Hubungan Kesultanan Banten dan kekhilafahan Turki Utsmani

Pengaruh kekuatan dan diplomasi kepada Turki Utsmani dari Banten, tampak setelah Sultan Abu al-Mufakhir meminta gelar Sultannya kepada penguasa Mekkah pada tahun 1638. Mekkah dan Madinah memang saat itu berada di bawah kekuasaan Gubernur Jendral Turki Utsmani di Jeddah.

Pengaruh militer dan gelar Khilafah di dunia Islam memang sangat berpengaruh terhadap perlindungan negeri-negeri Islam.

Baca juga:

Gelar Sultan Banten diperoleh penguasa Banten dari Turki Utsmani melalui Syarif Makkah pada tahun 1638. Raja Kesultanan Banten yang dianggap terbesar, adalah Sultan Ageng Tirtayasa.

Dia adalah sultan terlama yang menduduki tahta Banten sejak tahun 1651 hingga 1682.

Meskipun hubungan antara Aceh dan Khilafah Utsmani lebih terkenal, Kesultanan Banten di sebelah utara Jawa Barat juga memiliki hubungan yang signifikan dengan kekhilafahan Utsmani melalui koneksi ke Hijaz.

Sultan Banten meminta legitimasi dari Syarif Mekkah bagi kekuasaan mereka, bahkan pada suatu kesempatan Sultan berziarah secara pribadi ke sana. Kunjungan tersebut dibuktikan dalam Sajarah Banten, namun tidak tercatat dalam sejarah Mekkah maupun sejarah Khilafah Utsmani.

Namun realitas hubungan ini dibuktikan dengan karya-karya abad ke-17 ulama Syafii Mekkah, Muhammad bin ‘Alan, yang atas perintah dari Sultan Banten menulis beberapa karya, diantaranya yang paling menonjol adalah adaptasi dari cermin Ghazali untuk para amir, Nashihat alMuluk, yang berjudul al-Mawahib al-Rabbaniyyah (Hadiah Ilahi).

Baca juga:

Untuk meningkatkan kegiatan perniagaan Sultan Ageng Tirtayasa juga membina hubungan baik dengan negeri-negeri lain, terutama dengan Negara-negara Islam, seperti Turki, Arab, Persia, India, Aceh, Ternate dan Tidore. Tidak lupa pula Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan surat persahabatan kepada raja Denmark.

Berawal dari kedekatan Pangeran Anom (Pangeran Haji) kepada VOC. Dia dikirim ayahnya ke Mekkah pertama kali untuk meneruskan kontak yang telah terjalin ke Turki Utmani pada tahun 1671, yaitu ketika telah berjalan satu dasawarsa lebih perjanjian damai antara Kesultanan Banten dengan VOC di tahun 1659.

 

Referensi:

Suraiya Faroqhi, Pilgrims And Sultans, The Hajj Under The Ottomans 1517-1683, (London: I.B.Tauris & Co.Ltd, 1994

Daliman, Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012)

Asrul, Intervensi Voc Dalam Konflik Suksesi Di Kesultanan Banten (1680-1684), Skripsi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.

Andrew Peacock, “Divine gifts” for Java: the seventeenth century Ottoman ‘alim Muhammad b. ‘Alan of Mecca and the sultanate of Banten, University of St Andrews, Abstracts of Papers International Workshop: From Anatolia To Aceh: Ottomans, Turks And Southeast Asia, Banda Aceh, 11-12 January 2012.

Edi Ekajati S dan Sutrisni Kuntoyo, Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialism Dan Kolonialisme Di Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan NIlai Tradisional, 1983

2 Comments
  1. March 13, 2019
  2. March 13, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *