Analis: Taliban Telah Menang di Afghanistan

Setiap pemangku kepentingan utama di Afghanistan sekarang terbuka untuk berbicara dengan Taliban. Tapi siapa sebenarnya ‘Taliban’?

 

Afghanistan tidak lagi menempati berita utama seperti Suriah dan Yaman – tetapi sudah menjadi, perang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, mirip Perang Vietnam.

Paska serangan 11 September 2001 – aliansi NATO yang dipimpin Amerika terjebak dalam perang di banyak negara. Bahkan Suriah dan Irak sekarang melihat akhir permainan yang jelas – meskipun negosiasi yang rumit. Namun, di Afghanistan tidak ada akhir yang terlihat.

Hampir setiap hari ada serangan Taliban terhadap pasukan NATO dan pemerintah Afghanistan. Berbicara tentang ‘strategi di Afghanistan’ telah menjadi tema yang membosankan di editorial Barat yang diikuti oleh keniscayaan kekalahan Amerika di Afghanistan.

Baca juga:

Bulan lalu, untuk pertama kalinya, pemerintahan Trump mengadakan pembicaraan langsung di Qatar dengan Taliban – ini adalah perubahan yang luar biasa setelah Bush pertama kali mengancam untuk melenyapkan Taliban 17 tahun lalu.

Afghanistan telah membayar harga yang mahal selama 17 tahun perang Amerika yang berlangsung tanpa strategi besar yang terlihat.

Kekerasan selalu tinggi sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan serangan Taliban baru-baru ini terhadap Ghazni adalah pengingat bahwa mereka tetap menjadi punya power di kota.

Taliban lama tidak ada lagi

Ketika seseorang berpikir tentang Taliban lama, citra yang muncul adalah kelompok militan yang sangat puritan yang menghindari televisi dan kamera, meledakkan patung-patung Buddha, melarang pendidikan anak-anak perempuan dan membunuh kelompok agama atau etnis lain. Memang mereka meledakkan patung Buddha Bamyan, menutup sekolah anak perempuan , dan menolak menyerahkan pria paling dicari di dunia, Osama Bin Laden.

Namun ada Taliban lain yang tidak sering ditampilkan – yang melakukan perjalanan ke Texas dan berbicara dengan Amerika dan Argentina . Banyak diplomat Taliban berbicara bahasa Inggris dengan lancar, dan juga muncul di TV untuk berbicara dengan orang- orang seperti Charlie Rose.

Masyarakat internasional juga mengakui bahwa Taliban melarang penanaman opium. Secara regional, Taliban membunuh diplomat Iran dan memusuhi Syiah. Ada juga fakta yang diterima secara luas bahwa Intelijen Antar-Dinas Angkatan Darat Pakistan (ISI) adalah pendukung utama Taliban bersama dengan Saudi dan Emirat.

Baca juga:

Namun ketika pertempuran memuncak pada musim panas 2018 – banyak dari apa yang benar dari ‘Taliban lama’ tidak sama lagi dan mereka tidak lagi memiliki pemimpin misterius dan karismatik seperti Mullah Omar, dan Pakistan bukan satu-satunya pendukung Taliban – nyatanya beberapa negara di kawasan itu bergegas untuk membantu mereka dan bahkan Amerika Serikat sedang berbicara dengan mereka.

 

Baca halaman selanjutnya: Taliban telah Kembali