Pertarungan Musa Melawan Ahli Sihir: Hari Kemenangan Iman Atas Makar Fir’aun

 

Artikel berikut merupakan bagian serial dari pertarungan Nabu Musa melawan Fir’aun yang merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya, Dahsyatnya Perang Narasi Pertama, Musa VS Fir’aun.

 

Pagi itu, suasana ibukota kerajaan Firaun terlihat istimewa dibanding hari-hari lain. Hampir seluruh penduduknya keluar rumah. Mereka yang terdiri dari berbagai usia: anak-anak, pemuda, orang tua, laki-lak dan perempuan, semuanya berjalan berbondong-bondong menuju alun-alun. Tidak ada yang tertinggal di rumah kecuali orang-orang sakit atau tua renta yang sudah lemah.

Hari itu adalah hari raya bagi penduduk Mesir. Seluruh negara diliburkan. Tidak ada satu pun instansi; baik kerajaan atau milik swasta yang masuk kerja pada hari itu. Oleh itu, penduduk Mesir kompak mengenakan pakaian terbaik dan serba indah yang mereka miliki.

(Baca juga:  Spirit Shalahuddin dan Ketidakberdayaan Umat)

Al-Quran menyebutnya dengan ‘Yaum Az-Ziinah’ (Hari Berhias/Hari Raya). Mereka tidak akan melewatkan begitu saja hari yang penuh bahagia tersebut. Apalagi jauh sebelumnya, raja mereka, Firaun, mengumumkan bahwa pada hari ini akan diadakan pertandingan sihir spektakuler antara ahli sihir kerajaan dengan Musa, serta meminta mereka semua untuk hadir menyaksikannya.

Apalagi jauh sebelumnya, raja mereka, Firaun, mengumumkan bahwa pada hari ini akan diadakan pertandingan sihir spektakuler antara ahli sihir kerajaan dengan Musa, serta meminta mereka semua untuk hadir menyaksikannya.

Di alun-alun, lokasi diadakannya pertandingan sihir, tampak sebuah panggung telah berdiri termasuk sebuah tribun berukuran besar untuk Firaun dan para pembesarnya. Penduduk Mesir juga terlihat memenuhinya. Suara riuh rendah mendominasi tempat tersebut.

Sementara itu, tepat di panggung pertandingan telah berdiri saling berhadapan antara dua kelompok. Nabi Musa dan Nabi Harun di satu sisi, berhadapan dengan para ahli sihir yang jumlahnya sangat tidak berimbang. Bahkan Ibnu Ishak meriwayatkan perkataan Wahhab bin Munabbih, “Tidak ada satu pun tukang sihir yang ada di negeri itu yang tidak datang pada hari itu.” Ada yang berpendapat bahwa Firaun berhasil mengumpulkan 15. 000 tukang sihir.

(Baca juga:  Hanya Tiran yang Ingin Menyingkirkan Syariat Islam)

 

Memainkan Kembali Narasi Keamanan dan Ideologi

Sebelum memasuki kancah pertarungan, Nabi Musa kembali berusaha untuk menyampaikan dakwah (narasi)nya kepada mereka. Juga mengingatkan mereka tentang dampak yang akan terjadi akibat dusta dan kebohongan mereka atas nama Allah.

Nabi Musa berharap mereka akan kembali kepada hidayah dan meninggalkan tantangan mereka dalam bentuk sihir, karena sihir itu adalah kebohongan. “Celakalah kamu! Janganlah kamu mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab” [Thaha: 61] seru Nabi Musa kepada para ahli sihir dengan nada tegas dan berwibawa.

Narasi Musa tersebut menyentuh sebagian hati yang menerimanya. Sebagian ahli sihir tersentuh dengan kalimat ikhlas yang meluncur, tetapi mereka ngotot untuk meneruskan pertandingan sambil berbantah-bantahan di antara mereka dengan cara berbisik, takut didengar oleh Musa. “Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka)” [Thaha: 62].

(Baca juga:  Membangun Tirani: Bagaimana Para Penguasa Menggunakan Isu Terorisme untuk Melanggengkan Kekuasaan)

Para ahli sihir saling memberikan spirit dan memompa semangat orang-orang yang ragu-ragu. Mereka kembali mengulangi narasi bahwa Musa dan Harun adalah orang yang ingin menguasai Mesir (isu keamanan) dan mengubah akidah (ideologi) penduduknya yang mereka anggap sudah final (baca di artikel sebelumnya: Dahsyatnya Perang Narasi Pertama, Musa VS Fir’aun)

Ideologi yang tidak menerima diskusi dan kritik dalam bentuk apa pun. “Mereka (para penyihir) berkata, ‘Sesungguhnya dua orang ini adalah penyihir yang hendak mengusirmu (Firaun) dari negerimu dengan sihir mereka berdua, hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang paling utama” [Thaha: 63].

Karenanya, Musa dan Harun harus dihadapi dengan kompak, tanpa ragu-ragu, dan tidak boleh berbantah-bantahan. Hari  ini adalah hari pertarungan yang menentukan, dan yang keluar sebagai pemenang maka merekalah yang akan menuai kesuksesan,

Dari sini tampak bahwa keyakinan terhadap diri dan kemampuan yang mereka miliki menjadi goyang; termasuk juga ideologi dan fikrah mereka. Untuk itu, mereka membutuhkan agitasi dan motivasi. Musa dan Harun hanya berdua, dan para ahli sihir jumlahnya banyak. Di belakang mereka adalah Firaun dan kekuasaannya, para prajuritnya dan segala kekuasaannya, dan juga hartanya.

Selain itu, para ahli sihi mengatakan bahwa mereka (Musa dan Harun) akan menyingkirkan, menghapus, dan melenyapkan adat kebiasaan kalian yang paling utama (thariqatikumul mutsla). Secara bahasa thariqatikum  berarti jalan hidup kalian, lifestyle kalian. Sedangkan mutsla berarti paling utama atau contoh dan nilai terbaik. Jadi thariqatikumul mutsla artinya “jalan hidup kalian yang penuh keteladanan.

(Baca juga:  Jawaban Taliban Atas Pencitraan Militer Amerika)

Para ahli sihir mencoba menekankan bahwa thariqah, “lifestyle” dan jalan hidup kita sangat mengagumkan orang lain. Seluruh dunia ingin seperti kita. Nilai-nilai kita penuh dengan keteladanan. Mereka semua ingin ‘maju’ dan ‘beradab’ sebagaimana kita. Sedangkan Musa dan Harun ingin menyingkirkan jalan hidup sempurna kalian yang semua orang di dunia ini mengaguminya.

Di sisi berbeda, penduduk Mesir pun hanya membicarakan tentang sihir dan nama-nama tokohnya yang terkenal dan disegani. Mereka sangat yakin akan kemenangan para ahli sihir kerajaan. Tidak terdetik pun dalam hati mereka bahwa ahli sihir jagoan mereka akan mengalami kekalahan. Apalagi yang dihadapi hanya Musa dan saudaranya Harun, yang tidak memiliki rekam keahlian sihir.

Dalam hati mereka justru menyangsikan dan bertanya, “Di mana dua orang itu belajar sihir? Sementara Musa dibesarkan dalam lingkungan istana hingga menjadi seorang pemuda. Kemudia keluar meninggalkan Mesir menuju Madyan dalam ketakutan. Selanjutnya tinggal selama sepuluh tahun di sana. Lalu di manakah ia sempat mempelajari sihir? Apakah di Mesir? Tidak mungkin. Atau di Madyan? Kita tidak pernah mendengar bahwa di sana terdapat ahli sihir yang hebat.”

Berbeda halnya dengan Bani Israil yang turut menyaksikan, pikiran mereka penuh keraguan dan kebimbangan; bahkan bisa dikatakan hampir berputus asa. Mereka memang mengharapkan Nabi Musa meraih kemenangan. Tapi harapan tersebut lebih terlihat mimpi di siang hari daripada betul-betul terjadi. Bahkan mereka ikut terbawa prasangka penduduk Mesir, “Bagaimana mungkin Musa akan mengalahkan para ahli sihir?”

 

 

Baca halaman selanjutnya: Kesombongan yang Berujung Dipermalukan