Kelompok Teroris Mana yang Mengebom Hiroshima?

Kelompok Teroris Mana yang Mengebom Hiroshima?

 

Kartun ini diterbitkan pada tahun 2005, saat ulang tahun ke-60 bom Hiroshima. Tetapi, saya baru saja melihatnya hari ini. Seorang anak laki-laki, yang lahir di tahun 90-an–jika kita tanggal penerbitan kartun–duduk di pangkuan kakeknya (atau ayah, tetapi saya akan memanggilnya kakek). Ia melihat ledakan besar di televisi.

Bocah laki-laki sebesar itu biasanya akan membuat pertanyaan yang alami. Dia mengaitkan video-video ledakan dengan terorisme, karena ia tumbuh di saat berita tentang bom dan terorisme menguasai media.  Dia bertanya pada kakeknya, “Kelompok teroris mana yang melakukan itu?”

Seorang bocah laki-laki sebesar itu, pada waktu itu, tidak banyak tahu tentang Perang Dunia Kedua, apalagi menjadikannya sebagai kerangka acuan. Mereka mungkin kesulitan untuk menghubungkan video tersebut dengan “Pearl Harbor,” “Holocaust,” atau “Hiroshima.” Pertanyaan yang dia utarakan adalah upaya untuk memahami apa yang dilihatnya dalam bingkai apa yang telah dia ketahui.

(Baca juga:  Menyibak Luka Lama Hiroshima)

Si kakek tentu akan memahami pertanyaan tersebut dengan cara yang berbeda, terutama jika kita menganggap bahwa pria yang digambarkan di sini adalah orang Amerika. Kemungkinan besar, ia akan melihat penjatuhan bom atom di Hiroshima dengan cara konvensional: bahwa itu adalah langkah penting untuk memaksa Jepang menyerah. Jika tidak, akan terjadi perang yang mengerikan, dengan jumlah kematian yang lebih besar daripada yang disebabkan oleh bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Tanpa membahas perdebatan akurasi sejarah tentang pertimbangan taktis dan strategis serangan tersebut–satu perdebatan di antara para sejarawan yang telah melihat sumber-sumber primer–kakek ini mungkin akan mencoba menjelaskan kepada si bocah bahwa ledakan tersebut bukanlah tindakan terorisme, karena dilakukan sebagai bagian dari perang. Pengeboman dalam perang bukanlah terorisme, begitu mungkin si kakek menjelaskan.

Bagi pembaca kartun pada tahun 2005, mereka mungkin memandang kartun tersebut bercerita tentang seorang anak yang menafsirkan apa yang dilihatnya dalam bingkai apa yang dia tahu, dan kakeknya kesulitan untuk menjelaskan perbedaan antara serangan yang dianggap teror pada waktu itu dengan bom Hiroshima. Namun, mungkin ada pembaca lain yang menanggapi pertanyaan bocah itu tanpa mempertimbangkan sisa gambar itu.

Pembaca semacam itu mungkin akan sangat marah, karena gambar itu membuka kemungkinan menyamakan Hiroshima (tindakan yang dianggap sah sebagai bagian dari perang yang dinyatakan secara resmi) dan 9/11 (tindakan kekerasan dari apa yang secara sah dianggap sebagai terorisme).

(Baca juga:  Populasi Muslim di Jepang Semakin Meningkat)

Bagi pembaca yang lain, yang pada waktu itu menentang keras Perang Irak, kemiripan antara bom Hiroshima dengan serangan 11 September membuat mereka semakin mempertanyakan legitimasi perang Amerika secara umum dan Perang Irak dan Afghanistan secara khusus. Meskipun, pembaca tersebut mungkin setuju dengan interpretasi Hiroshima yang digunakan si kakek kepada bocah laki-laki itu.

Melihat kartun tersebut pada tahun 2018, kita bisa melihat semua kemungkinan lapisan yang berada di dalamnya. Kita juga bisa melihatnya dari perspektif tindakan militer Amerika Serikat saat ini. Apapun perbedaan legalitas antara Hiroshima dan 9/11, keduanya setidaknya mempunyai kesamaan dalam satu fitur: keduanya adalah serangan yang diarahkan terhadap warga sipil.

Pemerintah Amerika Serikat saat ini membenarkan serangan misil di Pakistan, Yaman, Afghanistan, dan di tempat lain, dengan alasan “Perang Melawan Teror”, dan karenanya disebut sebagai aksi militer yang sah. The Bureau of Investigative Journalism, yang selama ini mendokumentasikan serangan drone di negara-negara tersebut; melaporkan bahwa serangan tersebut tidak semata-mata ditujukan pada target “militer” yang merupakan bagian dari “perang melawan teror”.

Namun, menurut bukti laporan mereka, AS juga menyerang para aktivitis kemanusian yang menolong korban dan para peziarah yang memakamkan korban. Dan lagi-lagi, taktik ini dicari pembenarannya oleh pemerintah Amerika dengan menyebut mereka semua sebagai “teroris”.

(Baca juga:  Meraba Arah Politik Trump Atas Dunia Islam)

Dengan konteks tersebut, hari ini, kartun ini memiliki lapisan makna tambahan: tindakan militer yang saat ini dilakukan oleh Amerika Serikat jauh lebih sulit dibedakan dari “terorisme” daripada pemboman Hiroshima dan Nagasaki. Faktanya, banyak dari serangan mereka yang tidak dapat dibedakan dari terorisme. Dan efek langsungnya bukanlah untuk mengalahkan “teror” melalui “perang melawan teror”, tetapi, sebenarnya, untuk menghasilkan lebih banyak potensi teroris.

Hari ini, seorang kakek yang mendapat asupan informasi yang baik mungkin jauh lebih sulit untuk menjawab pertanyaan cucunya yang cerdas: Mengapa serangan militer Amerika akhir-akhir ini tidak disebut sebagai “terorisme”?