Keyakinan yang Salah Kepada Allah Merupakan Sumber Kejahiliyahan

Artikel berikut ini merupakan kelanjutan dari naskah sebelumnya Jahiliah Bukan Kebodohan Tapi Ketidaktundukan Kepada Allah.

Meski secara literal jahiliah berarti kebodohan, namun jahiliah tidak sekedar bodoh. Tetapi inti dari jihiliah, sebagaimana yang disebutkan Muhammad Quthb—salah seorang pemikir Islam kenamaan—adalah kesesatan dan penyelewengan ibadah atau penghambaan kepada Allah. Yaitu suatu bentuk penghambaan yang tidak termanifestasikan dalam wujud ketundukan kepada-Nya semata-mata dalam semua aspek kehidupan.

Awal dari kesesatan dan penyelewengan ini tidak lain karena adanya penyimpangan dan kekeliruan dalam persoalan keyakinan atau akidah. Dalam bahasa syar’i, penyimpangan tersebut dinamakan syirik.

Pada masa jahiliah, bangsa Arab sudah mengenal Allah, meyakini eksistensi-Nya, dan menunjukkan diri kepada-Nya. Tetapi, dalam bentuk yang keliru. Tentang hal ini, Al-Quran menegaskan, “Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah” [QS. Yunus: 31].

Meski bangsa Arab saat itu telah mengenal Allah dan mereka pun sudah beriman bahwa Allah-lah pencipta dan pengatur segala sesuatu, namun hal ini tidak dapat menghilangkan label jahiliah bagi mereka. Karena yang membuat mereka disebut jahiliah adalah disebabkan mereka tidak mengetahui Allah secara hakiki, tidak beriman kepada-Nya secara benar, dan tidak mau berhukum kepada-Nya dalam semua aspek kehidupan mereka.

Mereka mengakui Allah, tetapi tidak diikuti dengan konsekuensi dari pengakuan mereka terhadap-Nya yang harus mereka laksanakan. Mereka mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi dalam waktu yang sama mereka juga menyembah tuhan-tuhan yang lain.

Mereka mengakui Allah sebagai Tuhan, namun enggan melaksanakan syariat-Nya dan tidak berhukum pada syariat tersebut. Singkatnya, dengan sikap mereka tersebut dan juga sikap-sikap sejenisnya, maka mereka pun disebut dengan jahiliah.

Dari segi keyakinan, keyakinan mereka disebut di atas dapat dianggap tidak ada artinya, sekali pun berhala-berhala itu tidak mereka sembah secara hakiki dan hanya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah [baca  QS. Az-Zumar: 3].

Sementara dalam segi pelaksanaan syariat, Allah secara tegas mengumukakan bahwa tidak ada pemisahan antara akidah dan syariat. Tidak mungkin terjadi bersatunya antara kesesatan dan keimanan kepada Allah, dan antara penyimpangan terhadap syariat dengan berhukum kepada apa yang telah ditetapkan-Nya [baca QS. Al-Maidah: 44-50].

Oleh itu, inti utama yang ada pada setiap jahiliah adalah tiadanya keimanan yang benar kepada Allah, atau tiadanya keislaman (ketundukan dan kepatuhan) kepada-Nya dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini sebagaimana yang disinggung dalam Al-Quran, “Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah (zhannal jahiliyyah). Mereka berkata, “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah, “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati” [Ali Imran: 154].