Fir’aun dan Bani Israil: Potret Kebengisan Penguasa dan Lemahnya Iman Bangsa yang Lama Tertindas

Semakin tinggi kekuasaan yang dimiliki seorang penguasa, ia cenderung bersikap dan memutuskan sesuatu secara zalim dan sewenang-wenang. Sementara itu, semakin lama suatu bangsa tertindas, semakin tergerus juga moral dan semangat mereka; meski yang memberi janji itu adalah seorang nabi, sehingga iman mereka kepada kekuasaan Allah Rabbul ‘alamin pun semakin lemah. Kisah penindasan Firaun dan reaksi Bani Israil terhadap penindasan tersebut merupakan di antara contoh fenomena tersebut.

 

MAKAR FIRAUN UNTUK MELEMAHKAN NABI MUSA DAN BANI ISRAIL

Setelah hari pertarungan sihir yang dimenangkan Musa dan berimannya para ahli sihir, Firaun benar-benar dalam kebingungan dalam menghadapi Musa. Ia tidak bisa tidur nyenyak; tidak enak makan; dan tidak enak minum. Untuk mengatasi kebimbangan dan kebingungannya, Firaun pun semakin meningkatkan kufuran, congkakan, dan berusaha semakin menjauh dari kebenaran.  Firaun semakin memperkeras siksanya kepada para pengikut Musa. Lebih dari itu, Firaun juga merencanakan untuk memerangi pengikut Musa dan membunuh Musa.

Setelah kejadian itu, Firaun  dan para pembesarnya pun mengadakan pertemuan rahasia untuk mengatasi Musa dan kaumnya. Ketika itu, para pembesar Firaun menghasutnya dan mengusulkan agar memerangi dan membunuh Musa. Mereka yang menakut-nakuti Firaun akan akibat buruk yang bakal menimpanya kalau ia mengabaikan urusan Musa. Mereka mengatakan kepada Firaun bahwa kewibawaan dan kekuasaannya akan lenyap, dan akan dominannya akidah baru yang mengakui ketuhanan Allah Rabbul ‘alamin.

Mereka berkata kepada Firaun, “Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkanmu serta tuhan-tuhanmu?” [Al-A’raf: 127].

Mereka menghasut Firaun, “Bukankah Engkau orang yang paling berkuasa di negeri Mesir ini? Engkau memiliki pasukan yang besar, kekayaan yang melimpah, dan kedudukan yang paling tinggi. Engkau bisa melakukan dan berbuat apa pun yang Engkau inginkan. Apakah Engkau akan mengalah kepada Musa dan Bani Israil begitu saja? Apakah Engkau akan masih membiarkan Musa dan bangsanya terus mengacaukan dan membuat onar di negeri Mesir tercinta ini? Apakah saat Engkau dan Tuhan-Tuhanmu dikucilkan oleh rakyat Mesir baru Engkau melakukan tindakan? Pastinya, kita harus lebih dahulu bertindak sebelum mereka bertindak. Terlebih kita memiliki kekuatan yang jauh di atas mereka.”

(Baca juga:  Pertarungan Musa Melawan Ahli Sihir: Hari Kemenangan Iman Atas Makar Fir’aun)

Menurut pandangan mereka, seruan untuk beriman kepada Allah Yang Mahaesa, beribadah hanya kepada-Nya, dan melarang untuk menyembah kepada selainnya adalah perbuatan merusak. Karena berimplikasi batalnya syariat hukum Firaun dan seluruh peraturannya. Pasalnya, paraturan ini ditegakkan di atas asas kedaulatan ketuhanan Firaun atas kaumnya. Dengan demikian, menurut mereka, seruan atau dakwah itu berarti membuat kerusakan di muka bumi karena dapat membalik aturan hukum dan mengubah perundang-undangan mereka.  Oleh itu, mereka menyamakan tindakan perusakan di muka bumi itu dengan sikap Musa dan kaumnya yang meninggalkan (tidak menaati hukum dan undang-undang) Firaun dan berhala-berhala yang disembahnya bersama kaumnya.

Dari sini, datanglah ancaman terhadap sistem pemerintahan Firaun secara total dengan adanya seruan Nabi Musa untuk tunduk kepada Allah, Rabbul ‘alamin. Demikian pula keimanan para tukang sihir kepada agama ini, dan keimanan segolongan kaum Nabi Musa dan peribadatan mereka kepada Rabbul ‘alamin saja.

Dari sini, datang juga ancaman terhadap sistem yang didasarkan pada ketuhahan manusia atas manusia. Ancaman yang berupa seruan untuk bertuhan kepada Rabbul ‘alamin saja, atau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Narasi seperti itu merupakan pemberontakan terhadap Firaun, dan menyadarkannya terhadap bahaya yang sebenarnya atas segala sistem dan perundang-undangannya.

Menanggapi hasutan para pembesarnya, kemarahan Firaun pun semakin berkobar-kobar. Dengan penuh amarah dan ancaman. Kemudian Firaun menunjukkan kekuatan yang dimilikinya dan kekuasaan materi yang menjadi penopangnya, seraya berkata, “Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka” [Al-A’raf: 127].

Firaun memang tidak mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan dalam arti Tuhan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta. Atau mengklaim dirinya memiliki kekuasaan yang menyebabkan adanya alam semesta ini. Akan tetapi, ia mengklaim ketuhanan bagi dirinya atas rakyatnya dengan menundukkan mereka. Artinya, ia mengklaim dirinya sebagai penguasa rakyatnya dengan hukum-hukum dan undang-undang yang ditetapkannya. Selain juga bahwa ia dengan kehendaknya dan perintahnya memberlakukan segala urusan dan memutuskannya. Inilah yang diklaim oleh setiap penguasa yang menjalankan pemerintahan dengan hukum-hukum dan undang-undangnya, dan segala urusan berjalan menurut kehendaknya dan perintahnya.

(Baca artikel terkait:  Dahsyatnya Perang Narasi Pertama, Musa VS Fir’aun)

Demikian juga, rakyat Mesir pun tidak ada yang menyembah Firaun dalam arti melakukan ritual-ritual ibadah kepadanya. Akan tetapi, mereka menyembah Firaun dalam arti tunduk patuh kepada segala sesuatu yang dikehendaki Firaun terhadap mereka; tidak berani melanggar dan membantah perintahnya; dan tidak berani menentang hukum-hukum dan undang-undangnya.

 

Baca halaman selanjutnya: Siksaan Fir’aun dan Reaksi Bani Israil