Kekalahan Amerika di Afghanistan Menggema di Media Barat

Akhir-akhir ini, sebagian besar penulis di media internasional menyebutkan kekalahan penjajah Amerika dan penarikan pasukannya ketika mengomentari perang Afghanistan. Berikut kami uraikan beberapa pandangan dari para analis yang paling dihormati berpikir tentang penarikan pasukan penjajah dari Afghanistan.

Ahmad Rashid, seorang penulis Pakistan yang dianggap sebagai spesialis terkemuka urusan Afghanistan di dunia barat, telah menerbitkan sebuah artikel di harian Amerika ‘New York Review’ pada 18 Agustus dengan judul ‘pengulangan Saigon di Kabul’.

Saigon adalah ibu kota Vietnam selatan, di mana orang Amerika berperang melawan Nasionalis selama satu dekade dan lebih dari 50.000 tentara tewas. Tetapi pada akhirnya para pejuang Vietnam menguasai Saigon dalam serangan mendadak di mana para penasihat Amerika menyelamatkan diri mereka sendiri melalui penerbangan udara dari kompleks Kedutaan Besar mereka.

Menurut Ahmad Rashid, serangan Taliban yang tak henti-hentinya, desakan kesengsaraan rezim Kabul, tingginya tingkat kesewenang-wenangan pemerintah dan ketidaksabaran orang Amerika mengenai kelanjutan perang adalah ralita yang telah meningkatkan kemungkinan pengulangan insiden Saigon di Kabul.

Baca juga:

Benjamin Hopkins adalah seorang ahli masalah Afganistan dan profesor sejarah dan hubungan internasional di Universitas George Washington. Dia juga menyebut situasi saat ini di Afghanistan mirip dengan situasi Vietnam dalam wawancaranya dengan Business Insider.

Dia mengatakan bahwa perilaku politisi Amerika Serikat saat ini mirip dengan para pejabat pada saat perang Vietnam, yang tidak menerima kesalahan mereka dan berbohong kepada orang-orang kecuali tragedi seperti kejatuhan Saigon yang mengungkapkan ketidakmampuan mereka. Dia menambahkan bahwa perang terpanjang dan termahal dalam sejarah AS akan sia-sia.

Gema kekalahan Amerika disuarakan dalam artikel Washington Monthly baru-baru ini, yang menyatakan bahwa pasukan Amerika harus keluar dari Afghanistan sekarang. Amerika tidak bisa mengubah situasi Afghanistan dalam 18 tahun itu akan menjadi alasan untuk menyingkirkannya, tulis Washington Monthly. Donald Trump, Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS harus fokus pada bagaimana mengakhiri perang ini dan menarik pasukan.

Lebih jauh penulis mengatakan bahwa pengorbanan orang Amerika dan pasukan Afghanistan mereka selama 18 tahun terakhir belum menghasilkan kemenangan. Seperti sumber media lainnya, Washington Monthly menyalahkan para pemimpin Amerika yang menyesatkan publik mereka mengenai situasi perang yang sebenarnya.

Jurnal terkenal Jerman, Spiegel, telah menerbitkan sebuah artikel dari seorang analis Klaus yang terkenal di Jerman pada tanggal 8 September yang menyatakan bahwa selama 17 tahun perang, Taliban telah menang. Amerika menghadapi nasib yang sama dengan Uni Soviet dulu. Pemerintah Afghanistan korup, perdagangan narkoba dan kultivasi berada pada tingkat tertinggi dibandingkan dengan masa lalu.

Spiegel berpikir bahwa Amerika sedang mengikuti jejak Soviet dan Inggris, mereka tidak melihat kemajuan apa pun, dan mereka tidak memperhitungkan konsekuensi sebelum menyerang Afghanistan. Mereka terlalu percaya diri dalam kemampuan mereka sehingga hasilnya jelas bagi semua orang sekarang.

Menurut para analis, kesepakatan pandangan media Barat mengenai kekalahan Amerika di Afghanistan bukanlah kebetulan, tetapi sekarang semua telah sampai pada kesimpulan bahwa penjajah asing tidak berhasil di Afghanistan. Peperangan selama tujuh belas tahun semakin memperkuat, memperluas dan menasionalisasi perlawanan Jihad yang menjadi tidak mungkin untuk dihentikan. Karena itu semua ahli politik berpikir bahwa Amerika harus menarik pasukannya dari Afghanistan.

 

 

Sumber: alemarah