Saat Ini Pemerintah Afghanistan Hadapi Krisis Keamanan Paling Serius Sejak 2001

Mohammad Haneef Atmar, penasihat keamanan nasional Presiden Ashraf Ghani yang mengundurkan diri

 

Pemerintah Afghanistan menghadapi salah satu krisis paling serius sejak akhir pemerintahan Taliban pada tahun 2001, ketika pejabat keamanan dan intelijen paling senior di negara itu mengajukan pengunduran diri minggu ini.

Langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini diikuti dengan peningkatan dramatis dalam serangan terhadap instalasi pemerintah Afghanistan oleh Taliban yang telah mengakibatkan puluhan korban di seluruh negara Asia Tengah tersebut.

Pada hari Sabtu (1/9), Mohammad Haneef Atmar, penasihat keamanan nasional Presiden Ashraf Ghani dan salah satu tokoh politik Afghanistan yang paling dikenal dan berpengaruh, mengajukan pengunduran dirinya.

Banyak pengamat berpengalaman terkejut ketika Presiden Ghani, yang merupakan sekutu dekat Atmar, menerima pengunduran dirinya dan menggantikannya dengan Hamdullah Mohib, yang sebelumnya adalah duta besar Afghanistan untuk Amerika Serikat.

Baca juga:

Namun krisis politik semakin dalam pada hari Minggu (2/9) ketika tiga pejabat senior lainnya mengajukan surat pengunduran diri.

Tariq Shah Bahrami, Menteri Pertahanan, Wais Ahmad Barmak, Menteri Dalam Negeri, dan Masoom Stanekzai, kepala Direktorat Keamanan Nasional Afghanistan, semua mengundurkan diri dari jabatan mereka.

Ketiganya telah dikecam keras oleh oposisi politik Afghanistan dan media nasional, karena gagal menghentikan pemberontakan anti-pemerintah, yang meningkat di hampir setiap provinsi di negara itu.

Kritik terhadap ketiga orang itu menjadi lebih tajam minggu lalu setelah Taliban melancarkan serangan roket spektakuler ke Istana Presiden di ibukota Afghanistan Kabul, yang terdengar di latar belakang pidato perayaan Idul Fitri Presiden Ghani.

Namun, pada Ahad malam, seorang juru bicara kepresidenan mengatakan kepada perwakilan media bahwa Presiden Ghani telah menolak pengunduran diri tiga pejabat itu. Sebaliknya, ia menuntut agar mereka tetap di pos mereka dan meningkatkan usaha mereka untuk meningkatkan keamanan Afghanistan.

Kemudian pada malam yang sama, Istana Kepresidenan mengeluarkan pernyataan tertulis kepada media, yang mengatakan bahwa Presiden Ghani “tidak menyetujui pengunduran diri [para pejabat]”. Sebaliknya, dia “memberi mereka instruksi yang diperlukan untuk memperbaiki situasi keamanan” di negara tersebut.

Sementara itu, pada hari Selasa (28/8), Menteri Pertahanan AS, James Mattis bersikeras selama konferensi pers di Washington bahwa strategi AS saat ini di Afghanistan bekerja dengan baik dan bahwa Talian pada akhirnya akan dipaksa untuk bernegosiasi, sehingga mengakhiri perang yang sedang berlangsung di negara itu.

 

Oleh  Joseph Fitsanakis

Sumber:  truepublica