Investigasi Newyork Times: Otak Teror Itu Ternyata Tetangga Mereka

Setahun pembantaian besar di tahun 2017 terhadap Rohingya sudah berlalu, tetapi belum ada perkembangan dalam penyelidikan atas genosida yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

Hal ini meyebabkan munculnya kekhawatiran atas perjanjian pengembalian para pengungsi Rohingya di Bangladesh ke Myanmar. Para pengungsi lebih memilih hidup di “neraka” bernama tempat pengungsian dengan segala kondisi yang terbatas, daripada harus hidup kembali di “neraka” bernama negara bagian Rakhine, tempat orang tua, saudara, suami, istri, dan anak mereka dibantai.

Mohammad Hossain tahu orang yang memimpin serangan di desanya telah bergabung dengan tentara Myanmar untuk menangkap tetangganya, orang-orang Rohingya dan, seperti yang dikatakannya, “memotong jasad mereka menjadi beberapa bagian.” Dua tahun sebelumnya, kata Hossain, orang yang sama telah menguncinya dalam penjara bawah tanah dan membakar kakinya dengan batang logam panas dan menancapkan jarum di bawah kukunya.

Orang itu adalah orang yang sama dengan sosok yang Mostafa Khatun katakan sebagai orang yang memperkosanya berulang kali selama beberapa hari, lalu menggorok leher suaminya selama serangan tentara Myanmar di desa mereka.

Hampir dua lusin pengungsi Muslim Rohingya berbagi cerita serupa, merinci tahun-tahun penindasan dan pelecehan yang memuncak dalam pembantaian massal Rohingya di desa Chut Pyin, Myanmar, pada 27 Agustus tahun lalu. Satu orang yang menjadi dalang utamanya, kata mereka, yang harus bertanggung jawab: Mereka tahu di mana dia tinggal, mereka tahu nomor ponselnya.

Dia adalah Aung Thein Mya, pejabat pemerintahan yang hingga kini masih bertugas mengendalikan beberapa desa termasuk Chut Pyin. Hanya ada sedikit tanda jika dia akan menghadapi hukuman.

Satu tahun setelah militer Myanmar memulai kampanye besar-besaran pembersihan etnis terhadap desa-desa Rohingya, menewaskan ribuan orang dan memaksa ratusan ribu orang melarikan diri ke Bangladesh, setelah penyerangan oleh gerilyawan Rohingya di beberapa pos pemeriksaan polisi, hampir tidak ada kemajuan berarti dalam pengusutan atas pihak yang harus bertanggungjawab.

Baca juga:

Upaya oleh komunitas internasional sebagian besar telah tersendat dan terutama berfokus pada kepemimpinan negara Myanmar: para jenderal yang secara luas dituduh mendalangi pembunuhan dan pembersihan etnis, dan pemimpin sipil Myanmar, Daw Aung San Suu Kyi, seorang pemenang Nobel yang gagal menghentikan kekerasan, telah mengundang kecaman di luar negeri.

Aung Thein Mya bukanlah seorang tentara. Dia adalah seorang pegawai sipil, dan bagian dari etnis minoritas, Rakhine, yang telah lama dianiaya oleh militer dan mayoritas etnis Bamar beragama Buddha di negara itu, tetapi ia bergabung dalam kampanye kekerasan terhadap etnis Rohingya.

Dalam sebuah wawancara telepon, Aung Thein Mya membantah tuduhan pelecehan dan mengatakan dia bahkan tidak berada di tempat kejadian selama pembantaian itu, yang bertentangan dengan lebih dari selusin saksi.

Pelecehan yang digambarkan oleh penduduk Chut Pyin, yang dalam bahasa Rohingya bernama So Farang, bergema dalam kesaksian dari desa-desa di seluruh wilayah. Dan itu memperkuat kekhawatiran para pejabat hak asasi manusia tentang kemampuan pengungsi Rohingya, yang kini berjumlah lebih dari satu juta, untuk kembali dengan damai ke tanah air mereka.

Setelah beberapa dekade konflik Buddha Rakhine melawan Rohingya, dan menuduh korban menjadi konspirator, pemerintahan Myanmar telah membuat kebencian berdasarkan etnik yang menjadi  realitas keseharian di negara bagian Rakhine, sebidang tanah di sepanjang Teluk Benggala di Myanmar barat yang dihuni Rohingya selama berabad-abad.

“Kedua komunitas hidup dalam ketakutan satu sama lain,” kata Dominik Stillhart, direktur operasi untuk Komite Palang Merah Internasional.

Di Chut Pyin dan desa-desa lain di wilayah tersebut, warga desa Budha Rakhine dan Muslim Rohingya telah lama tinggal dalam sekat-sekat yang tidak nyaman satu sama lain, bersaing untuk mendapatkan akses ke sawah, kolam pemancingan dan tanah lapang untuk menggembalakan ternak mereka. Ketidakpercayaan berkembang menjadi permusuhan selama Perang Dunia II, ketika Rakhine dan Rohingya mendukung pihak yang berseberangan dalam perang: Para Buddhis mendukung Jepang, sementara Muslim membantu Inggris.

Di bawah dominasi politik para jenderal negara itu dalam beberapa dekade terakhir, umat Buddha Rakhine seperti Aung Thein Mya berada di atas angin, mengisi sebagian besar posisi pemerintahan lokal dan menjelma menjadi tuan bagi Muslim Rohingya, yang selama beberapa dekade telah dilucuti dari status kewarganegaraan Myanmar dan dibatasi kebebasannya.

Sebuah laporan yang diterbitkan pada bulan Juli oleh kelompok pembela HAM, Fortify Rights, menggambarkan bagaimana militer, dengan bantuan umat Buddha setempat, merencanakan dengan cermat untuk melakukan genosida dan kejahatan lain terhadap kemanusiaan, di tahun sebelum serangan. Alat-alat tajam, di rumah-rumah Rohingya, yang bisa digunakan sebagai senjata disita ; pagar di sekitar rumah-rumah Rohingya diruntuhkan; dan ribuan pasukan dikerahkan ke negara bagian Rakhine.

Baca juga:

Sepanjang tahun itu, dan selama bertahun-tahun sebelumnya, Aung Thein Mya membuat orang-orang Rohingya yang berada di bawah tanggung jawabnya dalam keadaan terteror, kata saksi, seorang Muslim Rohingya. Dia mencuri ternak dan hasil panen penduduk desa, memungut biaya yang sangat tinggi untuk segala hal mulai dari hak penggembalaan hingga pengajuan pernikahan, dan menjatuhkan hukuman kejam bahkan untuk kecerobohan kecil, kata penduduk setempat.

Hanya menyebutkan nama Aung Thein Mya, bisa menimbulkan kebencian mendidih di hadapan orang-orang Rohingya. “Dia menyiksa kami dengan sangat kejam, sehingga saya merasa ingin memakannya mentah-mentah,” kata seorang pengungsi, Abdullah.

Penyidik ​​dari kelompok hak asasi manusia mendokumentasikan pelanggaran serupa di Chut Pyin. Amnesty International, dalam laporan bulan Juni, mengutip saksi yang mengatakan Aung Thein Mya “telah lama mengganggu mereka.”

Saat dihubungi melalui telepon, Aung Thein Mya, yang masih di kantor, seolah merasa angkuh. Dia membantah tuduhan terhadapnya dan bersikeras bahwa dia menikmati hubungan baik dengan tetangganya, Muslim Rohingya, bahkan saat dia menyebut mereka menggunakan penghinaan rasial dengan sebutan “Bengali,” sebuah istilah yang dimaksudkan untuk menyampaikan, secara keliru, bahwa mereka bukan penduduk asli Myanmar, melainkan imigran gelap dari Bangladesh.

Rohingya, kata Aung Thein Mya, membakar rumah mereka sendiri dan melarikan diri karena alasan yang tidak diketahuinya. Tapi sekarang setelah mereka pergi, hidupnya dan tetangganya telah membaik, katanya.

“Saya tidak ingin mereka kembali ke sini,” katanya dalam wawancara. “Desa kami damai tanpa Bengali.”

 

Baca halaman selanjutnya: Penyiksaan yang Terstruktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *