Raytheon: Ada Keuntungan di Setiap Kematian Anak-Anak Yaman

Selama lebih dari tiga tahun, Raytheon, kontraktor pertahanan utama AS, telah membantu dan bersekongkol dalam kejahatan perang di Yaman. Perang itu telah menciptakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Perang itu memberikan keuntungan bagi Raytheon diatas tubuh anak-anak Yaman yang terkoyak oleh bom mereka.

Sebagian besar tersembunyi dari publik, miliaran dolar telah dibuat oleh manufaktur senjata Amerika dalam perang yang didukung AS di Yaman. Akibatnya, Saudi dapat dengan sengaja menghasilkan korban sipil yang masif, menggunakan senjata Raytheon dengan tujuan untuk melaparkan rakyat Yaman dan merampas obat penyelamat hidup mereka.

Dengan satu anak Yaman meninggal setiap sepuluh menit, tanpa bantuan Raytheon, orang-orang Saudi tidak akan sesukses seperti sekarang. Pada saat yang sama Raytheon juga mendapat manfaat dari kesuksesan itu. Hal itu terlihat dari kenaikan tajam dalam harga saham mereka. Ketika korban tewas sipil meningkat, begitu juga saham Raytheon.

Akan sangat sulit bagi banyak orang Amerika untuk menerima informasi itu. Namun kebenaran yang menyedihkan adalah bahwa serangan udara Saudi di Yaman telah berkorelasi dengan kenaikan dramatis dalam harga saham Raytheon. Dalam tiga tahun perang di Yaman, saham Raytheon naik hingga 94 persen, dari $ 108,44 per saham pada tahun 2015 menjadi $ 210,70 pada tahun 2018.

Sisa-sisa rudal dari Saudi yang telah diambil melacak ke arah Raytheon, ratusan kematian warga sipil telah dikonfirmasi dari penemuan-penemuan ini saja. Mengingat fakta bahwa senjata Raytheon telah digunakan untuk menargetkan pesta pernikahan, rumah penduduk, alat pengeboran air, dan upacara pemakaman, tingginya tingkat kematian warga sipil ini tidak mengejutkan.

Pada bulan April, Saudi meluncurkan rudal di sebuah pesta pernikahan di Yaman utara. Sebanyak 23 orang tewas dalam serangan itu dengan mayoritas korban adalah wanita dan anak-anak.

Rudal-rudal itu kemudian terbukti berasal dari pabrik Raytheon di Arizona selatan. Empat hari setelah serangan itu, pendapatan kuartalan Raytheon naik menjadi $ 633 juta untuk $ 2,20 per saham.

Mengebom warga sipil untuk menjadikan Houthi menyerah tampaknya menjadi niat Saudi. Pada tahun 2016, rudal yang diproduksi oleh Raytheon menghantam rumah sakit yang dikelola oleh Doctors Without Borders, menewaskan 11 orang, termasuk seorang anggota staf. Tak lama setelah itu, Doctors Without Borders terpaksa melarikan diri dari negara itu, menjadikan krisis kemanusiaan jauh lebih buruk.

Terlepas dari semua kekejaman ini, pemerintah AS terus memasok Saudi dengan senjata untuk serangan mereka di Yaman. Pada 2017 Arab Saudi menyetujui amunisi senilai $ 7 miliar dari Raytheon dan Boeing.

Di atas itu semua, militer AS juga menyediakan bagi Saudi udara pusat pengisian bahan bakar di udara dan memberi mereka koordinat yang tepat untuk mengebom. Sementara itu para produsen senjata dengan diam-diam menjadikan keuntungan perusahaannya dari pembunuhan anak-anak di Yaman.

Naskah ini disadur dari opini yang ditulis oleh Marcelo Guadiana dan dimuat dalam situs web antiwar.com.

 

Sumber:  antiwar

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *