnya “terus mendokumentasikan sejumlah besar sampah, penipuan, dan penyalahgunaan yang mengganggu” dari bantuan AS. Contoh-contoh yang dia sebutkan banyak. Uang $ 126 miliar dialokasikan secara riil, lebih dari Marshall Plan untuk Eropa setelah Perang Dunia II ($ 750 milyar lainnya telah digunakan untuk operasi tempur.)

Dalam laporan kuartalan terbaru pada bulan April, SIGAR mencatat kondisi keamanan “sangat tidak stabil”, dengan “insiden keamanan” paling banyak terjadi tahun lalu. Pemerintah Afghanistan sedikit meningkatkan porsi penduduk yang dikendalikannya selama kuartal pertama, tetapi tetap di bawah kuartal yang sama pada tahun 2017. Ada sedikit peningkatan dalam jumlah distrik di bawah kendali pemerintah, tetapi jumlah di bawah kontrol Taliban juga berkembang. Hasilnya tetap “level terendah kedua, dan pemberontakan pada level tertinggi, sejak SIGAR mulai menerima data kontrol distrik pada November 2015.”

Tentang program stabilisasi Washington, analisis SIGAR baru-baru ini menyimpulkan: “Pemerintah AS sangat melebih-lebihkan kemampuannya untuk membangun dan mereformasi institusi pemerintah di Afghanistan.” Bahkan, SIGAR menemukan “strategi stabilisasi dan program yang digunakan untuk mencapainya tidak disesuaikan secara tepat dengan kondisi Afghanistan. Keberhasilan dalam menstabilkan distrik Afghanistan jarang berlangsung lama, tapi hanya kehadiran fisik pasukan koalisi dan warga sipil.” Bahkan yang lebih mengejutkan: “Sejumlah besar dolar AS yang dikucurkan ke Afghanistan untuk stabilisasi sering memperburuk konflik, memungkinkan korupsi , dan memberi dukungan untuk para pemberontak.” Secara keseluruhan “program ini sebagian besar gagal.”

Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan menerbitkan laporan kuartalan terbaru pada bulan Mei 2018. Kesimpulannya: “metrik yang tersedia menunjukkan sedikit sekali tanda-tanda kemajuan.” Secara keseluruhan, DOD mengutip perkiraan PBB bahwa “korban sipil berada pada rekor tertinggi, dan para pejabat intelijen AS memperkirakan bahwa situasi keamanan dan ekonomi secara keseluruhan di Afghanistan akan memburuk tahun ini.”

Bagaimana AS sudah hampir 17 tahun berperang tetapi gagal mencapai tujuan?

Kesalahannya bukan terletak pada mereka yang dikirim ke pertempuran tetapi pembuat kebijakan yang mengharapkan personil Amerika dan sekutu untuk membuat Afghanistan sesuai citra Barat. Misi ini selalu merupakan tugas orang bodoh, yang dilakukan dengan sangat mahal.

Presiden tahu apa yang harus dilakukan. Ketika menjadi kandidat Presiden dulu dia mengatakan: “Kita membuat kesalahan besar untuk terlibat di sana.” Sebelum mengumumkan untuk menjadi presiden, dia pernah mengatakan: “Mari kita keluar dari Afghanistan.”

 

Diterjemahkan dari tulisan Doug Bandow, ia adalah penulis, anggota senior di Cato Institute dan editor TAC. Seorang mantan asisten khusus untuk Presiden Ronald Reagan,

Sumber:   theamericanconservative