Jawaban Taliban Atas Pencitraan Militer Amerika

Taliban kembali mengambil alih pusat distrik Omna dan Gayan di provinsi timur Paktika pada Selasa (24/7) setelah beberapa hari melakukan pertempuran sengit. Pengambilalihan Taliban di dua distrik terjadi ketika hanya beberapa saat setelah jenderal AS meyakinkan publik bahwa kemampuan militer Afghanistan meningkat menjadi lebih baik.

“Setelah hampir dua hari pertempuran sengit, Taliban merebut kedua pusat distrik,” seorang anggota dewan provinsi Paktika mengatakan kepada Reuters. Setidaknya tiga personel keamanan Afghanistan tewas, kata anggota dewan itu.

Taliban menegaskan bahwa mereka menguasai Gayan. Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di situs resminya, Voice of Jihad. Taliban mengatakan bahwa mereka memblokade bantuan militer rezim yang akan memasuki kota selama lima hari yangbberakibat personil militer Afghanistan melarikan diri karena kurangnya bantuan.

“Dengan melarikan diri dari musuh, distrik tersebut benar-benar berada di bawah kendali Mujahidin karena semua daerah lain di distrik itu sudah diambil alih oleh Mujahidin,” kata Taliban.

Distrik Omna dan Gayan telah diperebutkan selama setahun terakhir. Omna berpindah tangan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan beberapa kali pada tahun 2017. Taliban menyerang Gayan pada September 2017 tetapi kehilangan kendali pusat distrik tak lama kemudian. Taliban menguasai sebagian besar wilayah di luar kedua pusat distrik.

Provinsi Paktika tetap diperebutkan. Dari 19 distrik, tiga dikuasai oleh Taliban, empat oleh pemerintah Afghanistan, dan 12 sisanya diperebutkan, menurut penelitian yang sedang berlangsung oleh Long War Journal FDD .

Hilangnya Gayan dan Omna terjadi hanya empat hari setelah Mayor Jenderal Angkatan Darat AS Andrew Poppas, wakil kepala staf Dukungan Resolute untuk operasi, memuji kehebatan militer Afghanistan sejak gencatan senjata sepihak pemerintah berakhir lebih dari tiga minggu lalu.

Setelah mengatakan bahwa sebanyak 1.700 anggota Taliban tewas dan terluka selama periode tiga minggu, Poppas mengatakan militer Afghanistan sedang berperang melawan Taliban. (lihat: Amerika Menang di Afghanistan Itu Hanya Pencitraan)

“Hasil yang terlihat di medan perang sudah jelas, ANDSF [Pertahanan Nasional dan Pasukan Keamanan Afghanistan semakin mahir dan mematikan,” kata Poppas. “Mereka melakukan perlawanan ke musuh dan terus menyingkirkan semua yang menentang mereka di setiap kesempatan.”

Namun, pasukan keamanan Afghanistan, yang lebih banyak, lebih bersenjata, dan mendapat dukungan militer Amerika Serikat, tidak mampu melawan pasukan Taliban menyerang distrik Omna dan Gayan.

Para pejabat AS telah secara konsisten menyesatkan publik Amerika tentang situasi di lapangan Afghanistan. Misalnya, pada pertengahan Mei, Juru Bicara Pentagon Dana White menggambarkan Taliban “putus asa” dan hanya mencapai “target lunak” selama operasinya. White juga mengatakan bahwa “Taliban tidak memiliki inisiatif,” meskipun fakta bahwa Taliban sedang dalam proses menduduki beberapa distrik dan pangkalan militer, dan bahkan menguasai bagian-bagian Kota Farah, selama jangka waktu tersebut. [Lihat: Pesan Taliban Kepada Komandan Tertinggi AS: Jujurlah pada Rakyat Amerika)

Poppas dan White tidak sendirian dalam meremehkan operasi ofensif Taliban dan kelemahan pasukan keamanan Afghanistan. Baru kemarin, Jenderal Joseph Votel, komandan Komando Sentral AS, mengatakan kepada wartawan bahwa ada alasan untuk optimisme dan bukti bahwa strategi kami di Asia Selatan berhasil dan operasi militer mendorong Taliban untuk bernegosiasi. Yang benar adalah Taliban secara konsisten menyatakan tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan, yang dianggapnya tidak sah dan tidak Islami.

 

Sumber: longwarjournal