Merinci Kegagalan Strategi Global Jihad Mendirikan “Khilafah” Menurut Pengamat Barat

Masalah Besar Jihad Global: Sekat Negara-Bangsa

Pada 22 Agustus, pemimpin Islamic State (IS), Abu Bakr al-Baghdadi, mengeluarkan pesan pertamanya kepada para pengikutnya dalam kurun waktu hampir satu tahun. Dalam pesan tersebut, ia menyerukan kepada pengikutnya untuk melakukan serangan lone-wolf di Barat. Pesan itu seharusnya mampu memperingatkan para pembuat kebijakan tentang potensi serangan baru, tetapi pesan itu juga berfungsi sebagai pertanda seberapa jauh kelompok tersebut telah jatuh dan, lebih luas lagi, mengenai masalah yang sudah berlangsung lama pada strategi besar jihadis yang tidak dapat diselesaikan oleh IS.

Sebelum IS, para jihadis transnasional termasuk Osama bin Laden dan Abu Musab al-Zarqawi, dan para ahli strategi seperti Abu Bakr Naji dan Abu Musab al-Suri, semuanya mencoba dan gagal mencapai tujuan politik yang serupa. Kegagalan strategi besar IS hanyalah perulangan terbaru dari masalah yang sudah tidak asing lagi. Semua aktor ini ingin membangun kekhalifahan di reruntuhan negara-bangsa Muslim dan secara bertahap memperluas kontrol mereka, tetapi untuk melakukan ini mereka harus mengatasi “masalah agregasi”: bagaimana mengubah keberhasilan lokal yang berbeda menjadi dampak politik lintas batas negara dan bagaimana memobilisasi umat Islam yang cukup untuk mendukung visi revolusioner para jihadis.

Kendala-kendala yang tidak dapat dihindari oleh kelompok jihadis ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Amerika Serikat untuk mengatasi ancaman mereka, bahkan ketika kelompok-kelompok tersebut terus mencari strategi kemenangan. Dalam artikel ini, penulis meneliti mengapa masing-masing dari lima aktor jihadis ini gagal mengatasi “masalah agregasi”. Penulis berpendapat bahwa kegagalan yang konsisten ini adalah kesempatan bagi aktor luar untuk menekan kelompok jihadis tanpa intervensi multilateral yang berbiaya mahal.

Baca juga:

 

Rencana Strategis Al-Qaeda

Strategi Bin Laden masih dijalankan oleh Al Qaeda, setelah bertahun-tahun kematiannya. Hal ini dianggap oleh penulis sebagai salah satu contoh kecenderungan para jihadis dalam memandang kemampuan mereka untuk memperluas pengaruh melewati perbatasan negara dan menerjemahkan keberhasilan lokal menjadi keberhasilan di seluruh regional atau global.

Strategi ini memprioritaskan menyerang Amerika Serikat – sebagai “gembong kekafiran” – di atas konfrontasi dengan “musuh dekat,” yaitu penguasa “murtad” yang bercokol di negara-negara Muslim. Bin Laden percaya bahwa memprovokasi Amerika untuk secara terbuka melawan Muslim dan negara-negara Muslim akan mengekspos kelemahan AS dan menyebabkan umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu di belakang al-Qaeda.

Tetapi, penulis menganggap bahwa bin Laden telah membesar-besarkan kekuatan al-Qaeda dan meremehkan kekuatan dan ketahanan AS. Ekspektasinya terkait mobilisasi Muslim secara massal melawan Amerika Serikat juga dianggap oleh penulis sebagai sebuah hal yang berlebihan. Massa seharusnya mengambil inspirasi dari serangan 9/11 Al-Qaeda yang berhasil, mengakui bahwa Amerika Serikat bisa dikalahkan, dan mulai percaya bahwa umat dapat mengalahkan semua musuh Islam.

Baca juga:

Penulis berpendapat bahwa al-Qaeda sangat naif untuk menganggap target audiensnya akan memprioritaskan identifikasi agama atas identitas nasional. Dalam pandangan penulis, Al Qaeda melebih-lebihkan minat umat Islam untuk hidup di bawah pemerintahan Islam dan juga dalam ekspektasi terhadap dukungan dari umat Islam untuk menghapuskan negara-bangsa demi tegaknya satu pemerintahan Muslim transnasional (khilafah).

Selain itu, bertentangan dengan harapan al-Qaeda, kebanyakan Muslim tidak melihat 9/11 sebagai sebuah hal yang baik, juga tidak melihat invasi Amerika ke Afghanistan sebagai kampanye anti-Muslim. Juga tidak ada indikasi bahwa 9/11 membawa perubahan radikal dalam pandangan orang Muslim tentang kekuasaan dan tekad AS. Bahkan di Irak, penulis menganggap bahwa sebagian besar umat Islam pasif.

Al-Qaeda berjuang untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dunia pasca – 9/11, di mana Amerika telah menghancurkan barisannya dan mereka perlu memikirkan ulang strategi mereka. Seperti yang pernah dijelaskan dalam buku The Al-Qaeda Franchise, pada tahun 2003 al-Qaeda telah memulai ekspansi organisasi yang menghasilkan pembentukan beberapa cabang. Beberapa cabang Al Qaeda terdiri dari kader sendiri dan beberapa cabang lain dibentuk melalui merger dengan kelompok jihadis lain.

Strategi pembentukan cabang ini merupakan jawaban yang masuk akal terhadap ketidakmampuan kelompok tersebut untuk beroperasi lintas batas. Al-Qaeda berharap bahwa cabang-cabang ini akan memfasilitasi perluasan wilayah melintasi perbatasan secara bertahap. Masing-masing cabang dimaksudkan untuk fokus pada suatu regional, bukan hanya pada satu negara saja.

Sebagaimana tercantum dalam The Al-Qaeda Franchise, upaya ekspansi akan memungkinkan kelompok Al Qaeda untuk menyajikan narasi bahwa mereka telah sukses sebagaimana mereka berjuang untuk memperbaharui operasinya di Barat. Namun, alih-alih memprioritaskan strategi kepemimpinan pusat al-Qaeda, kelompok cabang cenderung berfokus pada arena lokal (bahkan regional). Segmentasi juga mengurangi komposisi multinasional kelompok karena keanggotaan di tingkat cabang terutama didasarkan pada kekuatan lokal.

Seiring waktu, kepemimpinan Al-Qaeda pusat dipaksa untuk menerima pengecualian yang semakin meluas dari fokus mereka AS dan Eropa sebagai target. Mereka memperluas pandangannya tentang jenis tindakan yang sah yang dilakukan oleh cabangnya, sehingga penekanan lebih lanjut tentang perjuangan lokal dengan mengorbankan tujuan global. Namun al-Qaeda tidak bisa meninggalkan tujuan utamanya untuk memerangi Amerika Serikat  sementara cabang-cabangnya berfokus kepada agenda yang sebagian besar bersifat lokal.

Baca juga:

Namun Al Qaeda pusat telah berhasil dalam menghalangi cabang-cabangnya untuk mendirikan negara Islam di masing-masing wilayah yang dikuasai. Pimpinan pusat Al Qaeda berpendapat bahwa karena Amerika Serikat akan menggulingkan rezim Islamis, akan terlalu dini untuk mendirikan emirat, apalagi kekhalifahan, sebelum menghilangkan ancaman terbesarnya, yaitu Amerika.

Membangun emirat akan memaksa al-Qaeda untuk mengalihkan fokus dan sumber daya dari berbagai front pertempuran kepada usaha mempertahankan pemerintahan. Bin Laden memperingatkan bahwa jika para jihadis gagal, umat Muslim mungkin tidak akan pernah mempercayai mereka lagi.  Al-Qaeda pusat memerintahkan bahwa jika sebuah cabang akhirnya berhasil merebut dan mengendalikan wilayah, mereka harus memberikan kontrol pemerintahan kepada para pemimpin lokal dan berusaha bekerja di belakang layar (seperti yang coba dilakukan al-Qaeda di Mukalla, salah satu kota pelabuhan di Yaman).

 

Baca halaman selanjutnya:  Manajemen Kekacauan

Tags:,