Khilafah Turki Utsmani Dirikan Akademi Militer dan Kirim Bantuan Militer ke Kesultanan Aceh

Setelah tertunda disebabkan oleh kematian Sultan Sulaiman (Salim I) pada tahun 1566, penggantinya Salim II dengan penuh semangat menggarap proyek memperluas kekuasaan Turki ke Samudera Hindia. Dalam serangkaian keputusan pada tahun 1567 ia tidak hanya memerintahkan armada 15 kapal dan 2 barques untuk dikirim untuk membantu Aceh, tapi juga menginstruksikan Gubernur Mesir untuk membangun sebuah kanal di Suez sehingga kapal perang bisa pergi bolak-balik ke Samudera Hindia secara teratur. Munculnya pemberontakan di Yaman terganggu rencana ini, armada yang ditunjuk dialihkan ke Yaman, dan hanya beberapa senjata dan meriam yang mencapai Aceh.

Menurut Anthony Reid yang mengambil sumber tulisan dari ahli sejarah Turki di tahun 1912, Saffet Bey, berjudul “Bir Osmanli Filasunun Sumatra Saferi», surat keputusan Sultan Salim II bertanggal 16 Rabi’ul-awwal 975 (20 September 1567), berisi penyambutan positif atas permintaan Sultan Aceh yang dibawa oleh wazir (utusan) nya bernama Husin.

Dari pertemuan Husin dengan Salim II diketahui betapa besarnya tekad kaum Muslimin di Kepulauan Hindia untuk mambasmi kafir Portugis yang angkara murka. Ia minta supaya Turki mengirim armadanya untuk mengganyang kafir Portugis. Juga diinginkan agar kiranya dikirim para ahli pembuat meriam.

Meriam lada Secupak

(Museum Bronbeek, No.27. Foto Fiona Kerlogue)[1]

Dalam keputusan itu Sultan Turki memerintahkan para Gubernur Yaman, Aden dan Mekkah membantu pasukan Turki yang sedang bertolak menuju Aceh. Surat keputusan tersebut mengabulkan permohonan utusan Aceh, Husin, dengan memberangkatkan 15 buah kadirga (galley, gurap) dan dua meriam untuk berangkat dari Kairo bersama seorang pemimpin ahli membuat meriam dengan 7 tukang-tukangnya. Juga turut diberangkatkan beberapa pasukan, meriam-meriam besar kecil. Laksamana Turki, Kurt Oglu Hizir, diserahi memimpin ekspedisi tersebut dengan tugas khusus mengganyang musuh Aceh, mempertahankan agama Islam dan merampas benteng-benteng kafir.

Baca juga:

Sultan Salim II juga menginstruksikan sebuah Angkatan Laut dibawah komando Laksamana Kourdoglu Hizir Reis dari Armada Utsmaniyah di kawasan Laut Merah untuk berlayar menuju Sumatera (Aceh) pada tanggal 20 September 1567. Pada waktu itu Turki Utsmani memiliki empat kekuatan Angkatan Laut yang terpencar. Mereka terdiri dari kekuatan Armada Angkatan Laut di Mediterania, Laut Hitam, Laut merah, dan Stream Flest di Danube.

Selain itu juga ada beberapa angkatan laut di teluk Basra, akan tetapi tidak termasuk dalam satu organisasi AL. Sultan Salim II juga memerintahkan secara tertulis kepada beberapa ulama serta para ahli teknik untuk ikut serta berlayar dan tinggal di Sumatera sejauh Sultan Aceh masih memerlukan mereka.

Kapal perang Khilafah Turki Utsmani, Ertuğrul, sekitar tahun 1863, Studio Foto Percetakan Angkatan Laut. Foto Proyek Ertugrul

Para ahli tambang, khususnya ahli besi dan baja, bronze, insinyur ahli kapal dan boat, ahli persenjataan artileri, para ahli militer dikirimkan ke Aceh. Ekspedisi militer pertama ini dikenal sebagai bantuan kebudayaan dan teknik pertama dalam sejarah hubungan antara Turki dengan Aceh. Kedatangan ekspedisi Turki di Aceh disambut dengan upacara kebesaran, dan kepada Laksamana Kourdoglu Hizir Reis dianugrahkan gelar Gubernur oleh Sultan Aceh.

Turki Utsmani mendirikan Akademi Militer di Aceh

Selama berada di Aceh, banyak diantara instruktur Turki yang menikah dengan wanita Aceh, sehingga mereka membaur dengan masyarakat setempat. Dengan demikian Turki telah memberikan sumbangan teknologi mutakhir pada masa itu. Salah satu sumbangan dan bantuan monumental yang diberikan oleh Turki kepada Aceh diantaranya ialah dibangunnya Sekolah/Akademi Militer dengan nama: “Mahad Beitul Mukaddis” (atau Ma’had Baitul Makdis) di Aceh. Para instruktur Turki baik Darat maupun Laut telah mendidik para Taruna Aceh di Akademi Militer tersebut. Akademi Militer ini memiliki dua jurusan, Darat dan Laut.

Baca juga:

Di salah satu tempat di kota Banda Aceh, daerah tersebut disebut Bitay, tempat tersebut ada kaitannya dengan kedatangan orang-orang Turki. Banyaknya buku-buku mengenai agama (Islam) dan teknik yang dibawa oleh rombongan Utsmaniyah telah hancur ketika Perpustakaan tua di Bitay tersebut terbakar dalam Perang Dunia II.

Permintaan Sultan Aceh berupa bantuan senjata dan tenaga ahli telah dipenuhi oleh Sultan Salim II.  Sultan Turki memberi berbagai macam senjata dan kira-kira 300 orang tenaga ahli (salah satunya ahli senjata, yaitu meriam besar, meriam lada Secupak).

 

Referensi:

Mohammad Said: “Aceh Sepanjang Abad”, Jilid I, Penerbitan Waspada-Medan, 1981,

Anthony Reid, “Sixteenth Century Turkish Influence in Western Indonesia” Journal of the SEA History, Dec. 1969.

Anthony Reid, The Ottomans in Southeast Asia, Asia Research Institute Working Paper Series No. 36, National University of Singapore February 2005.

Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce Vol. II (New Haven: Yale University Press, 1993)

Solikhin Salam, Malahayati, Srikandi dari Aceh Jakarta : Gema Salam, 1995.

Paper Mr. Metin Inegollu (Ambassador of Turkey) untuk Seminar Kebudayaan Aceh, 14 Juli 1988.

Prof. H. A. Hasjmy: “Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia”, Bulan Bintang-Jakarta, 1990,

[1] Sumber gambar: www.ottomansoutheastasia.org/