Menyibak Usaha China Menghapus Identitas dan Sejarah Muslim Turkistan

Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, Xinjiang Uighur Autonomous Region (XUAR) memiliki luas hampir 17% dari wilayah Republik Rakyat Cina (RRC) dan memiliki perbatasan dengan Mongolia, Rusia, Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan dan Pakistan. Daerah itu di masa lalu telah disebut dengan berbagai nama, termasuk Uighuristan dan Turkestan Timur.

Cina memberikan nama “Xinjiang” – yang secara harfiah berarti “perbatasan baru” atau “kekuasaan baru” – di akhir abad ke-19 ketika wilayah itu berhasil dikuasai dan dimasukkan ke dalam wilayah Kekaisaran Cina. Ada 55 kelompok etnis minoritas di Cina hari ini dengan total populasi sekitar 91 juta jiwa, yang merupakan 9 persen dari total penduduk RRC.[1]

Masyarakat Uighur telah menggunakan huruf Arab selama 800 tahun, dan mereka Muslim bermazhab Hanafi. Xinjiang sendiri terletak di jantung Asia. Daerah ini sebagian besar terdiri dari pegunungan, gurun, dan stepa, juga merupakan sebuah wilayah masyarakat nomadik, wilayah pertanian, dan beberapa kota oasis yang penting. Gurun terbesar di Xinjiang antara lain: Karakum, Kyzylkum, dan Taklamakan.[2]

Baca juga:

Masyarakat adat dari XUAR adalah orang-orang Turki yang mayoritas Muslim. Mereka termasuk Uighur, Kazaks, Uzbek, Kyrgyz, Tajik, Tatar dan kelompok lain secara resmi diklasifikasikan sebagai “minoritas nasional” oleh RRC, termasuk etnis Hui, etnis Cina yang beragama Islam.

Xinjiang adalah wilayah administrasi terbesar di China, tetapi karena geografisnya yang berupa pegunungan dan gurun, sehingga relatif jarang penduduknya. Berdasarkan sensus tahun 2010, Uighur (Muslim Sunni berbahasa turki) berjumlah 44% dari populasi Xinjiang dan Cina Han 41%.

Di utara Xinjiang, yang meliputi Urumqi, Cina Han menjadi penduduk mayoritas, sedangkan di selatan, di mana Kashgar merupakan pusat kota utama, Uighur mendominasi. Daerah ini secara resmi juga dibagi menjadi sejumlah daerah etnis (misalnya Daerah Otonomi Hui Changji, Daerah Otonomi Yili Kazakh, dll).[3] Ada sekitar 47 kelompok etnis yang berbeda di Xinjiang.[4]

Kehidupan umat Islam di China, negara penganut paham komunis terbesar kedua di dunia setelah Rusia, selalu dipenuhi dengan tekanan dan ketidakadilan. Dalam ajaran komunis yang tidak mengenal Tuhan, menganggap agama sebagai Candu, dan mengambil kebijakan anti agama dengan keras dan beranggapan bahwa agama merupakan gejala kolot yang lambat laun akan ditinggalkan. Apalagi Partai Komunis Cina dalam konstitusinya pada 1931 menyatakan ‘kebebasan melawan agama.’[5]

Baca juga:

Sejak dulu, umat Islam memang sering ditekan, beberapa kali mereka ditekan keras dan dimusuhi oleh pemerintah Cina, maupun kelompok-kelompok yang tidak menginginkan Islam berkembang di Cina pada umumnya dan Xinjiang khususnya. Sebagai kelompok minoritas, muslim kerap kali harus mengalami perlakuan diskriminatif, baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun dalam menjalankan ibadah sehari-hari.

Hal ini dikarenakan proses “pemarjinalan” agama dalam sistem komunisme yang diterapkan oleh pemerintah. Bahkan pemerintah lokal Xinjiang yang didominasi etnis Han (yang memang sengaja didatangkan dari Cina kawasan timur), berusaha melucuti ke-Islaman Uighur lewat penerbitan berbagai dekrit, dokumen resmi, dan peraturan lainnya, yang melucuti agama dan membatasi aktifitas beragama, selain itu juga terjadi pelanggaran HAM.

Selain memerangi kelompok Uighur, Cina bahkan sudah membuat daftar para pemimpin separatis dan menyerahkannya pada dunia internasional dengan menyebut mereka sebagai ‘teroris Islam’ dengan perspektifnya sendiri, yang dikaitkan langsung dengan Taliban di Afghanistan dan jaringan Al Qaeda pimpinan Usamah bin Ladin. Atas dasar itulah, umat Islam di sana mengadakan berbagai bentuk perlawanan, sebagai respon atas perlakuan, penindasan dari pemerintah, yang dirasa sangat tidak adil serta merugikan umat Islam. Sebaliknya pemerintah berusaha untuk meredam perlawanan mereka dengan brutal, dan menganggapnya sebagai ancaman. Sehingga menimbulkan korban yang tidak sedikit, juga kerusakan hebat pada kehidupan Muslim Uighur.

Minyak dan Tambang yang Menggiurkan

Wilayah Xinjiang dilingkari pegunungan Tianshan dan dilewati sungai terpanjang di China, Sungai Tarim. Daerah ini merupakan daerah pertanian yang subur dan mempunyai gurun pasir yang luas.

Dan yang membuat wilayah ini begitu menarik bagi RRC adalah karene Xinjiang memiliki potensi Sumber daya alam yang mellimpah berupa minyak bumi dan tambang yang besar. Di daerah perbatasan semu terdapat cadangan minyak terbesar di China, batu bara, bijih besi, dan lebih dari seratus mineral lainnya.

Dataran yang begitu beragam seperti orang-orang di Xinjiang. Ada gunung yang tetap tertutup salju sepanjang tahun, bersanding dengan dataran tinggi semi-kering, padang pasir, dan sungai pedalaman.

Antara Turkestan, Uigur dan Xinjiang

Kata ‘Uighur’ sesungguhnya merupakan rekonstruksi Pemerintah Cina setelah para penasihat Uni Soviet mengusulkan pemakaian nama itu pada 1931. Nama tersebut digunakan kembali, setelah lebih dari 500 tahun tidak pernah disebut-sebut lagi karena pemilik nama ‘Uighur’, suku beragama Budha di wilayah itu telah beralih menjadi Muslim. Menghidupkan kembali penyebutan Uighur untuk masyarakat yang berdiam di sekitar Oasis itu tidak lain karena Pemerintah Cina ingin merekonstruksi identitas Uighur agar seolah-olah nampak merupakan bagian tak terpisahkan dari Cina sejak awal.[6]

Identitas etno-religius ‘Uighur’ sebenarnya merupakan identitas yang dikonstruksikan oleh Pemerintah Cina pada abad ke-20. Identitas ini dapat dikatakan artifisial dan menyesatkan serta menjadi perdebatan di kalangan kaum Uighur sendiri dengan Pemerintah Cina. Dengan kata lain, ethnonym ‘Uighur’ tidak lain merupakan kata dan identitas yang diproduksi oleh Pemerintah Cina, seolah-olah kata ‘Uighur’ merupakan ethnogenesis yang disandang oleh kaum di Xinjiang. Hal ini dilakukan oleh Pemerintah Cina demi kepentingan narasi sejarah pemerintah, sementara hampir tidak ada yang meluruskan hal tersebut, seolah-olah ethnonym ‘Uighur’ merupakan sebuah realitas empiris.[7]

Daerah Otonomi Xinjiang Uighur (XUAR) yang dengan batas-batas yang dikenal sekarang menjadi bagian dari “China” setelah dianeksasi pada masa Dinasti Qing 250 tahun yang lalu.[8]

Nama “Turkestan” berasal dari bahasa Iran yang berarti “tanah bangsa Turki” merujuk pada dekade abad ke-5. Bagian barat Turkestan secara bertahap ditaklukkan oleh Tsar Rusia pada tahun 1865, setelah itu dikenal sebagai Turkestan Barat. Setelah pembentukan Uni Soviet pada tahun 1924, Turkestan Barat dibagi menjadi lima negara: Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Turkmenistan dan Tajikistan. Bagian timur Turkestan diserang oleh para penguasa Manchu dari Cina pada tahun 1876, dan diberi nama Turkestan Timur. Ini adalah tempat lahir sejarah, budaya dan peradaban Uighur.[9]

Dari zaman dahulu Turkestan Timur adalah pusat berbagai negara Turki yang didirikan di Asia Tengah, berbagai Dinasti Turki seperti Hun (220 SM-386 M), Tabghach (386-534), Kok-Turk (552-744 ), Uighur (744-840), Idi-kut Uighur Raya (850-1250), Karakhanid (840-1124) dan Konfederasi Uighur-Mongol (1218-1759).

Orang Cina, memanfaatkan peluang melemahnya Turkestan. Cina melakukan  enam invasi besar terhadap Turkestan Timur antara 104 SM dan 744 M. Tapi invasi tersebut tidak berhasil, sampai invasi terakhir pada tahun 1876. Setelah invasi ini, Turkestan Timur diberi nama “Xinjiang“, yang berarti “Kekuasaan/wilayah Baru” dan dianeksasi ke dalam wilayah kekaisaran Manchu pada 18 November, 1884.[10]

 

 

[1] Dru Gladney, Dislocating China (Chicago: University of Chicago Press, 2004), 9 dalam Kyle C. Welshans, Nationalism And Islamic Identity In Xinjiang, thesis Master Of Arts In National Security Affairs, Naval Postgraduate School December 2007

[2] Theodore Shabad, Lexicon Universal Encyclopedia 19 (NY: Lexicon Publications, Inc., 1990), hlm. 347. J. Morris Jones dkk (ed.), The World Book Encyclopedia 16 (USA: Fielad Enterprises, Inc., 1956), hlm. 8207.

[3] Nick Holdstock, Islam and instability in China’s Xinjiang, NOREF (Norwegian Peacebuilding Resource Centre) Report – March 2014. p.1 http://www.peacebuilding.no/content/download/167985/725803/version/1/file/Holdstock_NOREF_Islam+and+instability+in+China%E2%80%99s+Xinjiang_Mar+2014_FINAL.pdf

[4] China.org.cn, http://www.china.org.cn/english/China/165014.htm. dalam Kyle C. Welshans, Nationalism And Islamic Identity In Xinjiang, thesis Master Of Arts In National Security Affairs, Naval Postgraduate School December 2007

[5] Ika Yogyantari, Muslim Uighur Di Propinsi Xinjiang Pada Masa Pemerintah Komunis China Tahun 1949 – 2008 M, Skripsi Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

[6]  Abanti Bhattacharya, Conceptualising Uighur Separatism in Chinese Nationalism, Strategic Analysis, Vol. 27, No. 3, Jul-Sep 2003 Institute for Defence Studies and Analyses. p.358 http://www.idsa.in/system/files/strategicanalysis_abhattacharya_0903.pdf&a=bi&pagenumber=1&w=100

[7] John Conway, The Uighur And The Scholar Competing Narratives of Ethno-religious Identity, Queen’s University Kingston, Ontario, Canada July, 2010 p.1-2 http://qspace.library.queensu.ca/bitstream/1974/6011/1/John%20Conway.pdf

[8] C. Welshans, Nationalism And Islamic Identity In Xinjiang, thesis Master Of Arts In National Security Affairs, Naval Postgraduate School December 2007.  p.9

[9] UNPO, East Turkestan, UNPO presentation Agustus 2009.  p.1 http://www.unpo.org/images/member%20profile%20east%20turkestan,%20august%2024%202009.pdf

[10] Ibid. p. 3

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *