Bizantium Mengajari Amerika Bagaimana Berperang di Afghanistan

Jenderal John “Mick” Nicholson adalah komandan pasukan AS di Afghanistan yang akan segera diganti. Ia baru-baru ini menciptakan beberapa kontroversi dengan menyatakan bahwa strategi AS di Afghanistan berhasil. Beberapa kritikus menunjukkan bencana di depan mata yang menimpa pasukan Afghanistan di ibukota provinsi Ghazni sebagai bukti kegagalan utama Amerika dalam mempersiapkan pasukan bersenjata Afghanistan dan pemerintahan Afghanistan untuk melakukan operasi independen melawan Taliban.

Pihak lain, termasuk Dewan Editorial harian Washington Post, telah menyerukan untuk meninggalkan tanah Afghanistan sepenuhnya. Jika Jenderal Nicholson pernah menjadi komandan senior imperium Bizantium, komentarnya tidak akan membuat kegaduhan publik. Dia akan menyatakan fakta yang sederhana dari strategi yang baru diterapkan.

Ketika Kekaisaran Romawi Barat akhirnya runtuh pada Abad Kelima Masehi, sekutu timurnya – yang disebut Kekaisaran Bizantium – berhasil bertahan hidup selama seribu tahun. Hingga mendekati akhir kejayaannya, Bizantium mungkin tetap menjadi contoh yang baik tentang bagaimana mempertahankan masyarakat yang sehat dan relatif makmur dapat bertahan hidup di dunia yang bergolak, yang dikelilingi oleh musuh-musuh potensial dan juga kadang-kadang teman dan sekutu yang sembrono. Perang-perang yang dilakoni Bizantium juga dapat mengajari banyak kepada AS tentang perang yang sedang berlangsung di Irak dan Afghanistan.

Kenyataannya adalah bahwa Kekaisaran Bizantium hampir selalu berperang di suatu tempat di pinggiran wilayahnya. Sebagian besar adalah perang kecil yang diperjuangkan oleh pasukan ekspedisi yang diutus ke wilayah tertentu, seperti upaya AS saat ini di Afghanistan dan Irak. Perang-perang tersebut adalah peperangan untuk menjaga wilayah, agar musuh keluar dari area yang dianggap penting secara strategis. Beberapa musuh telah familiar. Musuh yang berasal dari golongan kelompok radikal Islam datang dan pergi seperti halnya Persia, Arab, Slavia, dan Turki.

Ada persamaan lain dengan perang Amerika hari ini. Salah satunya adalah penggunaan tentara bayaran dan berbagai jenis kontraktor militer, khususnya ketika meriam mulai muncul menjadi senjata andalan. Bizantium tidak takut untuk sering menggunakan uang suap sebagai kekuatan ekonomi untuk menjaga satu musuh tetap berada di teluk sembari mencoba untuk berurusan dengan satu musuh lainnya.

Perang dan diplomasi dilihat sebagai dua hal yang sepenuhnya terintegrasi dan dinegosiasikan, alih-alih kemenangan absolut. Jadi, komentar Jenderal Nicholson tidak akan terlihat aneh jika dipandang dari sudut pandang Bizantium. Kehancuran total dari pemerintah musuh sama artinya bahwa Bizantium harus menghabiskan tenaga dan harta untuk mengatur wilayah yang ditaklukkan. Ini bukan solusi optimal bagi penguasa Konstantinopel, meskipun mereka kadang-kadang terpaksa untuk melakukannya.

Dalam perang untuk menjaga perbatasan wilayahnya, Kekaisaran Bizantium pada puncaknya menggunakan tentara yang berdiri profesional – campuran warga dan tentara – tetapi untuk pertahanan dalam negeri, mereka menggunakan warga negara loyal, yang terpilih, yang dikumpulkan dari berbagai Themes (provinsi) sehingga menghindari bahaya terciptanya sekelompok tentara bayaran yang akan menjadi cukup kuat untuk melakukan kudeta militer.

Salah satu kondisi di mana Bizantium sangat mirip dengan kondisi Amerika pasca perang dingin adalah dalam menangani klien dan calon sekutu. Seperti AS, Kekaisaran Bizantium bersedia mentoleransi penyimpangan dalam pemerintahan negara calon sekutu dan bahkan mentoleransi kompetensi rendah negara sekutunya selama mereka tetap dapat diandalkan. Ketika mereka tidak bermusuhan dengan Bizantium, orang-orang Bulgar bisa sama cerobohnya dengan pemerintah Afghanistan dan Irak saat ini sebagai sekutu AS. Namun, dalam masa aliansi, mereka menyediakan dukungan yang berguna untuk melawan “para nomaden yang tidak diinginkan”, sehingga membebaskan Kekaisaran untuk menggunakan pasukan ekspedisi profesional di tempat lain. Tentara ekspedisi ini cukup kecil, lincah dalam bergerak, dan – terpenting dari semuanya – terjangkau biayanya.

Seperti halnya AS, salah satu musuh paling gigih dari Bizantium adalah berbagai perwujudan dari apa yang sekarang disebut AS sebagai “Islam radikal”. Sepanjang berdirinya, Bizantium menghadapi setidaknya sepuluh kali peperangan dengan “Islam radikal”. Untungnya, bagi Kekaisaran, tidak peduli seberapa berbahayanya kaum Islamis, mereka akhirnya kehabisan tenaga. Dalam kasus AS, ISIS dan Al Qaeda tampaknya kehilangan tenaga, tetapi akan ada pemimpin lain yang muncul, dan mereka perlu ditangani.

Perbedaan utama antara sistem keamanan kuno Bizantium dan modern Amerika adalah salah satu hal yang krusial. Meskipun sistem keamanan Bizantium sangat besar pada zaman itu, tetapi relatif kecil dibandingkan dengan apa yang dihadapi AS saat ini. Selain itu, ancaman yang mengelilinginya relatif kompak dan selalu ada. Akibatnya, kekaisaran Bizantium hampir selalu berperang di suatu tempat di pinggiran wilayahnya. Periode kedamaian yang berkepanjangan adalah suatu anomali.

Banyak yang percaya bahwa AS telah berada dalam perang abadi di Irak dan Afghanistan sejak 9/11, tetapi kita juga melihat satu dekade kedamaian relatif setelah jatuhnya Uni Soviet. Namun, perang penjagaan wilayah yang dilakukan As mungkin lebih jarang daripada yang terjadi di Bizantium, ketika kita menatap abad 21, tetapi hampir pasti akan ada lebih banyak dari mereka. Perimeter keamanan AS membentang dari Filipina dan Laut Cina Selatan ke Negara Baltik, dan beberapa orang akan mengatakan bahwa perbatasan selatan kita sendiri telah menjadi zona peperangan yang tidak biasa. Periode kedamaian sepertinya akan dianggap relatif langka oleh para sejarawan masa depan.

Kebanyakan orang Amerika modern tidak ingin hidup di Kekaisaran Bizantium. Itu adalah masyarakat yang secara keagamaan tidak toleran dan kaku secara sosial, tetapi sebagian besar warganya mungkin tidak ingin tinggal di tempat lain meskipun ada alternatif lain. Perencana militer Amerika yang berusaha memahami strategi abad 21 baru akan lebih baik jika menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempelajari Bizantium, daripada mempelajari perang abad ke-20.

 

Sumber: smallwarsjournal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *