Pemimpin Al-Qaeda: Pemerintahan Imarah Islam Afghanistan Adalah Embrio Khilafah

 

Pemimpin Al Qaeda, Ayman al Zawahiri menyerukan kepada semua Muslim untuk bersatu melawan “aliansi kafir internasional” dalam sebuah video yang baru dirilis. Dengan durasi 5 menit, video yang diposting online pada 23 Agustus tersebut, berjudul “Perang Kesadaran dan Niat – Bangunan yang Kokoh.” Di dalamnya, Zawahiri mempertahankan Imarah Islam Taliban Afghanistan sebagai contoh bagi Muslim untuk ditiru. Ia mengklaim bahwa Taliban telah mengoreksi “jalan jihad Afghanistan” setelah jatuh ke dalam perselisihan.

Pemimpin al-Qaeda tersebut memulai ceramah singkatnya dengan mengingatkan para pendengarnya bahwa khalifah Islam terakhir jatuh selama Perang Dunia Pertama. Zawahiri menyesalkan bahwa orang-orang kafir dan penjajah membagi wilayah ummat Islam menjadi lusinan kepingan. Tapi dari sudut pandang Zawahiri, harapan terhadap kebangkitan khilafah tidak hilang.

Berbagai gerakan “muncul” dari dalam ummah (komunitas Muslim di seluruh dunia) “untuk melawan” “tirani” orang-orang kafir. Yang paling penting dari semua ini adalah berdirinya Imarah Islam Taliban di Afghanistan, yang mengatur proyek jihadis di Afghanistan di jalan yang benar.

Baca juga:

Pesan Zawahiri menyoroti poin penting yang sering terlewat: Al-Qaeda menganggap Imarah Islam Afghanistan sebagai pusat dari khalifah yang selama ini dibayangkan, yang telah dibangkitkan kembali. Tentu saja, al Qaeda menolak Khilafah versi Abu Bakar al Baghdadi, yang kini telah kehilangan sebagian besar wilayahnya. Kedua belah pihak telah berada dalam konflik terbuka sejak 2014. Dan Zawahiri secara implisit menarik kontras antara klaim eksklusif Islamic State tentang kekuasaan dan pendekatan al-Qaeda sendiri, yang seharusnya lebih inklusif.

Landasan penting dari argumen Zawahiri adalah bahwa Imarah Taliban menikmati dukungan luas dan tugas para jihadis adalah untuk mendukungnya.

Zawahiri mengatakan bahwa Osama bin Laden dan para “pemimpin” jihadis lainnya tahu betapa pentingnya bagi mujahidin untuk berkumpul di sekitar “Imarah yang diberkati”, Taliban, karena mereka adalah “inti” dari upaya Muslim “untuk membangun kembali khilafah dengan metodologi kenabian.”

Bin Laden meminta ummah untuk bersatu di belakang Imarah Islam Afghanistan dan, Zawahiri mengklaim, “banyak yang menjawab panggilannya.” Meskipun bin Laden meninggal sebagai “martir,” dia telah “menanam benih dari pertemuan ini di sekitar Imarah Islam.” Zawahiri mengklaim bahwa banyak kelompok bergabung “bersama-sama di sekitar Imarah Islam ini,” membentuk “aliansi jihad internasional” yang membentang dari Turkestan hingga Samudera Atlantik.

Menurut Zawahiri, Imarah Islam Taliban telah memenangkan kasih sayang ummah dan terus menikmati dukungan ini bahkan ketika ia berperang melawan Tentara Salib dan kafir yang menginvasi Afghanistan. Oleh karena itu, “tugas” para jihadis untuk “memperkuat” persatuan Muslim di sekitarnya. Dia menyerukan kepada Muslim untuk mendukung perang Taliban melawan kampanye Tentara Salib di Afghanistan dan di tempat lain.

Dibangun di atas contoh Imarah Taliban, Zawahiri berpendapat bahwa para ulama yang “tulus” dan mujahidin harus mengembangkan persatuan di antara publik, sementara memperingatkan terhadap mereka yang menabur perpecahan dan membenarkan penumpahan darah Muslim. Zawahiri mengatakan Al Qaeda ingin “menyatukan” ummah, karena ini akan membuat ketakutan di hati musuh-musuh mereka. “Persatuan” akan mengarah pada “kemenangan” dan merupakan “landasan kuat” yang diperlukan untuk membangkitkan kembali kekhalifahan.

 

Baca halaman berikutnya: Bagian dari Pesan Bahwa Al-Qaeda Pro-Taliban dan Anti IS