Terlalu Lama, Perang Aceh Membuat Belanda Galau

Secara militer, Perang Aceh juga merupakan perang terbesar melawan penjajah Belanda di Indonesia. Bagi Belanda, Perang Aceh tidak hanya pertikaian senjata, tetapi merupakan urusan politik nasional, penjajah, dan internasional selama satu abad, yang mengantarkan ke dunia modern.

Sejak tahun 1873, Perang Aceh diiringi oleh dua pertanyaan yang tidak terjawab. Pertama soal militer. Apakah perang ini dilakukan dengan cara yang tepat? Strategi militernya, taktiknya, dan kepahlawanan dipersoalkan di sini; bukan hanya itu, tetapi juga provokasi, teror, dan kekejaman.

Semua panglima tertinggi datang pergi silih berganti. Di antaranya terdapat jenderal-jenderal masyhur, seperti J. Van Swieten, K. van der Heijden, dan J.B. van Heutsz, terlibat dalam perang terpanjang Belanda itu. Mereka ditugaskan di Aceh untuk menundukkan perjuangan Jihad para ulama dan rakyat aceh.

Baca juga:

Pertanyaan kedua yang tidak terjawab bersifat susila dan politik. Apakah perang ini dapat dibenarkan? Perdebatan ini pun memakan waktu tiga perempat abad dan belum selesai. Di antaranya Multatuli, Busken Huet, Abraham Kuyper, Snouck Hurgronje, Troelstra, Ratu Wilhelmina, Volin, dan masih banyak lagi.

Sebagian besar mereka orang Belanda, namun ada kalanya terdengar suara orang pribumi, walaupun perang ini lebih merupakan persoalan Belanda dan Hindia Belanda daripada persoalan pribumi.

Pada bulan Oktober 1872 terbit surat terbuka Multatuli, yang menentang perang melawan kerajaan Islam Aceh, Surat kepada Raja: “Gubernur Jenderal, Tuanku, dengan bermacam dalih yang dicari-cari, berdasarkan alasan provokasi yang dibuat-buat, melancarkan perang kepada Sultan Aceh, dengan tujuan merampas kedaulatan kesultanan itu. Tuanku, perbuatan ini tidak berbudi, tidak luhur, tidak jujur, dan tidak bijaksana.”

Baca juga:

Pada tahun 1873 Pendeta J.H. Gunning di Den Haag menerbitkan buku dengan judul yang sarat makna, Acchin, een waarshuwing Dods aan ons (Aceh, suatu peringatan Tuhan kepada kita), sebuah khotbah tentang ekspedisi yang gagal itu.

Ia mengutip di dalamnya bagaimana Tuhan menurut Joshua VII menghukum anak-anak Israel dengan menimpakan kekalahan. “Lebih daripada pencurian uang dan barang yang telah kita lakukan terhadap Hindia Timur,” kata Gunning dalam khotbahnya.

“Tidak kita berikan kepada mereka kehidupan yang ada dalam Yesus Kristus. Karena itu, di dalam dan di luar batas-batas jajahan, kita tumbuhkan kehidupan yang bermusuhan dan berbalik melawan kita. Kita harus mengakui dan memberantas dosa-dosa terhadap tanah jajahan Hindia Timur. Sifat mementingkan diri kita dan nenek moyang kita janganlah lagi kita hiasi dengan nama yang indah-indah, dan jangan kita lanjutkan. Keadilan untuk orang bawah, dalam pemerintahan negara dan hubungan perdagangan pertama-tama ditegakkannya keadilan kembali, dengan langkah yang tetap, bersih, dan juga bermanfaat tujuannya. Kemudian kebebasan, pengabaran Injil yang tiada dihalang-halangi bagi mereka yang belum mengenalnya.”

 

“Tidak semua penjajah Belanda satu kata soal Perang Aceh yang terlalu lama” 

 

 

Referensi:

Paul van’t Veer, Perang Aceh, Kisah kegagalan Snouck Hourgronje, (diterjemahkan dari buku berhasa Belanda De Atjeh-Oorlog), Grafitipers Jakarta 1985.

A.Hasjmy, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, Cetakan Pertama 1977.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *