Dua Narasi Ahlus Sunnah yang Paling Ditakuti Musuh Islam

Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP) merilis artikel dalam serial yang mereka namakan dengan Ma’rakatul Wa’yi (Pertempuran Penyedaran). Dalam serial perdananya, Al-Harb ‘ala Ahlis Sunnah (Perang Terhadap Ahlus Sunnah), sebagaimana yang dirilis dalam Jihadology.net, AQAP menulis alasan mengapa Ahlus Sunnah senantiasa dimusuhi di setiap tempat, narasi Ahlus Sunah mana saja yang ingin dibungkam musuh Islam, serta bagaimana trik licik mereka melakukannya.

Abu Abdillah Al-Maafiri, penulis artikel tersebut menyebutkan bahwa musuh-musuh Islam sangat mengerti bahwa akidah Islam Ahlus Sunnah merupakan bahaya laten bagi eksistensi mereka. Akidah inilah yang mampu mendorong pasukan Islam untuk menghancurkan kekuasaan mereka. Oleh itu, bukan suatu mengherankan apabila mereka berusaha sekuat tenaga untuk membungkam akidah tersebut, termasuk membungkan orang yang berkeyakinan seperti itu.

Di antara akidah (narasi) penting Ahlus Sunnah yang membedakannya dengan yang lain yaitu: al-wala’ wa al-bara’, dan jihad fisabilillah.

Al-Wala’ wa al-Bara’ dan Jihad

Al-Wala’ merupakan penghapusan setiap ikatan geografis dan menjadikan ikatan Islam sebagai satu-satunya ikatan yang mengikat umat Islam di seluruh dunia. Tidak ada tempat bagi kebangsaan, nasionalisme, pengkotak-kotakan, dan fanatik jahiliah. “Dan orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi wali (penolong) bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar …” [QS. At-Taubah: 72].

Sementara al-Bara’ yaitu membenci dan memusuhi kekufuran di setiap penjuru bumi. Sebagaimana firman Allah, “Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selian Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” [QS. Al-Mumtahanah: 4]

Akidah berikutnya yaitu jihad, yang merupakan buah (aplikasi riil) dari akidah al-wala’ wal-bara’. Tujuan jihad dalam Islam bukanlah untuk memaksa seluruh manusia memeluk Islam. Tetapi untuk menghilangkan batu-batu sandungan yang merintang di hadapan dakwah Islam, dan menjadikan seluruh hukum, hegemoni, dan kekuasaan di dunia ini hanya tunduk kepada Islam. Atas alasan inilah musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk membungkan akidah Ahlus Sunnah.

Langkah-Langkah Musuh Membungkam Akidah Al-Wala’ wal Bara’

Di antara langkah-langkah musuh untuk membungkan narasi al-Wala’  yaitu dengan membuat ikatan alternatif dari ikatan Islam, seperti: kebangsaan, nasionalisme, pengkotak-kotakan, dan sejenisnya yang termasuk bagi dari jahiliah. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Ketahuilah! Setiap jenis jahiliah berada di bawah telapak kakiku ini”.

Sementara langkah-langkah mereka untuk membungkan akidah al-Bara’ yaitu dengan membuat slogan-slogan, seperti: ‘toleransi, hidup secara damai, dan Islam Moderat’, dan menyapu bersih seruan ‘pemikiran penuh kebencian dan kekerasan’. Tentu saja yang mereka maksud tidak lain yaitu akidah al-Bara’ terhadap musuh-musuh Islam dan jihad fi sabilillah.

Langkah-Langkah Musuh Membungkan Jihad

Adapun untuk membungkam syiar jihad fi sabilillah, musuh-musuh Islam berusaha melawannya dengan membuat istilah seperti ‘hidup rukun bersama orang lain, menolak ideologi kekerasan’, dan menanamkan pemahaman ‘hidup damai’ dalam benak generasi Islam. Di sisi lain, mereka justru membunuh umat Islam dengan setiap materi dan seluruh jenis senjata-senjata penghancur yang mereka miliki.

Kita menyaksikan mereka menoleransi setiap peperangan apa pun kecuali peperangan yang mengatasnamakan jihad fi sabilillah. Jihad merupakan tindak kriminal yang tidak bisa ditoleransi di mata tatanan internasional. Namun sebenarnya yang mereka takutkan hanyalah bangkitnya kembali spirit jihad dalam tubuh umat. Dari sana, kita temukan sejumlah orang yang berusaha menghindar dari kemarahan musuh Islam dengan mengganti istilah jihad fi sabilillah dengan ‘perlawanan’. Karena istilah ini tidak menimbulkan sensetivitas musuh Islam sebagaimana sikap mereka tatkala mendengar jihad demi menegakkan hukum Allah di muka bumi, dan sejenisnya.

Padahal Nabi SAW ketika ditanya terkait seseorang yang berperang hanya demi bangsa atau keluarganya; agar di sebut pemberani; dan berperang karena riya’, siapa di antara mereka yang termasuk fi sabilillah, beliau menjawab, “Siapa saja yang berperang demi meninggikan kalimat Allah setingi-tingginya, maka itulah yang disebut fi sabilillah“.

Ketika kita menemukan sejumlah orang yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah yang menganggap tabu istilah jihad fi sabilillah, namun kita dapati justru Syiah sangat berbangga dengan kejahatan buruk mereka terhadap Ahlus Sunnah dengan klaim bahwa mereka sedang berjihad fi sabilillah. Bahkan mereka mendengung-dengungkan seluruh ayat-ayat jihad yang terdapat dalam al-Quran untuk melegalkan permusuhan mereka terhadap Ahlus Sunnah dan kota-kota suci Ahlus Sunnah.

 

Baca halaman selanjutnya: Menyebarkan Kerusakan, Westernisasi, dan Upaya Pembodohan Akidah Ahlus Sunnah