Al-Qaeda Menang, Mengapa?

Newspaper article shows photo of Osama bin Laden (Thomas Hawk/Flickr)

 

Foreign Policy, majalah terkenal di AS yang fokus dalam membahas tema-tema kebijakan internasional, menandai peringatan 11 September dengan sebuah esai tentang bagaimana serangan itu telah mengubah Amerika Serikat.

Dengan headline provokatif berjudul “Al-Qaeda Menang” penulisnya, Stephen Marche, membingkai tulisannya dengan konsep “perang diatetis,” yang ia gambarkan sebagai “pertempuran untuk hati dan pikiran—bukan pikiran orang lain, tetapi pikiran kita sendiri.”

Dalam pertempuran ini, kemenangan ditentukan oleh “kejelasan,” dan kekalahan ditandai dengan kebingungan.

Jika kita melihat serangan 9/11 dan signifikansinya, kita bisa melihat bahwa Amerika Serikat telah jatuh ke dalam rawa kebingungan, sampai pada titik memilih seorang presiden yang bisa berbohong dengan santainya dan tidak percaya pada kebenaran obyektif.

Marche sendiri menyimpulkan bahwa Al Qaeda tidak hanya menang, tetapi skala kemenangan mereka terus mekar dan berkembang.

Baca juga:

Serangan 11 September adalah momen menentukan dalam sejarah perang baru. Serangkaian peristiwa setelahnya, mulai dari serangan ke Afghanistan dan Irak, hingga munculnya smartphone dan media sosial, telah mengubah dunia. Serangan tersebut adalah serangan pertama yang didesain dan dieksekusi melalui koneksi digital. Ia adalah serangan yang “ledakannya” terjadi pada televisi kabel. Sebaran informasi dan media sangat masif, mencapai tingkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ilmuwan Kanada, Marshall McLuhan pernah memprediksi bahwa Perang Dunia III akan terjadi dalam bentuk “perang informasi gerilya yang tidak lagi membedakan partisipasi militer dan sipil.” Serangan 11 September adalah awal dari perang tersebut.

T.E. Lawrence, yang lebih dikenal dengan sebutan Lawrence of Arabia, adalah inovator besar perang informasi gerilya pada abad ke-20. Ungkapannya yang paling terkenal adalah “mesin cetak adalah senjata terhebat di gudang senjata komandan modern.”

Dalam otobiografinya, Seven Pillars of Wisdom, Lawrence memberikan rincian tentang bagaimana dia sampai pada kesimpulan seperti itu. Lawrence sakit, di kamp, di dalam tendanya yang terik. Saat itu, ia terpikir bahwa Carl von Clausewitz dan para ahli militer lainnya mungkin akan menganggap perang yang ia lakukan tidak dapat dimenangkan. Pasukan Arab yang ia komando tidak dapat menghancurkan musuh, merebut benteng-benteng besar, atau meruntuhkan keberanian lawan-lawan mereka. Padahal, semua itu adalah definisi kemenangan menurut para ahli militer masa lalu.

Ia merenung, bertanya pada diri sendiri: Bagaimana jika semua definisi itu salah? Bagaimana jika definisi kemenangan berubah, dan beda dengan definisi kemenangan tradisional? “Saya merenung perlahan, saya sadar bahwa kami telah memenangkan perang Hejaz,” tulis Lawrence. “Saya mengusir lalat yang sama, sekali lagi, dari wajahku dengan sabar, puas mengetahui bahwa Perang Hejaz telah dimenangkan dan selesai, dengan kemenangan di hari kami menguasai Wejh, andai saja kita memiliki kecerdasan untuk melihatnya.”

Dia tidak perlu untuk menang. Dia hanya perlu memutuskan bahwa dia telah menang dan meyakinkan dunia. Perjuangannya adalah mengubah definisi kemenangan, untuk mengubah arti dari sebuah peristiwa.

Istilah yang diberikan Lawrence pada jenis peperangan semantik ini adalah diatetik (diathetics), sebuah ungkapan yang dipinjam dari filsuf Yunani Xenophon. Itu adalah pertarungan untuk cerita yang diceritakan orang, dan untuk kesadaran publik yang muncul dari cerita yang orang-orang ceritakan. Sederhananya, perang untuk mengatur pikiran dan persepsi publik.

“Kita harus mengatur pikiran [tentara kita] dalam tatanan pertempuran secara hati-hati dan formal, sebagaimana perwira lain yang akan mengatur tubuh mereka. Dan bukan hanya pikiran pasukan kita sendiri, meski secara alami mereka yang akan kita utamakan. Kita juga harus mengatur pikiran musuh, sejauh kita bisa menjangkau mereka; kemudian pikiran bangsa lain yang mendukung kita di belakang garis tembak, karena lebih dari separuh pertempuran melintas di garis belakang; kemudian pikiran bangsa musuh yang menunggu nasibnya; dan pihak netral yang memantau; lingkaran demi lingkaran.”

Diatetik adalah perpanjangan dari perang gerilya. Dalam arti bahwa ia digunakan oleh pihak yang lebih lemah melawan yang lebih kuat, memanfaatkan jalur komunikasi untuk melawan mereka yang telah membangunnya. Sabotase saluran komunikasi mengubah kekuatan terbesar dari pihak yang lebih kuat — kemampuan untuk menyampaikan informasi dan material lintas jarak — menjadi kerentanan di sepanjang saluran tersebut. Diatetika menyabotase jalur komunikasi di jaringan pusat, yaitu sumber makna yang dikomunikasikan.

Usamah bin Laden sangat paham diatetik secara naluriah dan secara eksplisit. “Sudah jelas bahwa perang media di abad ini adalah salah satu metode terkuat,” katanya kepada Mullah Mohammad Umar dalam sebuah surat pada Juni 2002. “Bahkan, rasionya bisa mencapai 90 persen dari total persiapan untuk pertempuran.” Perang ini bersifat kultural. Konflik atas narasi.

Baca juga:

Kekuatan peperangan diatetis meningkat ketika sarana komunikasi massa berkembang. Kita berada di tengah-tengah ekspansi komunikasi massa terbesar dalam sejarah manusia. Media sosial dan smartphone, dilengkapi kamera, belum begitu banyak pada tahun 2001. Sebelumnya, berita tv kabel telah menghapus perbedaan antara berita dan hiburan. Acara reality show di televisi, sebagai satu genre acara, baru saja ditemukan. Internet menjadi hal biasa di rumah warga Amerika. 9/11 adalah acara berita pertama yang dilihat semua orang secara sekaligus. Tidak peduli seberapa jauh jarak kita dari Manhattan atau Pentagon. Peristiwa 9/11 tidak dapat dipisahkan dari rekaman mereka.

Perang kultural yang dibuka oleh 9/11 terus melebar. Istilah peperangan di sepanjang front tersebut, karena setiap teknologi baru membuka front baru, hampir tidak mungkin untuk segera dikenali.

Pada tahun 2015, Jeff Giesea menerbitkan esai tentang perang meme dalam jurnal NATO Defense Strategic Communications. Terlepas dari pengaruhnya yang sangat besar, informasi kunci dalam esai tersebut belum benar-benar ditangani secara serius. Pabrik meme Rusia berhasil mencapai tujuan politik luar negerinya, dengan biaya minimal dan tanpa kekerasan secara langsung, yaitu penurunan pengaruh AS di dunia  dan ancaman terhadap tata dunia liberal pasca-Perang Dunia II.

Perang meme adalah elemen terbaru perang diatetis yang telah berlangsung sejak munculnya internet. Medan tempur budaya ada di setiap titik jaringan – televisi, pers, film, lagu, khotbah, iklan, dan media sosial. Segala sesuatu yang memberi makna adalah medan perang. Diatetik adalah penataan ulang pola pikir musuh melalui tontonan dan makna saat mereka mengkonsumsinya. Ini adalah jenis perang baru yang sangat membingungkan. Dan memang, kebingungan adalah tujuannya. Batas antara apa yang termasuk militer dan apa yang tidak menjadi kabur. Front budaya nampak menggelikan, merendahkan martabat militer, dan betul-betul di luar medan tempur para pasukan. Namun, front tersebut terbukti sangat efektif.

Jika kita ingin memahami kerapuhan Amerika saat ini, kita harus melihat 9/11 sebagai sebuah pertunjukan. Ini adalah perang yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat kalah dan terus kalah.

 

Baca halaman selanjutnya….

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *