Obsesi Amerika yang tak Pernah Usai Soal Kedaulatan

Amerika telah lama menjadikan perlindungan kedaulatan negara sebagai fokusnya. Semuanya dimulai ketika George Washington pensiun sebagai presiden. Ia memberi peringatan agar para penerusnya menghindari aliansi “permanen” dengan kekuatan asing.

Sejak saat itu, bangsa AS seringkali menghadapi debat yang memanas, tentang bagaimana mempertahankan kedaulatan itu. Selain itu, masih ada permasalahan mengenai apakah dan kapan waktu yang tepat untuk menurunkan sebagian egoisme dalam membuat perjanjian dan aliansi yang potensial bagi Amerika.

Saat kita melihat Amerika Serikat, negara adidaya hebat yang masih ada, kita patut bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di dunia. Berita palsu, skandal Rusiagate, anti-Trumpisme merajalela, retorika America First, polarisasi masyarakat, dan konfrontasi gencar dengan negara lain. Bagaimana kita bisa memahami ini? Buku tulisan Stewart Patrick, The Sovereignty Wars: Reconciling Amerika with the World mungkin bisa memberikan jawaban.

Dalam detail yang ia tulis dalam buku, ia berpendapat bahwa Amerika sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ada ketegangan yang mengakar di dalam sanubari Amerika: haruskah bangsa yang luar biasa, “yang diberkahi Tuhan” ini melakukan tugas sendirian sebagai sebuah lampu pijar yang menerangi di atas bukit? Atau haruskah mereka bekerja dengan negara-negara lain untuk membangun dunia yang secara kolektif aman, sejahtera, dan adil bagi semua orang? Ketegangan antara dua posisi ini mungkin bisa disebut sebagai kecemasan utama Amerika.

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penting bagi masyarakat, khususnya di dunia internasional pasca 9/11. Kontribusi utama Patrick dalam meramaikan diskusi tentang Amerika tersebut adalah mengeksplorasi cara orang Amerika berdebat tentang peran mereka di dunia pada kondisi yang berbeda dalam sejarah.

Patrick mengidentifikasi lima arena percakapan inti dari masalah besar Amerika: hukum internasional, keamanan nasional, globalisasi, imigrasi, dan keamanan perbatasan. Ulasan yang komprehensif dalam buku ini akan menarik bagi banyak pembaca.

Amerika muncul sebagai “kekuatan besar” sekitar tahun 1900. Sejak awal, telah muncul dialektika tentang “peran internasional” yang harus dilakukan oleh Amerika. Setelah Perang Dunia I, Amerika menghadapi sejumlah debat besar dan penuh gejolak. Woodrow Wilson, presiden dari 1913–1921, menginginkan dunia yang “menerapkan keamanan kolektif, dengan alasan bahwa Amerika Serikat harus bersedia berkompromi dengan otonomi kedaulatannya untuk membuat skema seperti itu berhasil.”

Dia berpikir bahwa “hanya sebuah organisasi internasional universal yang didasarkan pada hukum internasional dan berkomitmen untuk mencegah dan mengalahkan agresi dapat menjamin perdamaian abadi.” Tetapi bagi para penganut wacana isolasionis, gagasan bahwa “tidak ada bangsa yang harus berusaha memperluas kebijakannya atas bangsa atau orang lain mana pun” adalah hal yang terlalu banyak.

Sejak berdirinya negara AS, pemerintah AS telah mengadopsi “postur global yang terpisah, termasuk menghindari keterikatan dengan dunia internasional secara jangka panjang.” Patrick juga mengatakan kepada kita bahwa hari ini, sebagaimana “percepatan global semakin cepat, besar, dan dalam, maka keamanan, kemakmuran, dan ekologi kesehatan setiap negara semakin terkait erat dengan kesejahteraan negara lain.”

Menurut Patrick, AS sering memberikan kontribusi besar untuk meletakkan dasar tatanan internasional di dunia pasca Perang Dunia II. Mereka memainkan peran utama dalam pendirian PBB dan meletakkan struktur perdamaian, setelah mundurnya Liga Bangsa-Bangsa.

Tapi mereka sekarang dihadapkan dengan kemungkinan bahwa pembentukan “pasukan militer yang bersifat permanen di PBB akan mengancam otoritas kedaulatan dan otonomi AS yang terkait dengan masalah kompleks: komando dan kontrol.” Wendell Willkie berpendapat bahwa jika Amerika harus menjaga kedaulatannya sendiri, mereka mungkin tidak akan bisa berkomitmen pada “organisasi internasional yang memiliki kekuatan untuk mencegah agresi dan menjaga perdamaian.”

Dengan runtuhnya satu-satunya negara adidaya pesaing AS, Uni Soviet, pada 1991 dan terjadinya peristiwa 9/11, AS tidak dapat menahan hasratnya untuk menancapkan hegemoninya di dunia internasional. Meskipun sebetulnya mereka dapat memilih untuk memetakan jalur yang berbeda menuju konstelasi antar-negara, tetapi mereka tidak melakukannya.

Patrick mengungkapkan tentang revolusi Bush dalam kebijakan luar negeri AS. Patrick menyatakan bahwa “Amerika” sekarang “tidak pernah mau terikat”. Bush dan rekan-rekannya menyingkirkan aturan internasional seperti seorang dewasa yang menyimpan boneka-boneka usang.

Mereka meninggalkan traktat seperti Perjanjian Anti-Balistik dengan Rusia, menolak Protokol Kyoto, dan memblokir protokol verifikasi untuk Konvensi Senjata Biologis. Amerika adalah negara aneh dan sangat kuat. Mereka akan bertindak sesuai keinginan mereka, tanpa berkonsultasi dengan siapa pun. Amerika telah mempromosikan lembaga keamanan internasional sebagai landasan untuk membangun kepemimpinan AS atas dunia. Kini tidak lagi. Mereka bisa melakukan apapun tanpa batasan hukum internasional. Lihat saja, semua perjanjian PBB tidak akan ditandatangani oleh AS (sebagaimana perjanjian ICC).

Buku Patrick ini menawarkan lebih sedikit definisi kedaulatan, dengan alasan bahwa sebagian besar diskusi tentang konsep kedaulatan negara melibatkan tiga dimensi: otoritas, otonomi, dan pengaruh. Ia menjelaskan bahwa “Kedaulatan Amerika adalah berarti bahwa Amerika Serikat memiliki hak yang melekat yang tidak boleh dikalahkan, otonomi yang tidak boleh dilanggar, dan nasib untuk harus bisa mempengaruhi.”

Namun, menurut Patrick, trilogi kedaulatan itu tidak terlalu menuntut: “Begitu kami mengakui bahwa tiga aspek kedaulatan tersebut dapat dipisahkan, kami melihat bahwa ada kemungkinan  untuk secara sukarela memperdagangkan satu aspek kedaulatan untuk mencapai sebuah tujuan.”

Dia memprediksi bahwa dua fenomena akan membuat Amerika Serikat lebih bergantung pada pihak lain untuk menjamin keamanannya sendiri. Pertama, “perubahan teknologi yang cepat sedang membuat pemerintah dan organisasi internasional berebut untuk mengatur inovasi dengan implikasi mendalam untuk keamanan global, di area dari dunia maya ke drone, robotika, nanoteknologi, kecerdasan buatan, dan biologi sintetis.”

Kedua, “ancaman global kontemporer yang merata, yang muncul bukan hanya dari negara-negara berdaulat di dunia, tetapi berasal dari aktor non-negara yang mampu memperoleh dan mengeksploitasi teknologi yang mengganggu dan berpotensi mematikan dengan atau tanpa sepengetahuan otoritas pemerintah. ”

Buku The Sovereignty Wars ini adalah jawaban yang menohok bagi mereka yang berpendapat bahwa kesibukan dengan urusan kedaulatan akan memperkokoh pijakan Amerika. Ini juga merupakan peringatan serius bagi mereka yang percaya bahwa para pembuat kebijakan hanya perlu menunggu badai populis berlalu. Patrick mengamati, “krisis globalisasi telah menjadi krisis demokrasi Barat karena banyak warga tidak lagi percaya bahwa sistem politik mereka mampu atau bahkan mau untuk menanggapi keluhan dan keinginan mereka.”

Judul buku: The Sovereignty Wars : Reconciling America with the World

Penulis: Stewart M.  Patrick

Penerbit: Brookings Institution Press

Tahun Terbit: 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *