Al-Qaeda dan Taliban: Aliansi yang Menyeret Amerika dalam “Perang Abadi”

Tanggal 11 September ini menandai 17 tahun peristiwa 9/11. Kondisi masih hampir sama sejak perang Amerika di Afghanistan dimulai. Pada perang yang diluncurkan pada 7 Oktober 2001 tersebut, invasi pimpinan AS ke Afghanistan dengan cepat menggulingkan rezim Taliban. Pemimpin mereka, Mullah Omar, menolak menyerahkan Osama bin Laden.

Tujuan strategis Amerika di Afghanistan terlihat tidak jelas. Penolakan Taliban untuk menyerahkan al-Qaeda telah menjadi salah satu motif utama Amerika untuk mengobarkan “perang abadi.” Perang abadi ini juga dibumbui dengan ketakutan bahwa wilayah Afghanistan yang didominasi oleh Taliban akan menjadi tempat yang aman bagi teroris internasional.

Aliansi antara al-Qaeda dan Taliban telah bertahan selama lebih dari 20 tahun. Serangkaian kampanye militer yang dilakukan oleh aliansi militer paling terkemuka di dunia dan pertimbangan geopolitik lainnya seharusnya telah menyebabkan Taliban memutuskan hubungan dengan Al Qaeda. Namun, hingga kini kedua kelompok tersebut tetap terlibat dalam kerja sama, dengan harapan bersama tentang berlanjutnya kerja sama di masa depan.

Sebuah hubungan aliansi tidak mengharuskan mereka bergabung melebur menjadi satu organisasi, beroperasi dalam satu barisan, atau bahkan selalu mematuhi masukan satu sama lain. Dalam hal ini, mereka tentu saja tidak melakukannya, dan mereka terkadang mengabaikan saran satu sama lain. Masing-masih pihak dalam aliansi memiliki wilayah kerja dan tugas utama masing-masing.

Baca juga:

Taliban dan Al-Qaeda tentu saja melakukannya. Sejak dimulainya hubungan mereka, kedua kelompok itu berbeda dalam hal tujuan strategis, prioritas, dan taktik mereka.

Taliban terus kukuh fokus pada Afghanistan dan tidak pernah mengadopsi ambisi jihadis global al-Qaeda. Pada bagiannya, al-Qaeda telah secara konsisten mengejar agendanya dengan mengabaikan bagaimana hal itu telah mempengaruhi Taliban.

Nyatanya mereka bekerja sama di Afghanistan dan mengharapkan kerjasama dan konsultasi di masa depan. Mereka memiliki keinginan yang sama, untuk mengusir pasukan AS dari Afghanistan dan mengembalikan kekuasaan Taliban. Dan mereka sekarang memiliki saingan bersama yaitu Islamic State. Tetapi kepentingan bersama tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan faktor apa yang mengikat kedua kelompok ini ke dalam kemitraan yang telah terjalin sejak lama.

Hubungan mereka telah berkembang seiring waktu. Meskipun Bin Laden telah berjanji baiat kepada Mullah Omar, al-Qaeda adalah “sebuah organisasi yang mendukung sebuah negara” selama tahun 1990-an. Sekarang Taliban tidak bergantung pada al-Qaeda atau tidak membutuhkan dukungan al-Qaeda untuk melakukan pemberontakannya.

Al-Qaeda memperoleh lebih banyak manfaat dari hubungan itu. Al-Qaeda juga mendapatkan prospek masa depan yang aman jika Taliban kembali berkuasa, meskipun Taliban tidak pasti menyediakan tempat perlindungan seperti. Aliansi tersebut terbukti tangguh dan, dengan demikian, menimbulkan rintangan bagi upaya untuk menemukan penyelesaian yang dinegosiasikan untuk mengakhiri perang.

 

Baca halaman selanjutnya: Taliban Mendapat “Kerugian” yang Lebih Besar daripada Keuntungan

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *