Terlambat, Amerika tak Akan Bisa Keluar dari Afghanistan

<> on September 23, 2010 in Marja, Afghanistan.

Pada bulan Agustus 2017, Presiden Donald Trump mencela kebijakan para pendahulunya yang gagal, ketika ia mengumumkan komitmen Amerika pada misi di Afghanistan. Dalam pidatonya, Trump membuat janji kemenangan yang sama dan menentukan serangkaian tujuan yang sama yang digarisbawahi berkali-kali oleh Presiden George W. Bush dan Presiden Barack Obama:

Pasukan kami akan berjuang untuk menang. Kami akan berjuang untuk menang. Mulai sekarang, kemenangan akan memiliki definisi yang jelas: menyerang musuh kita, melenyapkan ISIS, menghancurkan Al Qaeda, mencegah Taliban mengambil alih Afghanistan, dan menghentikan serangan teror massal terhadap Amerika sebelum mereka muncul.

Rencana Trump untuk meraih kemenangan di Afghanistan telah gagal pada saat misinya dimulai. Berdasar pada premis yang salah tentang ancaman terorisme dan manfaat aksi militer, strategi Trump untuk Afghanistan tidak banyak berhasil untuk membuat Amerika lebih aman.

Baca juga:

Tak satu pun dari ini adalah berita. Pada saat Trump membuat pengumumannya tahun lalu, indikator fundamental kegagalan di Afghanistan telah mudah dilihat selama beberapa waktu. Mengapa Amerika Serikat menggunakan strategi yang sama selama 17 tahun dan tiga presiden?

Jawabannya sederhana: Washington terus memegang sejumlah mitos.

Kekeliruan mitos teori safe haven (tempat persembunyian yang aman) telah mendorong kekhawatiran yang tidak perlu atas ancaman terorisme di masa depan. Ketika Trump bertanya mengapa Amerika Serikat perlu tinggal di Afghanistan, Menteri Pertahanan James Mattis menjawab, “untuk mencegah bom meledak di Times Square.”

Dan memang, banyak yang berpendapat bahwa kegagalan teroris untuk meluncurkan serangan yang sebesar dengan 9/11 membuktikan hasil dari invasi Amerika di Afghanistan dan aksi militer di tempat lain.

Dalam pidatonya pada bulan Agustus 2017, Trump menegaskan bahwa argumen ini adalah alasan utama dari keputusannya untuk memperluas komitmen Amerika ke Afghanistan. Trump mengatakan,

“Konsekuensi dari jalan keluar yang cepat berada di antara kondisi yang dapat diprediksi dan tidak dapat diterima. Peristiwa 9/11 adalah serangan terburuk dalam sejarah kita, direncanakan dan diarahkan dari Afghanistan karena negara itu diperintah oleh pemerintah yang memberi kenyamanan dan perlindungan bagi teroris. Penarikan yang terburu-buru akan menciptakan kekosongan yang akan dimanfaatkan teroris, termasuk ISIS dan al Qaeda, untuk mengisi kekosongan itu, seperti yang terjadi sebelum 11 September.”

Meskipun mitos ini populer di Washington, tetapi argumen safe haven ini adalah berlebihan. Basis yang paling penting dari operasi untuk teroris 9/11 bukanlah Afghanistan, tetapi Amerika Serikat. Sebagaimana laporan komisi penyelidik 9/11 menjelaskan, semua pembajak memasuki Amerika Serikat secara sah, di mana mereka menerima pelatihan teknis (percontohan) mereka, bukan di kamp-kamp rahasia di Afganistan. Tanpa kemampuan untuk melakukan persiapan mereka di sini di Amerika Serikat, serangan 9/11 mungkin tidak terjadi.

Baca juga:

Reformasi keamanan pasca-9/11 telah membuat teroris lebih sulit untuk memasuki Amerika Serikat, dan mereka sekarang tidak dapat mengakses pelatihan canggih, tanpa menimbulkan kecurigaan. Upaya-upaya ini, bukan kampanye di Afghanistan, yang paling efektif dalam membatasi kemampuan calon teroris untuk melakukan serangan di tanah air AS.

Lebih umum, kesalahan mitos safe haven adalah argumen untuk perang tanpa akhir berdasarkan asumsi skenario terburuk yang tidak beralasan. Untuk khawatir tentang serangan dari Afghanistan, kelompok teroris harus memiliki ruang untuk beroperasi di sana dengan aman, harus memutuskan serangan besar terhadap tanah air AS adalah ide yang baik, dan harus mencari cara untuk melakukan serangan itu dari Afghanistan, sekitar 7.000 mil dari tanah air Amerika, tanpa dukungan di Amerika Serikat yang dinikmati oleh Al-Qaeda pada tahun 2001. Dan semua ini harus terjadi tanpa Amerika Serikat mendeteksi dan mengganggu alur ceritanya.

Meskipun lembaga pertahanan dibayar untuk bersiap menghadapi masalah, rangkaian kejadian ini tidak membenarkan pendudukan Afghanistan. Jika Amerika Serikat meninggalkan Afghanistan dan Taliban mengambil kendali lagi, mengapa mereka harus memberikan dukungan kepada Al Qaeda, Islamic State, atau kelompok lain dengan rencana untuk mengulangi 9/11?

Taliban tidak menyerang Amerika Serikat, dan mereka tentu saja tidak mendapat manfaat dari serangan Al-Qaeda di Amerika Serikat. Selain itu, meninggalkan Afghanistan tidak berarti Amerika Serikat harus mengabaikan apa yang terjadi di sana. Intelijen dapat memberikan peringatan dini jika suatu saat nanti ada rencana yang mengarah kepada kemungkinan serangan besar terhadap Amerika Serikat. Pada saat itu Amerika Serikat dapat campur tangan dengan cara yang lebih terbatas untuk menangani ancaman.

Baca juga:

Keyakinan bahwa terorisme dan konflik dapat diberantas adalah mitos kedua yang melanggengkan invasi di Afghanistan. Akar terorisme, seperti penyebab perang, telah tumbuh terlalu dalam bahkan bagi sebuah negara adikuasa. Mengalahkan al-Qaeda dan ISIS tidak akan mengakhiri terorisme jihadis karena organisasi itu sendiri hanyalah gejala yang mendasari dinamika politik dan konflik sosial dan budaya yang mendasar. Terorisme bukan tujuan mereka. Mendeklarasikan perang terhadap gejala-gejala ini dan intervensi di negara-negara yang terbelah oleh konflik akan selalu menemui kegagalan.

Bukti menunjukkan Amerika belum bisa mengalahkan kelompok-kelompok jihadis. Amerika telah menghabiskan 17 tahun di Afghanistan, 15 tahun di Irak, serta serangkaian serangan pesawat tak berawak dan misi operasi khusus di Suriah, Pakistan, Libya, Somalia, Yaman, Filipina, dan Mali. Namun, Departemen Luar Negeri melaporkan bahwa jumlah kelompok jihadis yang terinspirasi Islam telah meningkat tiga kali lipat sejak 2001, sementara jumlah militan jihadis telah meningkat dari sekitar 32.000 menjadi lebih dari 100.000. Di Afghanistan saja, ada sebanyak 20 kelompok yang beroperasi. Dan meskipun tidak ada yang menyatakan bahwa intervensi Amerika adalah satu-satunya faktor penting, tampaknya lebih mungkin bahwa kehadiran Amerika di Afghanistan membuat segalanya lebih buruk alih-alih memperbaiki keadaan.

Akhirnya, para pemimpin militer dan politik Amerika secara keliru mempercayai bahwa kunci untuk memperoleh “kemenangan” di Afghanistan hanyalah sebuah pertanyaan untuk meyakinkan Taliban tentang tekad Amerika. Berbeda dengan Obama, Trump berjanji bahwa kehadiran Amerika di Afghanistan akan berdasarkan kondisi, bukan batasan waktu, dalam upaya untuk menekan Taliban untuk bernegosiasi. Sebagaimana laporan Pentagon dari Desember 2017, yang mengatakan, “Tujuan dari lanjutan misi ini adalah untuk meyakinkan Taliban bahwa mereka tidak dapat menang di medan perang.”

Hari ini pasukan AS lebih sedikit di lapangan daripada selama masa Obama. Gagasan bahwa pendekatan Trump akan menghasilkan lebih banyak pengaruh adalah hal yang fantastis. Hari ini Taliban mengendalikan, memperebutkan, atau mempengaruhi lebih banyak wilayah daripada pada periode sebelum-sebelumnya sejak mereka dijatuhkan dari kekuasaan pada tahun 2001.

Baca juga:

Hal yang membuat keadaan semakin buruk adalah pemerintah Afghanistan saat ini yang menciptakan bencana. Pemerintah tidak mampu melindungi rakyatnya sendiri tanpa bantuan dari Amerika Serikat. Freedom House menilai warga Afghanistan sebagai warga di dunia yang paling “tidak bebas,” dan dalam hal korupsi, Afghanistan menempati urutan keempat terburuk di dunia. Sederhananya, tidak ada strategi Amerika Serikat yang akan mendorong Taliban untuk mengubah tujuannya, terlepas dari seberapa banyak resolusi yang dimiliki Trump dan jenderalnya.

Kegagalan perang Amerika melawan teror telah jelas pada titik ini. Selama pidatonya di bulan Agustus 2017, Trump memulai dengan mencatat bahwa ia bisa merasakan frustrasi yang dimiliki oleh publik AS akibat jalan buntu, dan biaya mahal yang dikeluarkan, serta perang berkepanjangan. Naluri pertamanya adalah menarik pasukan Amerika keluar dari Afghanistan. Saat publik AS mengingat para korban 9/11 dan menghormati jutaan orang yang telah menjadi tentara dalam perang, sudah terlambat waktunya bagi Amerika Serikat untuk menemukan jalan keluar dari Afghanistan.

 

Sumber: tnsr