Seluruh Cara Sudah Buntu, Amerika Harus Mundur dan Berdamai Dengan Taliban

Amerika Serikat telah memulai kembali perbincangan dengan Taliban, organisasi Islam yang oleh Amerika dan NATO berusaha dihancurkan lebih dari 16 tahun yang lalu. Ini adalah bagian dari upaya administrasi Trump untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika, yang telah membunuh sekitar 2.400 orang Amerika dan lebih dari 30.000 warga sipil Afghanistan.

Masih belum jelas apakah pembicaraan baru akan mengarah pada resolusi politik; seorang pakar yang saya ajak bicara memberi peluang sukses sekitar 20 persen. Tetapi yang lain melihatnya sebagai gerakan ambisius dan berani yang berpotensi menyebabkan perdamaian sementara bagi negara. Dan alasan untuk optimisme baru ini, secara mengejutkan, ada hubungannya dengan Taliban itu sendiri.

Organisasi ini menjadi salah satu kelompok perlawanan konservatif yang paling tangguh dan relijius di dunia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, telah menunjukkan tanda-tanda perubahan penting ke arah moderat, seperti gencatan senjata dengan pasukan Afghanistan pada bulan Juni, dan bahkan memungkinkan perempuan dan minoritas untuk memainkan peran yang lebih besar dalam organisasi.

(Baca juga:  Membedah Blueprint Strategi Al-Qaidah Kalahkan Amerika)

Dorongan untuk melakukan pembicaraan antara AS dan Taliban juga berasal dari kenyataan di lapangan. Taliban, terus mendapatkan kendali atau pengaruh atas wilayah dan masyarakat Afghanistan. Sementara pemerintah dan pasukan Afghanistan yang didukung AS, terus kehilangan pengaruh dan wilayah. Jadi untuk mengakhiri konflik Washington dan Kabul butuh untuk melakukan kesepakatan dengan Taliban, meskipun Taliban saat ini hanya ingin berbicara dengan AS untuk memastikannya meninggalkan Afghanistan.

Para ahli masih ragu apakah Taliban sebagai negosiator yang baik. Namun, beberapa dari mereka di Washington dan di Kabul menganggap berbicara dengan Taliban sebagai opsi terbaik dan paling mungkin (untuk mencapai jalan keluar) setelah hampir dua dekade perang.

“Sudah jelas bahwa banyak orang berharap [bahwa] proses perdamaian bisa berdampak pada tingkat yang lebih besar daripada yang telah terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya,” kata Johnny Walsh, seorang ahli Afghanistan di Institut Perdamaian AS.

(Baca juga:  Obama: Amerika Gagal Kalahkan Taliban di Afghanistan)

Taliban adalah kelompok pejuang yang sangat konservatif yang telah memainkan peran utama dalam sejarah Afghanistan baru-baru ini.

“Taliban dapat melanjutkan peperangan ini tanpa batas,” kata Bill Roggio, seorang ahli  Afghanistan di lembaga think tank Pertahanan dan Demokrasi.

Taliban mengambil alih Afghanistan pada awal 1990-an, dan pada tahun 1998 menguasai sekitar 90 persen dari wilayah negara itu. Mereka menjalankan hukum Islam secara ketat di Afghanistan: Pria harus membiarkan jenggotnya, wanita harus menutupi diri sepenuhnya, dan orang dilarang menonton film atau mendengarkan musik. Hukuman eksekusi di depan umum dan potong tangan juga dilaksanakan.

Taliban benar-benar penting bagi Amerika setelah 11 September 2001. AS mencurigai Taliban menyembunyikan Osama bin Laden, yang mengatur serangan 9/11, dan kelompok terorisnya, al-Qaeda. Kurang dari sebulan setelah serangan terhadap World Trade Center dan Pentagon, AS menyerang Afghanistan untuk mengalahkan al-Qaeda dan menyingkirkan Taliban dari kekuasaan.

Taliban dengan cepat kehilangan kendali atas Afghanistan dan mundur ke negara tetangganya, Pakistan, namun tetap melakukan perang gerilya. Sekarang, setelah hampir 17 tahun berperang, Taliban adalah organisasi perlawanan paling tangguh yang memerangi Amerika Serikat dan pemerintah Afghanistan – dan tidak ada tanda-tanda merela akan kalah atau menyerah.

(Baca juga:  Amerika Menang di Afghanistan Itu Hanya Pencitraan)

“Taliban dapat melanjutkan peperangan ini tanpa batas,” kata Bill Roggio, seorang ahli  Afghanistan di lembaga think tank Pertahanan dan Demokrasi.

Ini masalah serius bagi AS, mengingat Taliban sebenarnya telah memenangkan perang melawan militer Afghanistan, yang didukung oleh sekitar 14.000 pasukan Amerika di negara itu. Dua grafik dari Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR), pengawas perang militer AS, menunjukkan fakta tersebut.

Grafik pertama menunjukkan bahwa Taliban sekarang mengendalikan wilayah yang lebih padat dari pada bulan Agustus 2016. Yang kedua menunjukkan bahwa kelompok-kelompok pemberontak menguasai lebih banyak distrik di Afghanistan daripada di bulan Januari 2016 – dan pengaruh mereka terus meningkat.

(Baca juga:  Apapun Masalah Amerika, Itu Lebih Ringan Dibanding Soal Afghanistan)

Situasi itu tidak mungkin membaik, karena AS sekarang menginginkan pasukan Afghanistan yang didukungnya untuk mundur ke daerah perkotaan – yang berarti secara efektif menyerahkan kontrol masyarakat pedesaan kepada Taliban. Keadaan ini telah memicu perdebatan sengit di Washington dan Kabul apakah Taliban serius untuk melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang.

 

Baca halaman selanjutnya: Mungkinkah Taliban Mau Duduk Satu Meja Dengan Penjajah?

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *