Kaum Fir’aun: Menganggap Azab Sebagai Bencana Biasa dan Selalu Ingkar Janji

Bagi orang yang tidak beriman dan tertutup hatinya dari hidayah, bukti apa yang terjadi di muka bumi yang menunjukkan kekuasaan Allah, tidak akan pernah menyadarkannya. Berbagai peringatan dalam bentuk berbagai bencana yang hadir silih berganti mereka anggap sebagai bencana biasa. Padahal bencana-bencana itu, tidak pernah terjadi sebelumnya.

Ketika merasa khawatir bahwa itu memang betul-betul azab, mereka lalu datang mengemis kepada nabi untuk menghilangkan bencana tersebut. Tentu saja, diberengi dengan janji-janji manis. Tetapi tatkala bencana itu lenyap, tidak satu pun janji itu mereka penuhi. Inilah potret kaum Firuan. Suatu potret yang diabadikan dalam Al-Quran.

Dalam satu fragmen sejarah yang dikisahkan Al-Quran, tatkala kekerasan dan siksaan Firaun dan para pembesarnya terhadap orang-orang beriman semakin bertambah. Tatkala mereka menjalankan ultimatum dan ancamannya dengan membunuh anak-anak laki-laki Bani Israil dan membiarkan anak-anak wanitanya.

Baca juga:

Sementara Musa bersama kaumnya juga telah menempuh hidupnya dengan menanggung berbagai siksaan. Mereka mengharap bahwa Allah akan membebaskan mereka, dan memberikan kesabaran atas ujian yang mereka hadapi. Pada saat sikap tegas dibutuhkan, yaitu ketika iman berhadapan dengan kesabaran, dan kekuatan bumi menentang Allah, maka kekuatan terbesar terjun secara terang-terangan di antara orang-orang yang sewenang-wenang dan orang-orang yang sabar.

Allah pun menurunkan berbagai bencana yang silih berganti sebagai bentuk hukuman buat mereka. Bencana pertama yang Allah turunkan kepada mereka musin kemarau panjang yang kemudian diikuti dengan kegagalan pertanian mereka, “Dan sesungguhnya kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.” [Al-A’raf: 130].

Musim kemarau panjang (sinin) yaitu bertahun-tahun masa kekeringan, paceklik, dan kelaparan.  Ini dikarenakan sangat sedikitnya hujan yang menyebabkan penyusutan drastis jumlah volume air sungai Nil yang merupakan sumber utama pengairan pertanian Mesir.

Ini terjadi di negeri Mesir yang selama ini subur, produktif, dan banyak menghasilkan buah-buahan. Ini merupakan sebuah fenomena yang menarik perhatian, menggoncang kalbu, menimbulkan kegoncangan, dan mendorong orang untuk merenungkan dan berpikir.

Namun hal ini juga tidak membuat mereka jera. Kemudian Allah pun menurunkan bencana kedua berupa kekurangan buah-buahan. Pada hakikatnya, bencana kedua ini merupakan pengaruh dari bencana pertama. Tatkala volume hujan sangat sedikit yang menyebabkan penurukan sifnifikan terhadap volume air, maka pertanian pun mengering dan layu, sehingga panen buah-buahan pun berkurang drastis. Kekurangan buah-buahan ini menyebabkan lemahnya kemampuan finansial, ekonomi, dan ketahanan pangan mereka.

Baca juga:

Tetapi Firaun dan kaumnya tidak mau menyadari adanya hubungan antara kekafiran dan penyimpangan mereka dari agama Allah. Mereka tetap tidak sadar bahwa kezaliman dan kesewenang-wenangan mereka terhadap hamba-hamba Allah, menyebabkan dihukumnya mereka.  Hukuman berupa kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan di negeri Mesir yang sebelumnya subur dan produktif.

Setelah dua bencana tersebut juga tidak membuat Firaun dan kaumnya sadar. Bahkan mereka semakin congkak seraya berkata, “Bukti apa saja yang engkau (Musa) bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu” [Al-A’raf: 132].  Kemudian, Allah pun menurunkan bencana lainnya berupa topan, belalang, kutu, katak, dan darah. “Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas” [Al-A’raf: 133].

Bencana topan itu berupa hujan lebat yang dapat menenggelamkan dan merusak segala macam tanaman dan buah-buahan.  Allah jadikan topan tersebut sebagai bukti, ujian dan hukuman bagi Firaun dan kaumnya. Manakala sebelumnya mereka diuji dan dihukum dengan kekurangan air, sekarang justru mereka dihukum dengan banyaknya air.

Setelah bencana topan, Allah kemudian menurunkan bencana berupa belalang, hama perusak yang bisa membinasakan pertanian dan buah-buahan. Setelah Allah menurunkan topan kepada kaum Firaun sehingga terjadi banjir, pada saat itu, musim pertanian menjadi bagus sehingga mereka pun bergembira karena bisa kembali mengolah pertanian tersebut. Apalagi sebelumnya mereka mengalami musim kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan.

Tatkala mereka telah mengolah lahan pertanian mereka dan pertanian tersebut tumbuh dengan baik yang menyebabkan mereka sangat bahagia dan gembira, Allah pun menurunkan bencana belalang tersebut kepada mereka. Belalang itu memakan pertanian mereka sehingga pupus dan sirnalah harapan mereka.

Sedangkan bencana kutu (qummal) yaitu sejenis kutu atau hama yang biasa dimakan oleh unta.  Kutu tersebut memakan bulir-bulir dan biji-biji pertanian mereka. Ini adalah bencana lain yang Allah turunkan kepada mereka. Setelah Allah mengirim belalang yang memakan sebagian besar pertanian mereka.

Baca juga:

Sebagian kecil yang selamat dari belalang itu lalu menumbuhkan bulir-bulir yang berisi biji-biji yang bagus. Mereka lantas menyebarluaskan hal itu sebagai pertanda baik dan menganggap bahwa itu adalah hasil jerih payah mereka.

Akan tetapi, menjelang masa panen, tiba-tiba Allah menurunkan bencana lain yang tidak mereka duga berupa kutu yang merusak itu semua.  Setelah bencana kutu juga tidak membuat Firaun dan kaumnya sadar, Allah pun lantas mengirimkan bencana lain yang datang susul-menyusul berupa bencana katak dan darah.

Mau tidak mau, Firaun dan kaumnya akhirnya merasa dengan munculnya berbagai bencana tersebut. Para pembesar Firaun lantas mendatangi Nabi Musa agar berdoa kepada Rabbnya untuk menyelamatkan mereka dari bencana-bencana tersebut.

Bahkan mereka berjanji kepada Nabi Musa untuk melepaskan Bani Israil setelah mereka diselamatkan dari bencana itu. “Wahai Musa! Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-nya kepadamu. Jika engkau bisa menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan Bani Irail pergi bersamamu” [Al-A’raf: 134].

Akan tetapi, setiap kali diselamatkan, mereka mengingkari janji mereka, dan kembali pada sikap mereka sebelum dilenyapkannya azab tersebut. “Tetapi setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang harus mereka penuhi, ternyata mereka ingkar janji” [Al-A’raf: 135]. Atas kekufuran, pembangkangan, kezaliman, dan ingkar janji yang mereka lakukan, kelak mereka akhirnya Allah hukum dengan ditenggelamkan di dalam laut.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *