Jahiliah Bukan Kebodohan Tapi Ketidaktundukan Kepada Allah

Saat mendengar kata ‘jahiliah’, gambaran yang langsung muncul dalam benak kita pada umumnya yaitu suatu era yang jauh dari nilai peradaban, tidak bermoral, dan penuh dengan praktik paganisme (penyembahan terhadap berhala). Anggapan seperti ini tidak sepenuhnya keliru, namun belum cukup mencakup arti dari terma jahiliah itu sendiri.

Jahiliah secara literal berarti tidak mengetahui (not knowing) atau tidak memiliki ilmu pengetahuan (not having knowledge). Dalam ungkapan lain, jahiliah secara etimologis dapat diartikan dengan kebodohan.

Terma jahiliah umumnya merujuk pada masyarakat pra-Islam yang terjadi di Jazirah Arab. Mereka adalah suatu masyarakat yang dikenal tidak taat, menolak petunjuk Allah, tidak memiliki nilai moral, tidak memiliki kebudayaan, tidak bisa membaca atau menulis dan tidak taat terhadap peraturan-peraturan yang Allah tetapkan.

Berdasarkan urutan waktu, masyarakat Arab yang berkembang di Jazirah Arab pada periode setelah hancurnya Bendungan Ma`rib di Saba sekitar tahun 300 M disebut dengan Arab Jahiliah. Periode Jahiliah ini berlangsung sekitar 310 tahun, yaitu sejak tahun 300 M hingga tahun 610 M.

Masyarakat Jahiliah yang hidup pada periode ini dikenal dengan Arab Jahiliah lantaran mereka tidak mengikuti ajaran dan risalah para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad, seperti Nabi Sulaiman, Ibrahim, Ismail, Musa, Isa.  Menurut para ulama, kondisi tersebut diliputi kebodohan tentang Allah, Rasul-Nya, syariat agama, berbangga-bangga dengan nasab, kesombongan dan sejumlah penyimpangan lainnya.

Periode Jahiliah dikenang sebagai periode yang kelam. Saat itu, Arab Jiliah tidak menyembah Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa. Faktanya banyak dari mereka yang menyembah berhala-berhala dan berkeyakinan animmisme. Masyarakat Arab jahiliah hidup tanpa aturan disebabkan tidak adanya nabi atau rasul dan kitab suci yang digunakan sebagai pegangan mereka pada saat itu.

Dalam arti ini, dengan kedatangan dan sempurnanya agama Islam, periode atau zaman jahiliyah telah hilang. Sebagaimana yang disebutkan Ibnu Taimiyyah, “Manusia sebelum diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka dalam kondisi jahiliyah…. Demikian pula semua yang menyimpang dari ajaran para rasul, seperti yahudi, atau nasrani maka itu jahiliyah. Itulah jahiliyah umum. Namun setelah diutusnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kebiasaan jahilliyah terkadang ada di sebagian negara dan tidak ada di tempat lain, terkadang ada pada diri seseorang, yang tidak ada di orang lain… namun jika disebut secara mutlak, tidak ada lagi jahiliyah setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena di tengah umat ini akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang dengan kebenaran sampai kiamat.”

Jahiliah dalam arti inilah, yaitu dalam arti periode waktu, kebanyakan ulama menjelaskan bahwa setelah datangnya Islam, maka tidak boleh berpendapat bahwa ada zaman jahiliah lagi secara umum.

Tetapi, tidak adanya peradaban yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam baca-tulis masyarakatnya, minimnya moral mereka, dan tidak adanya ilmu pengetahuan, bukan alasan utama masyarakat tersebut disebut jahiliah. Karena, sebagaimana yang dikemukan Muhammad Quthub, bangsa Arab pada hakikatnya telah memiliki beberapa pengetahuan dan sama sekali bukan primitif.

Mereka juga telah mempunyai apa yang dikenal sebagai kebudayaan dan peradaban. Bangsa Arab sama sekali bukan suatu bangsa yang tidak memiliki nilai-nilai yang mulia, seperti: harga diri, kehormatan, keberanian, kejujuran, dan sejenisnya.

Meski kebanyakan mereka tidak bisa baca-tulis, namun kalangan elit mereka pada umumnya mampu. Ini terbukti dalam adanya salinan syair dari para penyair terkenal mereka yang digantungkan di Ka’bah pada masa tersebut. Mereka juga telah mengenal tentang penanggalan yang berdasarkan rotasi bulan (penenggalan qamariah). Selain juga telah mengenal dan memanfaatkan adanya perbedaan musim untuk kepentingan ekonomi (perdagangan) mereka.

Oleh itu, menurut Muhammad Quthub [Jahiliah Al-Qarnil ‘Isyrin, h. 6-9], jahiliah adalah ketidaktundukan pada Allah. Ketidaktundukan pada Allah yang terwujud dalam suatu kondisi psikologis yang menolak mengambil petunjuk yang diberikan Allah, serta suatu sistem yang tidak berhukum pada apa yang telah Allah turunkan. Kendatipun bentuknya berbeda satu sama lain seirama dengan perbedaan kondisi dan perangkat-perangkat pendukung kejahiliahan itu sendiri.

Dari sana, ia lalu menyimpulkan bahwa jahiliah adalah kebalikan dari kesadaran terhadap Allah, terhadap petunjuk dan hukum yang diturunkan-Nya, dan sama sekali bukan kebalikan dari ilmu pengetahuan, peradaban, kebudayaan, maupun melimpah ruahnya produksi.

Bertolak dari sini, jahiliah tidaklah terbatas pada bentuk tertentu yang pernah ada pada masyarakat Arab pada masa tertentu pula, namun bisa ditemukan kapan dan di manapun. Jahiliah bisa ditemukan pada tingkat ilmu pengetahuan, peradaban, kemakmuran, nilai intelektual, sosial, politik, humanitarian dan sebagainya. Praktek jahiliah tidak hanya terjadi pada masa lalu, namun juga banyak dipraktekkan pada era ini. Bahkan boleh jadi lebih banyak dari jahiliah terdahulu.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *