Menyoroti Peran Wanita dalam Gerakan Jihad: Sebuah Perspektif Historis

Pada bulan September 2018, ICCT (International Centre for Counter-Terrorism)—lembaga think tank di Den Haag, Belanda—merilis sebuah paper tentang peran wanita dalam kelompok jihadis. Seran de Leede, peneliti yang menuliskannya, mencoba untuk menelusuri topik tersebut dari kronologi sejarah.

Tujuan penulisan tersebut diringkas oleh De Leede dalam summary-nya. Dengan mengeksplorasi peran wanita yang berbeda-beda secara historis dalam gerakan jihadis, penulis mengajak pembaca untuk memperluas pemahaman tentang posisi perempuan dalam pergerakan, sekaligus relevansinya, dalam aliran jihad kontemporer.

Didapati bahwa kaum wanita telah banyak berperan dalam mempertahankan dan menyebarkan ideologi jihadis. Bentuknya pun beragam, seperti mendukung suami-suami jihadis mereka, membesarkan anak-anak mereka sesuai dengan ideologi jihadis, merekrut orang lain, membantu menciptakan aliansi melalui perkawinan stratejik, menggalang dana, hingga fungsi kurir sebagai pengirim pesan, barang, bahkan senjata. Pada skala yang lebih kecil dan jarang, ada pula yang mengambil peran operasional dalam perencanaan dan pelaksanaan serangan, termasuk sebagai pelaku pengeboman.

Baca juga:

Tulisan De Leede dimulai dengan menjelaskan dulu apa itu konsep jihad sekaligus menjabarkan perbedaanya dengan jihadisme sebagai paham dan gerakan ideologis. Ia menjelaskan bahwa dimensi jihad dalam Islam sebenarnya luas, bukan sekadar “aksi kekerasan”. Paling tidak, makna lain dari jihad adalah memperjuangan kebenaran (struggle to do ‘the right thing’) dan mengendalikan hawa nafsu.

Istilah jihad juga diartikan upaya memerangi ketidakadilan dan penindasan, menyebarluaskan dan membela Islam, upaya mewujudkan masyarakat yang adil (di bawah naungan Islam) lewat dakwah, pengajaran, maupun perjuangan bersenjata atau “perang suci”. Dalam konteks pengertian kedua inilah yang dibahas De Leede.

Kajiannya tentang peran wanita dalam jihad kontemporer dimulai dari pendudukan Uni Soviet atas Afghanistan pada tahun 1980-an. Bermula dari jihad defensif untuk melawan invasi, jihad Afghanistan berkembang menjadi semacam perang proksi lewat perekrutan mujahidin yang membanjiri Afghanistan dari berbagai penjuru dunia.

Namun, sebelum itu, De Leede mencoba untuk mengembalikan diskusi tentang peran wanita dalam jihad dari kajian literatur klasik umat Islam. Fokus pembahasan biasanya tentang hukum keikutsertaan wanita dalam jihad—dalam perspektif fikih—dan sejauh mana batasan perannya. Menariknya, terdapat sejumlah catatan tentang sosok-sosok dan peran “heroik” wanita di medan perang. De Leede menyebutkan di antaranya A’isyah (Istri Nabi Muhammad) dalam Perang Jamal, Zainab dalam Perang Karbala, dan Khaulah bint Al-Azwar dalam pertempuran melawan Romawi (Bizantium).

Baca juga:

Pada awal tulisannya, De Leede memang lebih banyak menyoroti peran wanita dalm konteks militer. Bahkan, ia menyimpulkan bahwa keterlibatan wanita dalam peran militer memberi sejumlah keuntungan bagi pergerakan jihad, di antaranya dari asumsi umum berbasis jender tentang wanita dan kekerasan.

Wanita sering kali digambarkan sebagai korban, sementara jika mereka terlibat secara aktif, mereka bisa menembus pos-pos pemeriksaan tanpa terdeteksi dan lebih mudah berbaur di kerumunan tanpa memancing kecurigaan.

Selanjutnya, De Leede membahas peran wanita sebagai ibu dan istri. Peran ini justru yang paling banyak dinukil oleh para tokoh ideolog jihadis dan paling ditekankan. Sebut saja oleh Pemimpin Al-Qaidah Usamah bin Ladin dan penerusnya, Aiman Azh-Zhawahiri. Usamah, misalnya, pernah menyinggung peran wanita yang tidak kalah berharganya dibandingkan peran pria karena wanitalah yang melahirkan para lelaki pejuang yang bertempur di Palestina, Libanon, Afghanistan, dan Chechnya.

Azh-Zhawahiri juga menekankan peran di luar militer, dengan memuji wanita atas tugas mereka dalam mengurusi rumah dan anak-anak mujahidin. (Lihat: Lahoud, “The Neglected Sex”, hlm. 783).

Adapun Hamas, dalam piagam mereka, secara jelas juga menyatakan bahwa salah satu tugas utama wanita adalah membesarkan generasi pejuang masa depan. (Article 18, “Hamas Covenant 1988”, Yale School Avalon Project).

Setelah peran utama tersebut, De Leede baru membahas peran-peran ikutan lainnya, seperti sebagai penghasung dan perekrut, fasilitator dan penyedia sarana.

Terakhir, sebelum kesimpulan, kembali De Leede menyinggung peran wanita sebagai perencana dan penyerang. Salah satu contohnya adalah peran ilmuwan muslimah, yaitu Dr. Aafia Siddique.

Baca juga:

De Leede menyiratkan kritikan bahwa selama ini fokus utama dalam memahami jihadisme (global) sering lebih kepada aktor pelaku dan pemimpin sehingga keterlibatan wanita tampak kurang terwakili dalam gerakan jihadis. Dampaknya, sejauh mana kontribusi fasilitatif dan dukungan wanita sering kurang dipahami dan mendapat penilaian.

Kesimpulannya, De Leede—selaku peneliti dan penulis—ingin ini menunjukkan bahwa wanita telah (lama) menjalankan peran komplementer bagi laki-laki dalan jihad. Ia juga berpendapat bahwa wanita merupakan bagian integral dari jihadisme kontemporer, yang tidak dapat dilihat sebagai aspek terpisah atau sekunder dibandingakan kontribusi pria bagi jihad.

 

Sumber:  icct