Cara Amerika Menangkal Perang Informasi Rusia, China, dan “Teroris”

Amerika Serikat akan menghadapi pemilihan umum Presiden pada tahun 2020. Serangkaian fokus diberikan kepada upaya untuk mengantisipasi keterlibatan negara asing yang mencoba mempengaruhi publik Amerika, seperti pada kasus Pemilu 2016 lalu. Saat itu, Rusia dituduh telah melakukan berbagai operasi rahasia untuk mempengaruhi suara rakyat Amerika, untuk memilih Trump.

Artikel ini ditulis oleh Kara Frederick, dan dimuat di situs War on The Rock. Ia adalah peneliti di bidang Teknologi dan Program Keamanan Nasional di the Center for a New American Security.

Dari 2010 hingga 2016, penulis bekerja sebagai analis kontra-terorisme yang mendukung pasukan operasi khusus, dengan tiga kali penugasan di Afghanistan. Penulis kemudian memimpin tim intelijen di Facebook yang fokus pada kontra-terorisme dan keamanan global.

Beberapa minggu lalu, seorang hakim agung di Pennsylvania mendakwa tujuh perwira intelijen Rusia atas tuduhan operasi peretasan dan penyebaran pengaruh, yang disponsori negara Rusia. Jaksa Agung AS, Jeff Sessions, dan Direktur FBI, Christopher Wray, menegaskan beratnya kejahatan itu.

Pada hari yang sama, Wakil Presiden Mike Pence memperingatkan bahwa China meluncurkan upaya yang “belum pernah terjadi sebelumnya” untuk mempengaruhi opini publik menjelang pemilihan umum 2018 dan 2020. Dari Rusia, China hingga Iran, musuh Amerika semakin menggunakan operasi pengaruh, yaitu penggunaan informasi untuk sengaja membingungkan, menyesatkan, atau menggeser opini publik, untuk mencapai tujuan strategis mereka.

Bagi kebanyakan orang Amerika, serangan operasi yang baru-baru ini terjadi di dalam negeri mungkin terasa seperti ancaman baru. Tetapi kenyataannya adalah bahwa saat medan perang telah berubah, hampir dua dekade perjalanan melawan terorisme mengajarkan banyak hal kepada Amerika Serikat tentang cara menghadapi tantangan terbaru ini.

Lima pelajaran penting dalam menangani konten terorisme di dunia maya, yaitu: meningkatkan metode teknis untuk mengidentifikasi konten kampanye pengaruh asing, mendorong platform untuk berkolaborasi, membangun kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta, mencurahkan sumber daya yang diperlukan untuk menjaga jarak aman dengan musuh, dan mengambil keuntungan dari pengetahuan negara mitra AS.

Pelajaran 1: Melakukan Peretasan dan Pemindaian Otomatis

Tujuan utama dalam pertempuran informasi adalah menghabisi musuh. Di sektor teknologi, perusahaan seperti Google, Twitter, dan Facebook telah menggunakan kombinasi metode untuk mengidentifikasi dan menangani konten teroris. Teknik-teknik tersebut termasuk mengotomatisasi identifikasi konten melalui pemindaian otomatis, mengurangi amplifikasi konten jahat, dan mengurangi anonim.

Perusahaan-perusahaan teknologi yang berusaha membasmi terorisme di platform mereka telah melatih berbagai “alat pengelompokan” untuk membantu mengidentifikasi konten yang melanggar persyaratan layanan perusahaan. Perusahaan bereksperimen dengan pemahaman bahasa alami untuk membantu mesin “memahami” konten ini dan mengkategorikannya sebagai propaganda teroris atau tidak.

Di Twitter, di mana 7 persen akun ditangguhkan karena mempromosikan terorisme pada akhir 2017. Selain itu, perusahaan seperti Microsoft dan Facebook mengarsipkan teks, frasa, gambar, dan video yang mereka cirikan sebagai propaganda teroris dan menggunakan data ini untuk melatih perangkat lunak mereka untuk mengenali konten serupa sebelum disebarkan. Platform media sosial tersebut juga mengurangi anonimitas dan meningkatkan atribusi dengan memperketat proses verifikasi (misalnya memeriksa akun yang menunjukkan tanda-tanda akun robot dan bukan kontrol manusia) untuk memerangi penyebaran pesan fitnah secara otomatis.

Teknik-teknik ini dapat diterapkan langsung untuk melawan operasi dari negara asing yang mencoba mempengaruhi opini publik pada platform media sosial. Perusahaan media sosial harus mengidentifikasi metode yang paling efektif membuat platform mereka “bermusuhan” dengan konten teroris. Ada tiga cara untuk melawan terorisme yang disorot di atas, yaitu identifikasi konten melalui teknologi mesin pemindai, mengurangi amplifikasi konten jahat, dan mengurangi anonimitas.

Membuat arsip yang berisi istilah atau frasa, yang biasa digunakan dalam kampanye disinformasi dapat menjadi sumber untuk menandai secara otomatis konten-konten yang dikategorikan jahat.Penggunaan algoritma seperti yang digunakan dalam mendeteksi potensi propaganda teroris dapat membantu mengurangi kampanye disinformasi yang dilakukan negara asing.

Facebook dan Google sudah menerapkan praktik ini, seperti penghapusan konten yang dinilai salah oleh pihak ketiga yang dipercayai memeriksa konten. Mereka juga melakukan kalibrasi ulang algoritma pencarian. Penangguhan akun Twitter sebanyak 70 juta pada bulan Mei dan Juni juga menandakan komitmen untuk mendapatkan hak ini. Namun, masih banyak yang harus dilakukan.

Perusahaan teknologi harus membuat “peretasan” masalah disinformasi dengan prioritas untuk mengotomatisasi identifikasi kampanye pengaruh yang disponsori negara asing. Hal ini akan membantu melawan aktor asing jahat yang berusaha untuk melakukan kejahatan mereka menggunakan teknologi baru.

 

Baca halaman selanjutnya:  Bekerja Bersama Perusahaan Swasta