Narasi Terakhir Fir’aun Sebagai Upaya Melawan Narasi Kenabian Musa

Tatkala berbagai narasi dan bukti-bukti yang menunjukkan kerasulan Nabi Musa—seperti: tongkat menjadi ular, tangan yang mengeluarkan cahaya, berbagai kejadian mukjizat (supranatural) dan hukuman yang menimpa kaum Firaun—akhirnya kebenaran bisa sedikit menyentuh hati kaum Firaun.

Melihat indikasi tersebut, Firaun lalu tampil menunjukkan segala kebesaran dan kekuasaannya, serta dengan seluruh perhiasan dan atribut kebesarannya. Dia tundukkan hati masyarakat awam dengan logika dangkal namun berlaku di tengah masyarakat yang diperbudak pada masa tirani, yang terperdaya oleh penampilan dan kegelamoran para penguasa.

Firaun memperdaya kaumnya dengan mengatakan kepada mereka, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai itu mengalir di bawahku; apakah kalian tidak melihat” [Az-Zukhruf: 51].

Firaun memengaruhi kaumnya dengan suatu yang dekat dan terlihat oleh masyarakat luas, yaitu kerajaan Mesir dan sungai-sungai yang mengalir di bawah kakinya. Masyarakat umum yang diperbudak dan tertipu itu terpesona oleh gemerlap yang menipu yang dekat dengan mata mereka. Hati mereka terpikat olehnya, sementara akal mereka hanya tertumpu memikirkan apa yang bisa mereka lihat.

Baca artikel terkait:

Lalu Firaun kembali mempermainkan perasaan hati mereka dengan berkata, “Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” [Az-Zukhruf: 52].

Firaun melontarkan hinaan kepada Musa karena dia bukanlah raja, bukan pengeran, bukan penguasa, dan bukan pemilik harta yang terlihat. Selain juga mengingatkan bahwa Musa berasal dari bangsa yang diperbudak dan hina, yaitu Bani Israil. Firaun juga menunjukkan cacat dan kekurangan pada diri Musa sebelum ia keluar dari Mesir, yaitu lidahnya cadel.

Kemudian Firaun melanjutkan berkata kepada mereka, “Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas, atau malaikat datang bersama-sama dia untuk menggiringkannya”?  [Az-Zukhruf: 53].

Firaun ingin kembali mempermainkan nalar kaumnya bahwa sekiranya Musa benar seorang rasul niscaya dia akan dipakaikan gelang dari emas yang menunjukkan dia dijadikan seorang raja, karena seorang rasul seharusnya pemilik kerajaan dan kekuasaan. Atau tanda kerasulan Musa itu seharusnya dibuktikan dengan datangnya para malaikat bersama-samanya untuk menggiringkannya.

Dari hasutan Firaun itu semua, tentulah masyarakat awam  yang tertipu oleh suatu yang dekat dan terlihat, menilai Firaun yang mempunyai kerajaan Mesir, sungai-sungai yang mengalir di bawah kakinya, serta seorang raja yang memiliki kerajaan dan kekuasaan.

Oleh karena itu, dalam persepsi mereka Firaun tentu lebih baik dari Musa, meskipun Musa mempunyai kalimat yang benar, maqam kenabian, dan mendatangkan suatu mukjizat, serta dakwah yang menyelamatkan dari azab yang pedih.   Dengan berbagai hasutan itu, akhirnya kaum Firaun terpengaruh sehingga mereka patuh kepada perkataan Firaun.

 

Baca halaman selanjutnya: Kebinasaan Fir’aun dan Pasukannya…