Apa Indikasi Taliban Menang Melawan Amerika di Afghanistan?

Amerika Gagal Dan Taliban Menang di Afghanistan, Mengapa Demikian? Berikut analisis seorang kontributor CNN berdasarkan perkembangan terakhir perang AS di Afghanistan;

Taliban menyerbu kota strategis Ghazni pada hari Jumat, akhirnya menewaskan ratusan orang selama setidaknya empat hari pertempuran sengit di kota dan merusak strategi keamanan pasukan Afghanistan untuk fokus menjaga pusat populasi (kota) tetap aman.

Pada Selasa malam, 39 tentara tewas di provinsi Baghlan ketika Taliban menyerbu pangkalan mereka. Dan 17 tentara juga tewas ketika pangkalan mereka di Faryab juga dikuasai Taliban.

Meskipun ini adalah masalah kebijakan luar negeri Presiden Trump yang menggambarkan strateginya, Gedung Putih belum bersikap.

Ketika ditanya, juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders enggan berkomentar langsung tentang Ghazni. Gedung Putih tetap “berkomitmen untuk mencari solusi politik untuk mengakhiri konflik di Afghanistan,” katanya, dan “akan terus meninjau dan melihat cara terbaik untuk mencapai kemajuan” tambahnya. (Baca artikel terkait: Taliban Berhasil Kuasai Ibukota Propinsi Ghazni)

Afghanistan telah berubah dari perang yang terlupakan, menjadi perang yang diabaikan (rakyat AS). Lihatlah fakta di atas dan tanyakan: apa yang sebenarnya terjadi?

Tanggung jawab itu tampaknya ada pada rekayasa Barat, mencari jalan keluar yang dapat dibenarkan, atau perang yang tertutup secara diam-diam.

Sebuah perubahan besar terjadi terjadi dalam kebijakan AS selama beberapa bulan terakhir, tetapi hampir tidak dipublikasikan bahwa: tidak mengapa berunding langsung dengan Taliban.

(Baca artikel terkait: Mengapa Taliban Mengajak Dialog Dengan Amerika, Bukan Rezim Kabul?)

Meskipun belum ada konfirmasi resmi, beberapa sumber telah menguatkan klaim Taliban bahwa mereka bertemu dengan pejabat senior AS baru-baru ini di Doha.

Mengapa ini penting? Karena AS telah berusaha melakukan pembicaraan damai dengan Taliban selama bertahun-tahun, namun dengan satu syarat: harus antara Taliban dan pemerintah Afghanistan, dan AS hanya sebagai fasilitator. Namun para pemimpin Taliban selalu ingin berbicara langsung dengan “penjajah” (Amerika). Dan sekarang Taliban telah berhasil (memaksa AS).

Kita tidak tahu bagaimana pembicaraan ini berjalan. Poin utamanya adalah bahwa Taliban berada dalam posisi yang kuat, baik di medan perang maupun dalam politik atas musuh mereka: AS dan sekutunya NATO.

(Baca artikel terkait:  Taliban Menang Secara Politis Jika Amerika “Mendatangi” Taliban)

Ratusan orang telah mati dalam seminggu terakhir, mungkin menjadi periode kekerasan terburuk yang dapat saya ingat selama bertahun-tahun. Namun pertumpahan darah dalam perang terpanjang Amerika ini hampir tidak ada di layar TV Amerika.

Pentagon memiliki kekuatan yang terbatas di Afghanistan. Namun, sebentar-sebentar diseret ke dalam perang melawan Taliban, seperti ketika membantu serangan udara untuk mengusir Taliban dari Ghazni.

Sekarang masih ada sekitar 14.000 tentara AS dan beberapa pasukan sekutu di Afghanistan. AS menghabiskan sekitar $ 5 miliar untuk pasukan keamanan Afghanistan setiap tahun. Namun tugas utama tentara dan polisi Afganistan – seperti yang didefinisikan sekitar satu dekade lalu – untuk dapat mengamankan negara tidak tercapai.

Angka-angka militer AS sendiri menunjukkan bahwa pemerintah mengendalikan sekitar dua pertiga penduduk, sebuah angka yang hampir tidak berubah dalam setahun terakhir, meskipun target pemerintah Afghanistan meningkat menjadi 80% pada akhir 2019.

Sebaliknya Taliban berada dalam kemajuan paling mencolok selama bertahun-tahun.

Baca juga: 

Pemimpin Taliban, Haibatullah Akhundzada, merelakan putranya melakukan serangan mencari syahid tahun lalu di Helmand. Harapan bahwa ia akan memilih penyelesaian damai yang sesuai dengan keinginan Barat masih jauh. Namun negosiasi tampaknya lebih mendesak ke Gedung Putih.

Presiden Trump telah mengatakan bahwa “menang” adalah tujuan, tetapi – seperti pendahulunya – parameternya tidak jelas.

Barack Obama dan Donald Trump keduanya (akhirnya) menganggap Afghanistan sebagai perang yang patut diperjuangkan. Obama memilih meningkatkan kekuatan militer AS, dengan batas waktu yang mungkin merugikan diri sendiri. Trump menerapkan kekuatan jauh lebih sedikit, tanpa batas waktu yang jelas. Perlahan, tampaknya keamanan semakin terkikis di Afghanistan, ibukota yang dulu aman sekarang berubah seperti garis depan.

Perdebatan tentang tindakan selanjutnya harus mengingat fakta sederhana: AS dan sekutu nya NATO telah mengalami lonjakan militer hampir satu dekade lalu. Pasukan keamanan Afganistan – sekarat dengan jumlah yang begitu besar, tidak dapat menang dan merebut wilayah yang hilang.

Tidak ada kemenangan militer di mana pun. Sebaliknya, gerakan perlawanan bermetastasis (menyebar ke seluruh wilayah), dan pemerintah menghadapi pemilihan yang kacau yang berisiko merusak legitimasinya.

Gedung Putih fokus pada penyelesaian dengan perundingan, tetapi waktu telah berubah. AS dan sekutu-sekutunya harus berterus terang bahwa Amerika gagal memetik “kemenangan”. Taliban tahu hal itu, mereka telah memenangkan persepsi publik, dan Barat telah mengalami kelelahan akut.

Ketika perang mendekati tahun ke-18, Barat telah lupa mengapa dulu menyerbu Afghanistan, tidak jelas mengapa begitu lama di sana dan semakin tidak tahu tentang apa yang harus dilakukan untuk keluar dari Afghanistan.

 

Sumber:  edition