Anak-Anak Muslim Etnis Kazakh: Orang Tua Kami Ditahan China

Anak-Anak Muslim etnis Kazakh Meminta Bantuan Untuk Membebaskan Orang Tua Mereka yang ditahan Pemerintah Cina Di Xinjiang

Sekelompok anak-anak etnis Kazakh dari China telah mendesak pemerintah Kazakhstan untuk membantu membebaskan orang tua mereka dari penjara “kamp pendidikan ulang” di wilayah Xinjiang.

Sekitar 50 anak menghadiri pertemuan di kantor Atazhurt Young Volunteers, sebuah LSM yang memfasilitasi pertemuan tersebut pada 2 November 2018.

Mereka meminta otoritas Kazakh dan organisasi hak asasi manusia (HAM) internasional untuk membantu pembebasan orang tua mereka.

Beberapa dari anak-anak itu ditemani oleh kerabat mereka. Sejumlah anak mengatakan satu atau kedua orang tua mereka telah ditahan dan dikirim ke kamp-kamp pendidikan ulang (re-edukasi) saat bepergian ke Xinjiang, yang berbatasan dengan Kazakhstan.

Yang lain mengatakan orang tua mereka diizinkan untuk pindah ke Kazakhstan tetapi tidak diberikan dokumen yang diperlukan untuk mengajukan permohonan status penduduk di negara Asia Tengah tersebut.

Setelah Kazakhstan memperoleh kemerdekaan paska runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, banyak warga etnis Kazakh dari Xinjiang dan tempat lainnya diuntungkan dengan program pemerintah Kazakhstan terhadap etnis Kazakh di negara itu.

Banyak dari mereka yang memperoleh tempat tinggal permanen di Kazakhstan atau warga negara Kazakhstan, tetapi terus mengunjungi kerabat mereka di Xinjiang secara teratur.

Bulan lalu, repatriat Kazakhstan dari Tiongkok mengadakan dua protes terpisah di Almaty, meminta Jerman dan Prancis untuk membantu keluarga mereka agar dibebaskan dari kamp-kamp penahanan di Xinjiang.

Pejabat hak asasi manusia PBB mengatakan pada Agustus bahwa sekitar 1 juta Muslim Xinjiang ditahan di “counterextremism centers” di China dan jutaan lainnya dipaksa masuk ke kamp-kamp pendidikan ulang.

Pada bulan Agustus, sebuah pengadilan di Almaty menolak untuk mengekstradisi Sairagul Sauytbay, seorang warga etnis Kazakh China yang dicari di Tiongkok karena tuduhan penyeberangan perbatasan ilegal.

Sauytbay melarikan diri dari Cina pada bulan April dan bersaksi di pengadilan Almaty bahwa ribuan etnis Kazakh, Uyghurs, dan Muslim lainnya di Xinjiang sedang menjalani “indoktrinasi politik” di jaringan “kamp pendidikan kembali.”

Dia bersaksi bahwa pihak berwenang China telah memaksanya untuk melatih para instruktur “ideologi politik” di kamp pendidikan ulang, memberikan akses pada dokumen rahasia tentang program negara untuk “mengajar ulang” semua Muslim etnis pribumi.

Uyghur (etnis turki) adalah komunitas pribumi terbesar di Xinjiang, yang kedua Kazakh, dan wilayah ini juga rumah bagi etnis Kyrgyz dan Hui, juga dikenal sebagai Dungans.

Etnis Cina-Han merupakan etnis terbesar di Cina, dan komunitas terbesar kedua di Xinjiang.

Pada 19 Oktober, koran China Daily yang dikelola pemerintah menulis dalam editorialnya bahwa Muslim di Xinjiang rentan terhadap propaganda ekstrimis asing dan membutuhkan pendidikan dan keterampilan kejuruan.

Editorial itu menuduh media Barat punya “standar ganda” ketika mengabarkan Xinjiang, dan bahwa media asing membuat “gambaran palsu”  tentang Xinjiang untuk meperburuk citra pemerintah China.

 

Sumber:  rferl

Tags: