Mengapa Taliban Mampu Memenangkan Hati dan Pikiran Rakyat Afghanistan? (Bag.1)

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari analisa singkat tentang keberadaan Taliban yang telah mampu memenangkan hati dan pikiran rakyat Afghanistan. 

#Bagian 1: Perubahan Strategi Taliban Mampu Menarik Dukungan Masyarakat

Dalam banyak hal, Charkh tampak seperti distrik pedesaan lain khas Afghanistan. Hanya sedikit pembangunan atau industri yang bisa dibicarakan. Populasinya sebesar 48.000 orang hidup dari pertanian. Kemiskinan merata. Mereka yang dapat menemukan pekerjaan yang lebih baik di tempat lain pergi dan mengirim uang untuk menghidupi keluarga mereka.

Namun, pandangan yang lebih dekat pada Charkh mengungkapkan perbedaan dari distrik-distrik lain di Afghanistan. Pemerintah lokal di sana secara luas dipandang adil dan jujur, membuat mereka lebih menonjol di negara yang secara konsisten masuk dalam daftar peringkat paling korup di dunia. Penduduk setempat mengatakan bahwa hanya ada kejahatan yang sangat kecil.

Perselisihan di antara tetangga atau keluarga jarang terjadi, dan ketika sebuah masalah muncul, staf pemerintah atau hakim distrik dengan cepat mengatasinya. Seorang pejabat kesehatan secara teratur memonitor klinik untuk memastikan bahwa dokter dan perawat hadir dan bahwa obat-obatan tersedia. Di sekolah-sekolah pemerintah, guru-guru benar-benar mengajar, dan kehadiran siswa tinggi. Hal tersebut adalah sebuah anomali dalam sistem pendidikan Afghanistandi mana absensi sering terjadi.

Di atas kertas, keberhasilan pemerintah lokal Charkh dapat ditafsirkan sebagai bukti bagaimana pemerintahan Presiden Ashraf Ghani yang didukung AS akhirnya mampu membentuk tata pemerintahan yang baik di luar ibukota Kabul. Namun faktanya pemerintah Afghanistan tidak layak mendapatkan kredit untuk kondisi Charkh tersebut; sebab distrik Charkh saat ini dikontrol oleh Taliban.

Baca juga:

Otoritas setempat de facto, dari walikota sampai satu-satunya hakim di kota tersebut, berasal dari jajaran Taliban, dan pegawai biasa, seperti guru dan pejabat kesehatan, telah dipilih oleh pemberontak,meskipun pemerintah pusat di Kabul masih membayar gaji mereka.

Meskipun pasukan AS hampir dua kali lipat dan terjadi lonjakan serangan udara selama tahun lalu, Taliban tetap memiliki pengaruh signifikan di petak-petak besar pedesaan Afghanistan dan bekerja dengan tekun untuk menyingkirkan pemerintah Ashraf Ghani yang diakui secara internasional.

Hari ini, Taliban berusaha untuk menampilkan diri sebagai gerakan politik yang sah yang mampu mengelola layanan masyarakat dan mengatur negara. Ketika pasukan AS dan Afghanistan mundur untuk melindungi kota-kota besar,​ sebagai bagian dari strategi baru Washington, Taliban sedang mengisi kekosongan yang ditinggalkan pasukan AS dan Afghanistan. Mereka bukan lagi hanya pember ontakan yang bermasa depan suram; mereka adalah pemerintah yang melayani.

Untuk memahami perubahan haluan Taliban ini, kita harus kembali ke rangkaian peristiwa sejak tahun 2014. Penarikan puluhan ribu pasukan internasional pada tahun tersebut menghadirkan dua pilihan kepada pemimpin Taliban: risiko dan peluang. Mereka pernah menghadapi situasi serupa sebelumnya: Pada tahun 1996, selama puncak perang sipil, mereka memanfaatkan kekosongan segala bentuk otoritas dan memanfaatkan kondisi tersebut untuk naik ke tampuk kekuasaan.

Baca juga:

Namun kali ini, para pemimpin Taliban menyadari bahwa alih-alih menyerang sekolah-sekolah pemerintah dan proyek-proyek bantuan, mereka dapat memperoleh lebih banyak keuntungan dengan mengkooptasi hal-hal tersebut. Dengan demikian, mereka berhak mendapat kredit untuk menyediakan layanan dan memenangkan simpati populasi lokal.

Taliban menyadari tentang pentingnya menarik simpati populasi lokal, meski secara bertahap. Oleh sebab itu, mereka menghindari kekerasan yang tak terkendali. Kini, dukungan rakyat tumbuh dan Taliban mampu menjalankan struktur pemerintahan yang canggih, termasuk pengelolaan sekolah, klinik, pengadilan, pemungutan pajak, dan banyak lagi.

Anggota Taliban setempat mulai melakukan gencatan senjata tidak resmi dengan tentara Afghanistan untuk mengurangi konflik. Prajurit pemerintah akan menjaga pos-pos pemeriksaan sampai malam, setelah itu Taliban akan mengambil posisi itu sampai fajar tiba.

Pergeseran dalam strategi Taliban ini menciptakan koeksistensi yang relatif damai  antara Taliban dan pemerintah di daerah-daerah yang sebelumnya menjadi salah wilayah yang paling labil. “Dulu mereka kejam, tetapi sekarang mereka mencoba untuk menunjukkan wajah yang berbeda,” kata seorang mantan komandan Taliban di Kunduz. “Mereka harus menunjukkan bahwa mereka dapat melakukan apa saja yang bisa dilakukan oleh pemerintah, tetapi dengan cara yang lebih baik.”

Pejuang dan pejabat Taliban memuji Mullah Akhtar Mohammad Mansour atas transformasi ini. Mansour dengan gesit memimpin gerakan itu melalui serangkaian momen penting:

(1) Lonjakan serangan yang dimulai pada akhir 2009, ketika Washington mengirimkan 33.000 lebih pasukan untuk membalikkan keadaan Amerika yang hampir gagal;

(2) Kematian Mullah Mohammad Omar pada 2013. Kemudian Mansour, sebagai wakilnya, dirahasiakan selama dua tahun;

(3) Penarikan pasukan internasional besar-besaran tahun 2014; dan

(4) Pengunduran diri beberapa pejabat penting Taliban setelah Mansour secara resmi mengambil alih peran sebagai Amir — pemimpin utama Taliban — pada tahun 2015.

“Mansour benar-benar mengubah pemikiran kami: tentang mengatur masyarakat, tentang perdamaian, tentang segala hal,” kata seorang pejabat Taliban di Helmand. Mansour mengubah Taliban dari pemberontakan yang suka berperang menjadi sebuah negara bayangan.

Dia mengkonsolidasikan sayap militer dan keuangan Taliban, berusaha untuk menjauh dari sistem patronase menjadi fokus pada pembangunan institusi. Mansour menciptakan komisi Taliban untuk menyelidiki korban sipil. Dia menunjuk orang-orang dari Tajik dan Uzbek ke dalam dewan shura pimpinan, untuk memperluas gerakan di luar suku Pashtun sebagai basis utama pendukungnya.

Baca juga:

Mansour mempersiapkan Taliban untuk menghadapi kehidupan setelah perang. Daripada mencari kemenangan mutlak, dia memposisikan Taliban untuk menerima kesepakatan pembagian kekuasaan. Mansour adalah salah satu orang yang menyetujui pembukaan kantor perwakilan Taliban di Qatar pada tahun 2013, sambil tetap hati-hati mengarahkan kelompok tersebut menuju keterbukaan yang lebih besar untuk melakukan pembicaraan damai.

Pada bulan Mei 2016, Amerika Serikat membunuh Mansour dalam serangan pesawat tak berawak, tetapi visinya tetap hidup. Keuntungan utamanya adalah cara itu memungkinkan Taliban untuk menyebarkan pengaruh mereka tanpa menimbulkan korban jiwa yang banyak dan jatuhnya moral pasukan yang diakibatkan oleh pertempuran panjang. Ketika Taliban telah berusaha merebut pusat distrik dan kota-kota besar – termasuk kota utara Kunduz pada tahun 2015 dan 2016 – mereka dengan cepat terdesak oleh serangan udara dan serangan darat yang didukung internasional.

Jadi, saat mereka terus menyerang kota-kota secara berkala, seperti yang mereka lakukan musim semi lalu di provinsi barat Farah dan pada bulan Agustus di provinsi timur Ghazni, Taliban kini mencurahkan lebih sedikit sumber daya untuk operasi ini dan menggunakan kekuatannya lebih banyak untuk mempermalukan pemerintah Kabul daripada untuk merebut wilayah.

Fokus baru Taliban adalah memperluas kendali mereka dengan cara yang lebih halus. Dengan mengandalkan kekuatan dan reputasi mereka untuk menyediakan peradilan yang adil, mereka telah mendapatkan pijakan baru di desa demi desa. Ketika pengaruh mereka tumbuh di sebuah kota tertentu, Taliban secara bertahap menerapkan aturan mereka pada kehidupan sipil dan merekrut pegawai pemerintah, mulai dari penagih tagihan listrik hingga inspektur kesehatan, untuk memberi layanan kepada masyarakat.

Tingkat kendali mereka bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, tetapi di kota-kota yang seolah-olah di bawah kendali pemerintah, seperti Kunduz dan Lashkar Gah, Taliban sekarang memungut pajak dari bisnis dan menjalankan peradilan atas perselisihan masyarakat.

Baca juga:

Tidak seperti Islamic State, yang berusaha menciptakan infrastruktur baru di wilayah yang direbutnya, Taliban lebih memilih untuk mengkooptasi layanan pemerintah dan proyek bantuan yang ada. Dalam wawancara pada bulan Oktober 2017 melalui WhatsApp, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid menjelaskan tentang kontradiksi keterlibatan Taliban dalam bekerja sama dengan negara Afghanistan, yang sedang diperangi oleh Taliban: “Ini tentang memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini bukan bagian dari perang. ”

Taliban telah menyadari bahwa tidak perlu menyerang simbol negara jika Anda dapat mengontrol sumber daya mereka dan mengarahkan sumber daya itu untuk mencapai tujuan Anda. Proses ini telah membuat kepuasan bagi sebagian besar warga Afghanistan yang frustasi dengan meluasnya korupsi yang telah melumpuhkan layanan publik, dan mencari kerja menjadi sangat sulit.

Diperkirakan 80 persen dari guru pemerintah harus membayar suap untuk mendapatkan posisi mereka, menurut sebuah audit yang dirilis akhir tahun lalu. “Pemerintah tidak dapat melakukan apa pun dalam 10 tahun terakhir ini,” kata Jamal, seorang mantan guru di sekolah menengah anak laki-laki di pusat distrik Charkh. “Talibanlah yang telah memecahkan masalah kami dengan cepat.”

Sumber:  foreignpolicy