Merunut Awal Hubungan Aceh Dengan Kekhalifahan Turki Utsmani

Aceh mengirim seorang utusan ke hadapan sang penakluk (sultan Sulaiman/Salim), mengakui supremasi kekuasaan yang melekat dalam gelar Khalifah, dan menyerahkan kedaulatan pada para Sinan Pasha terkenal, mengangkat bendera Turki Utsmani di pelabuhan dan di kapal mereka, menyatakan diri sebagai pengikut Sultan Salim dan meminta perlindungan. Sultan Salim menerima tawaran menguntungkan ini. Diperintahkan Vezir Sinan Pasha untuk dikirim ke Sultan Aceh berupa meriam dan pedang kehormatan yang masih terlihat di Aceh.

Sementara itu Malaka merupakan kota dagang yang ramai disinggahi kapal-kapal asing yang mencari barang dagangan mereka untuk dijual ke Eropa. Selat Malaka begitu ramai dengan banyaknya kapal-kapal yang berlayar, hal itu terjadi karena selat Malaka merupakan jalur pelayaran dan perdagangan yang menghubungkan Eropa dan Asia Tengah ke kawasan Cina dan Asia Tenggara.

Sultan Utsmani segera mengirim bantuan angkatan laut dan militer ketika Portugis menyerang Malaka pada tahun 1511. Setelah Malaka jatuh, pusat Islam di dunia Melayu bergeser ke Asia. Ottoman terus melakukan apa yang mereka bisa untuk melindungi dunia Melayu sampai awal abad kedua puluh.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M, merupakan ancaman yang serius bagi kedudukan Aceh, sebagai kota dagang yang ramai dan banyak disinggahi pula oleh kapal-kapal asing. Apalagi dengan adanya invasi Portugis yang dilancarkannya ke Banda Aceh pada tahun 1521 M merupakan alarm tanda bahaya yang harus segera diantisipasi. Namun serangan Portugis ke Banda Aceh tersebut gagal, bahkan pimpinan Portugis, Joge de Brito, tewas dalam penyerangan tersebut.

Baca juga:

Tiga tahun kemudian, 1524, Aceh melakukan serangan terhadap Portugis yang sedang berada di Pasai, dalam penyerangan ini Aceh berhasil menduduki Pasai.  Tahun 1547, Aceh kembali menyerang Portugis di Malaka, tetapi gagal. Sesudah itu pada tahun 1564 Aceh menyerang kerajaan Johor yang berpihak pada Portugis, dan Aceh berhasil menduduki Johor.

Permusuhan Aceh-Portugis semakin lama semakin memanas. Kapal-kapal pengangkut barang Portugis sering dicegat dan dirampas oleh angkatan laut Aceh sehingga membuat Portugis semakin geram. Yang lebih marepotkan Portugis, adalah disamping kegiatan Aceh manghadapi Portugis di laut lepas, Aceh juga tak henti-hentinya menyerang ke Malaka.

Saparti dikatakan oleh Couto dalam ungkapannya, bahkan ditempat tidurpun Sultan Ri’ayat Syah (Al-Kahhar) tak pernah diam untuk memikirkan pangganyangan Portugis. (“never turned over in his bed -without thinking how he could encompass the destruction of Malacca”).

Untuk mengahadapi ancaman Portugis, Aceh berusaha menjalin hubungan dengan kekhalifahan Turki. Sumber Portugis mengatakan bahwa di pertengahan abad ke-l6 (kira-kira ditahun 1540) Aceh telah mengadakan hubungan dengan Turki.

Di antara catatan itu adalah catatan perjalanan petualang Portugis Pinto yang berada di Aru. Menurut Pinto, Aceh telah mendapat sumbangan dari Turki sabanyak 300 orang ahli dari Turki. Bantuan tersebut dibawa oleh 4 buah kapal Aceh, yang sengaja datang ke Turki untuk mendapatkan senjata perang dan alat-alat pembangunan.

Baca juga:

 

Cerita kedatangan kapal-kapal Aceh ini tidak jauh beda dangan cerita dari sumber Aceh sandiri mangenai kisah ‘lada secupa’ yaitu ketika utusan Aceh di berangkatkan ke Turki (disabut negeri Rum) untuk mengadakan hubungan persahabatan antara Aceh dan Turki. Bingkisan yang dikirimkan untuk Turki yang terpenting adalah lada, yang memenuhi semua kapal-kapal itu. Karena terlalu lama dan banyak rintangan di laut, menyebabkan muatan lada habis di jalan, dan akhirnya tinggallah secupak lada saja yang akan dapat disampaikan sebagai bingkisan kepada Sultan Turki.

Berdasarkan catatan sejarah diketahui sejauh ini, «hubungan erat dengan Turki» adalah salah satu dari lima dasar kebijakan luar negeri kesultanan Aceh. Kebijakan ini, yang diprakarsai oleh Alauddin Mughayat Shah, pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Aceh menawarkan upeti tahunan sebagai tanda perlindungan, tetapi sultan Utsmani selalu menolak untuk menerimanya. Pada pertengahan tahun 1850, perlindungan Turki ini ditetapkan dalam dua keputusan yang dikeluarkan oleh Sultan Abdulmajid.

Kemerdekaan wilayah itu dipertahankan terhadap penetrasi Eropa selama lebih dari tiga ratus tahun mulai dari abad ke-16 Sultan Aceh mengirim Abdur-Rahman ke Istanbul untuk mencari bantuan sultan ketika Belanda melakukan upaya terakhir untuk menaklukkan Aceh pada tahun 1868. Akibatnya, Midhat Pasha mendesak agar armada Utsmani diberangkatkan ke Sumatera.

Khilafah Utsmani aktif terlibat melawan Portugis di kawasan ini dari awal, periode yang bertepatan dengan tahun-tahun awal kesultanan ini. Sebagai tanda keyakinan Islam yang kuat di kesultanan ini, khalifah dari kerajaan Utsmani, kesultanan Islam yang paling kuat pada abad keenam belas.

Djajadiningrat mengutip ungkapan Jawaib yang terbit di Turki disekitar tahun 1873 bukan kebetulan ketika pecah Perang Aceh-Belanda masa itu. Ungkapan itu menceritakan kedatangan Ghazi Johan Syah pada tanggal 19 Januari 1215 M ke Aceh dan disebutkan untuk melaksanakan pengislaman di negeri itu, dan memerintah di situ. Diceritakan selanjutnya bahwa tahun 1516 Sultan Aceh Firman Syah telah manghubungi Siman Pasha, wazir dari Sultan Turki Salim I untuk mangikat tali hubungan. Permintaan Aceh disetujui oleh Turki dan semenjak itu hubungan keduanya telah mulai.

Khilafah Turki Utsmani muncul di saat Islam berada dalam era kemunduran pertama. Berawal dari kerajaan kecil, lalu mengalami perkembangan pesat, dan akhirnya diakui sebagai negara adikuasa pada masanya dengan wilayah kekuasaan yang meliputi bagian utara Afrika, bagian barat Asia dan Eropa bagian Timur. Masa pemerintahannya berjalan dalam rentang waktu yang cukup panjang sejak tahun 1299 M-1924 M. Kurang lebih enam abad (600 tahun).

Turki Utsmani adalah salah satu kerajaan Islam terbesar yang muncul semenjak pasca kejatuhan Baghdad tahun 1258 M sampai awal abad ke-20. Sehingga kesultanan Turki Utsmani dipandang oleh Dunia Islam sebagai Pelindung atau Pengayom bagi negeri- negeri Islam di seluruh Dunia (khilafah Islam).

Mengingat posisi Aceh yang terancam sesudah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511 M. Apalagi dengan usaha Portugis untuk menyerang Banda Aceh. Maka wajarlah manakala Portugis di mata Aceh merupakan bahaya laten yang perlu dihancurkan. Pertimbangan itu pula kiranya yang mendorong Sultan Alauddin Riayat Shah Al Kahhar (1537-1571) memutuskan untuk mengirim utusan yang dipimpin oleh Husein Effendi pergi ke Istanmbul pada tahun 1565. Pada waktu itu kesultanan Utsmaniyah Turki sedang berada pada puncak kejayaannya.

Baca juga:

 

Wilayah kekuasaan Turki termasuk daerah pengaruhnya meliputi 10 juta Km2, dari Maghrib sampai Kaukasus dari gerbang Wina di Eropa. Sewaktu utusan Aceh datang, kebetulan Sultan Sulaiman memimpin peperangan melawan Ra-Maximillian II dari Jerman. Sehingga Husein Effendi terpaksa harus menunggu selama 2 tahun untuk dapat melakukan audiensi kepada Sultan Turki. Sultan Sulaiman wafat di Hungaria dalam tahun 1566, sebab itu terpaksa dia harus menantikan Sultan yang baru.

Dalam masa penobatannya Sultan Salim II di Istambul pada 20 September 1567, Husein Effendi berhasil diterima Sultan Salim II hanya membawa sebuah karung lada hitam. Kepada Sultan Salim II dilaporkannya pengalaman pelayarannya dan maksud kedatangannya ke Istambul yang memabawa misi khusus dari Sultan Al Kahhar dari Aceh untuk meminta bantuan Turki dalam menghadapi Portugis di Asia Tenggara. Sultan Salim II memahami situasi yang dihadapi oleh Aceh, dan kepada utusan Aceh tersebut diberi bantuan keuangan serta berbagai hadiah untuk Sultan Aceh.

Hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Turki Utsmani di Istambul dimulai sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa ke Aceh. Para pedagang asal Eropa itu kerap mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaka, termasuk Aceh. Guna menghadapi imperialisme bangsa Eropa tersebut, Kerajaan Aceh mencari dukungan dari Khilafah Turki Utsmani.

 

Daftar Pustaka:

Anthony Reid, “Indonesian Diplomacy: A Documentary Study of Atjehnese Foreign Policy in the Reign of Sultan Mahmud: 1870-1874,” JMBRAS, vol. XLII, Part 2, December, 1969

Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce Vol. II (New Haven: Yale University Press, 1993

Anthony Reid, The Contest for North Sumatra, Atjeh, The Netherlands and Britain, 1858-1898 (Kuala Lumpur: University of Malaya Press, 1969)

Anthony Reid, The Ottomans in Southeast Asia, Asia Research Institute Working Paper Series No. 36, National University of Singapore February 2005.

Mohammad Said: “Aceh Sepanjang Abad”, Jilid I, Penerbitan Waspada-Medan, 1981

Prof. Dr. Saim Kayadibi, Islamization of the Southeast Asia: The Role of Turks, Department of Economics, Kulliyyah of Economics and Management Sciences, International Islamic University Malaysia (IIUM),

Saim Kayadibi (edt), Ottoman Connections to the Malay World: Islam, Law and Society, The Other Press Kuala Lumpur 2011.

Solikhin Salam, Malahayati, Srikandi dari Aceh, Jakarta : Gema Salam, 1995

 

 

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *