Luka Penduduk Gaza tak Kunjung Sembuh

Jaksa militer Israel baru saja menutup penyelidikan internal terhadap tindakan tentara selama serangan militer di Jalur Gaza pada musim panas 2014.

Lebih dari 2.200 warga Palestina, mayoritas warga sipil, menjadi korban jiwa dalam operasi 51 hari itu.

Muhammad al-Najjar kehilangan sebagian besar keluarganya dalam sebuah serangan udara Israel. “Sebelum saya mengatakan sesuatu, saya ingin mengatakan turut berduka kepada siapa pun yang lahir pada 26 Juli 2014. Saya menyebutnya Hari Kegelapan,” kata Muhammad di awal wawancara kami.

“Saya berusaha menjaga mata dan kepala saya tertutup pada tanggal tersebut setiap tahun; ketika saya bangun pada hari itu saya hanya melihat kegelapan, asap dan darah. ”

Pada hari itu di tahun 2014, Muhammad, saat itu berusia 20 tahun, dan istrinya Iman, 19 tahun, pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter dan menyiapkan kelahiran anak kedua mereka.

Kemudian Muhammad dan istrinya kembali ke rumah mereka di timur Khan Younis, Gaza selatan, sebelum matahari terbenam pada 25 Juli. Saat itu, mereka mendapati rumah mereka penuh sesak dengan wanita dan anak-anak dari keluarga besar mereka yang telah melarikan diri dari rumah yang dihancurkan oleh tembakan tank Israel.

Baca juga:

 

“Tidak ada yang menjawab”

Hari itu adalah hari-hari akhir dari bulan Ramadhan. Hampir dua lusin anggota keluarga berkumpul sebelum fajar untuk makan sahur.

“Kami baru menyelesaikan sahur kami,” kata Muhammad. “Saya mengambil cangkir teh saya dan duduk di dapur. Tiba-tiba, saya merasakan sebongkah besar api menghantam wajah saya. Saya pikir saya kehilangan kesadaran selama beberapa menit dan kemudian mulai berteriak memanggil ibu saya, istri, saudara laki-laki dan paman. Tapi tidak ada yang menjawab. ”

Muhammad melihat cahaya samar-samar dan berteriak minta tolong. Para tetangga datang ke tempat pengeboman untuk membantu memulihkan setiap orang yang selamat. Mereka menyingkirkan puing-puing dari sekitar Muhammad dan begitu mereka sampai di sana, para penyelamat mengevakuasi Muhammad dan memindahkannya ke ambulans yang datang.

“Ini adalah hal terakhir yang saya ingat. Saya kemudian terbangun di rumah sakit,” kata Muhammad kepada Electronic Intifada. “Ketika saya bangun, saya memanggil dokter untuk bertanya tentang nasib keluarga saya. Dia menenangkan saya dan memberi tahu saya bahwa mereka baik-baik saja, mereka dirawat di kamar sebelah dan saya akan segera melihat mereka.”

Baca juga:

Meskipun dokter berusaha meyakinkannya, Muhammad, yang menderita luka bakar tingkat tiga di tubuhnya akibat ledakan, tidak percaya mempercayainya dan segera mulai berteriak.

Sepupu Muhammad Said al-Najjar, mendengarnya dan memasuki kamarnya. Ketika Said menatap mata Muhammad, dia mulai menangis dan berkata, “Mereka semua telah pergi.”

Dari 22 anggota keluarga yang berkumpul di rumah, hanya tiga orang yang selamat, yaitu Muhammad, saudaranya Hussein, sekarang 31 tahun, dan pamannya, Suleiman, sekarang 65 tahun.

Mereka yang meninggal adalah ayah Muhammad, Samir, dan ibunya Ghalia; Iman, istri Muhammad, bayi perempuan mereka Ghalia dan putra mereka yang belum lahir, Anas; saudara perempuan Iman, Baraa, 11; saudara lelakinya, Majid dan saudara perempuannya, Kifah, Ikhlas, dan anak-anak Ikhlas, semuanya berusia di bawah 5 tahun: Islam, Amira, dan Amir.

Kemudian, Khalil, Adik Ghalia dan paman Muhammad, dan istri Khalil, Sumaya dan anak remaja mereka, Rawan dan Ahmad, 16, dan Hani, 7.

Kemudian, Riham, istri Hussein yang sedang hamil dan anak-anak kecil mereka, Samir, 1, dan Muataz, 5. Ada dua anak dari Hussein dan Riham yang selamat, yaitu Hussam dan Olfat, karena mereka tinggal bersama sanak keluarga lainnya.

Secara keseluruhan, 19 anggota keluarga Muhammad terbunuh, di antaranya enam wanita – dua di antaranya hamil – dan 10 anak-anak, di samping bayi Muhammad dan Iman yang seharusnya lahir beberapa hari kemudian.

Baca juga:

 

Kenangan

Ketika Muhammad meminta dokter untuk mengizinkannya melihat kerabatnya yang terbunuh, dokter menolak, karena kondisinya yang lemah. Sepupunya, Said, membantunya menyelinap keluar dari rumah sakit untuk pergi ke kuburan sebelum pemakaman mereka.

Said memboncengkan Muhammad di sepeda motornya, mengikuti ambulans yang membawa jenazah ke kuburan.

Selama penguburan, kenangan orang-orang yang dicintainya datang kepada Muhammad: “Saya ingat bagaimana saya dulu menghibur istri saya selama sakitnya, tawa putri saya yang indah, lelucon saya dengan paman saya, anak-anak dan permainan mereka, dan banyak momen lainnya dengan masing-masing dari mereka.”

Saudari Muhammad, Kifah, 23, menderita cerebral palsy. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan saudari saya ketika dia tidak bisa mencoba melarikan diri,” katanya.

Keluarga Muhammad adalah salah satu dari puluhan keluarga lainnya yang kehilangan keluarganya selama pemboman 51 hari.

“Setidaknya 142 keluarga kehilangan tiga atau lebih anggota dalam serangan di sebuah bangunan perumahan selama musim panas 2014, yang mengakibatkan 742 kematian,” menurut penyelidikan dari komisi PBB.

Baca juga:

“Fakta bahwa Israel tidak merevisi praktik serangan udara, meskipun telah jelas memiliki efek mematikan pada warga sipil, menimbulkan pertanyaan apakah ini adalah bagian dari kebijakan yang lebih luas yang setidaknya diam-diam disetujui di tingkat pemerintahan tertinggi,” masih menurut komisi PBB tersebut

Muhammad membutuhkan waktu setengah tahun untuk pulih secara fisik dari luka-lukanya. Muhammad pindah bersama pamannya, Ibrahim al-Najjar, yang bekerja sebagai pedagang ternak.

 

Baca halaman selanjutnya: Masa Pemulihan yang Panjang