Anda Yakin Taliban Teroris dan Produsen Opium Terbesar Dunia?

Mengungkap Kebohongan Propaganda AS soal Taliban dan perang Afganistan

 

Setelah 17 tahun berdarah, perang terpanjang dalam sejarah AS berlanjut dan gagal mencapai tujuan di Afghanistan. Di sana, orang-orang yang gagah berani dan sangat independen, suku-suku pegunungan Pashtun, telah berjuang sekuat tenaga dan berhasil mendesak Kekaisaran AS menuju jalan buntu yang sejauh ini telah membebani pembayar pajak Amerika $ 4 triliun, dan 2.371 orang tewas dan 20.320 tentara yang terluka. Tidak ada yang tahu berapa banyak orang Afghanistan yang telah meninggal. Jumlahnya dirahasiakan.

Suku Pashtun dalam aliansi Taliban dan sekutu mereka berjuang untuk mengusir semua pasukan asing dari Afghanistan dan mengusir rezim boneka yang dipaksakan dan didukung Barat di Kabul yang berpura-pura menjadi pemerintah negara yang sah. Penarikan pasukan asing dan rezim Kabul akan terjadi hanya tinggal menghitung hari.

Semuanya berbau Perang Vietnam. Pelajaran yang sangat menyakitkan dipelajari oleh Amerika dalam konflik itu telah dilupakan dan kesalahan yang sama terulang. Kebohongan dan pembicaraan yang menyenangkan politisi, jendral dan media terus berlanjut.

(Baca juga: Diremehkan Amerika, Serangan Taliban Tewaskan 113 Pasukan Rezim)

Minggu ini, pasukan Taliban menduduki kota strategis penting, Ghazni di jalan dari Peshawar ke Kabul. Diperlukan tiga hari dan serangan udara besar-besaran oleh pembom AS B-1, helikopter Apache, pesawat tempur A-10, dan pesawat tempur masal dari pangkalan AS di Afghanistan, Pakistan, Qatar, dan Armada AS ke- 5 untuk dapat mengendalikan serangan Taliban. Taliban juga menyerbu target-target militer utama di Kabul dan pedesaan, menewaskan ratusan pasukan pemerintah.

Satuan polisi dan unit militer Afghanistan melakukan perlawanan lemah atau melarikan diri. Bagian-bagian Ghazni ditinggalkan dalam reruntuhan. Hal yang sangat memalukan bagi para jenderal kekaisaran AS dan pemerintah boneka mereka yang mengklaim bahwa “sudut di Afghanistan akhirnya telah berubah.”

 

AS Takut Bertempur Langsung

Upaya pemerintahan Trump untuk menundukkan Taliban dengan (memperbanyak) bom jelas telah gagal. Komandan AS takut menggunakan pasukan darat Amerika dalam pertempuran agar mereka tidak menderita korban serius. Sementara itu, AS mulai kehabisan bom.

Jalan sekarang sangat berbahaya bagi penjajah karena sebagian besar gerakan harus lewat udara. Taliban diperkirakan secara permanen mengendalikan hampir 50% Afghanistan. Angka itu akan naik menjadi 100% kalau bukan karena kekuatan udara AS di mana-mana. Taliban memerintah malam itu.

(Baca juga:  Seluruh Cara Sudah Buntu, Amerika Harus Mundur dan Berdamai Dengan Taliban)

Taliban tidak dan tidak pernah menjadi ‘teroris’ seperti propaganda palsu yang diklaim Washington. Saya berada di sana saat penciptaan gerakan (Taliban) – sekelompok mahasiswa agama Afghanistan yang dipersenjatai oleh Pakistan yang tujuannya adalah untuk menghentikan bandit pasca perang-sipil, pemerkosaan massal, dan untuk memerangi kaum Komunis Afghanistan.

Ketika Taliban memperoleh kekuasaan, itu menghilangkan 95% perdagangan opium-heroin Afghanistan yang merajalela. Setelah AS menginvasi, bersekutu dengan Komunis Afghan (yang dulu dimusihinya) dan suku Tajik utara, produksi opium-heroin melonjak ke tingkat rekor. Hari ini, Afghanistan yang diduduki AS adalah produsen opium, morfin, dan heroin terbesar di dunia.

Otoritas pendudukan AS mengklaim produksi narkoba dijalankan oleh Taliban. Ini adalah kebohongan besar lainnya. Para panglima perang Afghanistan yang mendukung rezim Presiden Ashraf Ghani yang sepenuhnya mengendalikan produksi dan ekspor obat-obatan. Tentara dan polisi rahasia mendapat keuntungan besar. Bagaimana tidak, truk-truk yang penuh dengan narkoba melintasi perbatasan ke Pakistan dan Asia Tengah?

(Baca juga:  Lagi-Lagi Taliban Membuat Narasi Jenderal Amerika Mandul)

Amerika Serikat secara sengaja atau tidak sengaja menjadi salah satu pengedar narkoba terkemuka di dunia. Ini adalah salah satu warisan yang paling memalukan dari Perang Afganistan. Tapi hanya satu. Menyaksikan bom berkekuatan terbesar di dunia dan memorak-porandakan Afghanistan kecil, sebuah bangsa yang begitu miskin sehingga sebagian dari orang-orangnya tidak mampu membeli sandal, adalah aib besar bagi orang Amerika.

Meski begitu, Pashtun (terbukti mampu) mengalahkan tentara penyerang dari Alexander Agung, Genghis Khan, Tamerlane, Kaisar Mogul dan Raj Inggris yang perkasa. AS terlihat menjadi yang berikutnya di Makam Kekaisaran.

Tak seorang pun di Washington dapat mengungkapkan alasan yang logis untuk melanjutkan perang kolonial (penjajahan) di Afghanistan. Seseorang mendengar pembicaraan tentang mineral, hak-hak perempuan dan demokrasi sebagai dalih untuk mempertahankan pasukan AS di Afghanistan. Semua omong kosong. Alasan sebenarnya yang mungkin adalah untuk mencegah meluasnya pengaruh Afghanistan, meskipun orang Cina terlalu pintar untuk mengambil cangkir beracun ini. Mereka memiliki lebih dari cukup (pengalaman) dengan kaum muslim Uighur yang memberontak.

Yang menarik, apa yang disebut ‘kamp pelatihan teroris’ yang seharusnya ditemukan di Afghanistan pada tahun 2001 sebenarnya adalah kamp pelatihan gerilya yang dijalankan oleh intelijen Pakistan untuk melatih gerilyawan Kashmir dan kamp-kamp yang dikelola CIA bagi para pejuang Uighur di pengasingan dari China.

(Baca juga:  Pesan Taliban Kepada Komandan Tertinggi AS: Jujurlah pada Rakyat Amerika)

Propaganda yang dibuat bahwa AS harus menyerang Afghanistan untuk mendapatkan Osama bin Laden, yang diduga sebagai aktor serangan 9/11, tidak benar. Serangan itu dilakukan oleh Saudi dan diluncurkan dari Hamburg dan Madrid, bukan Afghanistan. Saya bahkan tidak yakin bin Laden berada di balik serangan itu.

Sahabat saya dan ia seorang jurnalis, Arnaud de Borchgrave, berbagi keraguan dengan saya dan bersikeras bahwa pemimpin Taliban, Mullah Omar menawarkan untuk menyerahkan Bin Laden ke pengadilan di sebuah negara Muslim untuk membuktikan kesalahan atau ketidakbersalahannya.

Presiden George Bush, yang tertangkap basah sedang tidur ketika tugas jaga dan dipermalukan, maka harus menemukan sasaran empuk untuk membalas dendam – dan itu adalah Afghanistan.

Oleh Eric Margolis dipublikasikan 18 Agustus 2018

 

Sumber:  unz