Pasca Ghazni, Taliban Merebut Markas Militer di Baghlan dan Faryab

Ketika pasukannya ditarik keluar dari Kota Ghazni setelah lima hari mendudukinya, Taliban menewaskan 45 personil keamanan Afghanistan dalam serangan terhadap pangkalan militer di provinsi utara Baghlan Selasa malam (14/8). Taliban tidak pernah melambat dalam melancarkan banyak serangan di seluruh negeri bahkan ketika mereka mengerahkan banyak sumber daya yang signifikan untuk pertempuran di Ghazni.

Taliban menyerbu “pangkalan militer Allahuddin di distrik Baghlan-e Markazi” dalam serangan larut malam dan menewaskan “36 tentara dan sembilan Polisi Lokal Afghanistan,” kata ATN News .

“Taliban juga menyita semua peralatan yang tersedia,” dan pejuangnya dikatakan masih menduduki markas itu, kantor berita Afghanistan melaporkan.

Serangan di Baghlan terjadi hanya satu hari setelah Taliban menyerbu pangkalan di Faryab setelah mengepungnya selama tiga hari. Setidaknya 43 tentara tewas dan 17 lainnya ditangkap, dan sisa 40 tentara yang ditempatkan di sana menyerah kepada Taliban.

Baca juga:

Serangan terhadap pangkalan militer seperti yang ada di Faryab dan Baghlan sudah sering terjadi. Menurut laporan dari Afghanistan menunjukkan bahwa Taliban telah menduduki pangkalan dan pos pemeriksaan hampir setiap hari selama dua bulan terakhir.

Taliban telah menggunakan kontrolnya terhadap distrik-distrik pedesaan untuk mengepung pangkalan militer dan pos-pos militer Afghanistan yang terekspos, membunuh atau menangkap personil keamanan Afghanistan, dan merebut peralatan perang.

Serangan-serangan ini juga memberikan propaganda yang berharga bagi Taliban, yang para pejuangnya sering menduduki pangkalan militer. Yang tak kalah penting, serangan itu terus mengikis kepercayaan warga sipil Afghanistan dalam menilai kemampuan pemerintah untuk melindungi mereka dan mengamankan negara.

Respon NATO terhadap kontrol mutlak Taliban atas daerah pedesaan adalah dengan menyarankan pasukan Afghanistan untuk mundur dari pangkalan dan pos pemeriksaan yang lebih jauh dan melindungi daerah-daerah yang lebih padat di negara itu.

Namun, karena serangan terakhir terhadap kota Ghazni dan Farah terbukti – menjadi dua ibukota provinsi utama dan strategis di timur dan barat – Taliban juga cukup mampu mengancam pusat populasi besar. Taliban menggunakan kontrolnya terhadap daerah pedesaan di sekitar distrik untuk meluncurkan serangan besar dan menduduki Ghazni, Farah, dan Kunduz City (dua kali) selama tiga tahun terakhir.

Baca juga:

Masing-masing serangan besar ini tidak terdeteksi oleh militer, polisi, dan pemerintah Afghanistan, maupun NATO. Dominasi Taliban di daerah pedesaan telah sangat menghambat kemampuan militer dan NATO untuk mendeteksi dan mencegah serangan-serangan ini.

Dalam setiap contoh, pejabat lokal Afghanistan telah memperingatkan bahwa kota-kota berada di bawah ancaman, sementara pemerintah Afghanistan menolak klaim tersebut dan menolak mengirim bala bantuan. Taliban merencanakan dan mengerahkan pasukannya tanpa terdeteksi, dan pemerintah Afghanistan hanya mengirimkan bantuan dan NATO meluncurkan serangan udara setelah Taliban menduduki kota-kota.

 

Baca halaman selanjutnya: Taliban menarik diri dari Ghazni City