Taliban: Pemilu tak Memiliki Tujuan Untuk Islam atau Afghanistan

Dalam serangkaian pernyataan minggu ini, Taliban menolak pemilihan parlemen yang akan berlangsung di Afghanistan atas dasar Islam. Imarah juga menyerukan tindakan yang diperlukan untuk menggagalkan atau mengganggu proses tersebut. AS saat ini berusaha untuk mengakhiri perang 17 tahun dengan perundingan, AS yakin bahwa Taliban bisa berdamai dengan pemerintah Afghanistan. Namun Taliban menolak pemilu dan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani yang didukung Barat. Keduanya dianggap tidak sah.

Taliban berpendapat bahwa pemilu bertentangan dengan ajaran Islam dan menjadi kewajiban setiap muslim untuk menentangnya.

Situs al-emarah milik Imarah Islam Afghanistan memuat pernyataan menentang pemilihan pada tiga hari berturut-turut, dari 17 hingga 19 Oktober 2018. Pernyataan-pernyataan itu disampaikan oleh tiga komisi yang berbeda dalam struktur Emirat Islam Afghanistan, yang beroperasi sebagai pemerintah di banyak tempat di Afghanistan.

Baca juga:

Pada 17 Oktober, Imarah merilis ” pesan khusus ” yang ditujukan kepada “guru dan direktur universitas, madrasah, sekolah dan lembaga pendidikan mengenai pemilihan.”

“Pada akhirnya kita harus menekankan bahwa proses pemilu tidak memiliki tujuan untuk Islam atau untuk Afghanistan tetapi sebaliknya adalah rencana asing untuk memperpanjang pendudukan, menutupi invasi militer dan membohongi publik,” kata Imarah.

“Oleh karena itu, adalah kewajiban setiap Muslim sejati dan orang Afghan untuk menghentikan rencana ini sejak awal sehingga para penjajah kecewa dengan rencana mereka dan terpaksa mundur dari tanah air kita.”

Berikut terjemahan lengkap pernyataan Imarah dari bagian Komisi Pengajaran dan Pendidikan Tinggi:

Pesan untuk guru dan direktur universitas, dosen, sekolah dan lembaga pendidikan terkait Pemilu

Dosen, guru, profesor, dan direktur lembaga pendidikan yang terhormat!

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Dia menerima semua amal Anda untuk agama dan bangsa kita.

Anda sudah sangat menyadari tentang masalah dan kondisi saat ini yang berlaku di Afghanistan. Pasukan pendudukan telah melanjutkan operasi dan pemboman militer, secara politik mereka mencoba menipu rakyat dan memberikan legitimasi kepada antek mereka.

Proses pemilihan parlemen oleh para penjajah ditujukan untuk membentuk parlemen yang dapat menandatangani dokumen untuk memperpanjang pendudukan dan demi mencapai tujuan penjajahan mereka. Dan itulah sebabnya mereka berkampanye sangat keras untuk suksesnya pemilihan parlemen. Karena seluruh proses ini dari awal sampai akhir direncanakan dan hasil akhirnya dipetik oleh penjajah. Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap muslim dan setiap warga Afganistan untuk memboikot dan menggagalkan proses yang diluncurkan oleh para penjajah tersebut.

Sebagai anggota masyarakat yang berpengaruh, Para guru dan direktur lembaga pendidikan harus berusaha keras mencegah siswa dan koleganya berpartisipasi dalam proses ini. Selain itu, para direktur pemilihan ingin membuka tempat pemungutan suara di dalam lembaga pendidikan. Komisi untuk Pengajaran, Pembelajaran dan Pendidikan Tinggi Imarah Islam Afghanistan memerintahkan semua tenaga kependidikan; guru, dosen dan sekolah di semua kota dan daerah pedesaan di negara Afghanistan untuk menghentikan upaya untuk menjadikan sekolah menjadi tempat pemungutan suara dan mencegah guru dan siswanya berpartisipasi sebagai pekerja pemilu.

Imarah Islam berharap rakyat sipil atau guru dan siswa dari lembaga pendidikan tidak dirugikan dalam serangan Mujahidin. Guru dan siswa harus menjauh dari semua proses politik musuh dan tidak boleh membiarkan penjajah dan antek mereka untuk memanfaatkan sekolahnya untuk mendukung pelaksanaan proyek jahat mereka.

Pada akhirnya kami harus menekankan bahwa proses pemilu tidak ada manfaatnya bagi Islam atau Afganistan. Pemilu adalah rencana asing untuk memperpanjang pendudukan, menutupi invasi militer dan menipu rakyat, yang didanai dan hasil akhirnya didikte oleh penjajah kafir. Oleh karena itu, adalah kewajiban setiap Muslim sejati dan Afghan untuk menghentikan rencana ini sejak awal sehingga para penyerbu kecewa dengan rencana mereka dan terpaksa mundur dari tanah air kita.

Imarah Islam Afghanistan

Komisi Pengajaran, Pembelajaran, dan Pendidikan Tinggi

Imarah memperingatkan lembaga pendidikan agar tidak mengizinkan pemerintah untuk menggunakan fasilitas mereka sebagai tempat pemungutan suara, mengatakan bahwa mereka tidak ingin membunuh warga sipil Afghanistan, sehingga warga sipil harus menjauh dari tempat-tempat pemungutan suara.

Peringatan itu, yang digambarkan sebagai salah satu “perintah” Imarah yang ditujukan pada “Komisi Imarah Islam Afghanistan untuk Pengajaran, Pembelajaran dan Pendidikan Tinggi.” Taliban berusaha untuk membangkitkan Emirat Islam di seluruh Afghanistan, dan komisi tersebut kemungkinan adalah bagian dari struktur pemerintahan paralelnya.

Baca juga:

Pada 18 Oktober, Imarah (Taliban) menyampaikan ” pesan khusus ” lainnya kepada “para ulama, pengkhotbah, tetua suku dan para imam masjid mengenai pemilihan.” Para jihadis kembali menolak pemilihan dengan menyebutnya sebagai “plot asing,” mereka mengatakan pemilihan tersebut tidak ada manfaat bagi Islam ataupun rakyat Afghanistan. Dan Barat ingin menipu rakyat untuk “menunjuk antek mereka sebagai anggota parlemen dan menggunakannya untuk tujuan jahat mereka.”

Kelompok ini menyerukan para pemimpin agama dan suku untuk “mencegah” pemilihan, termasuk “kampanye media” dan penyediaan “tempat pemungutan suara,” dan mengingatkan pada publik bahwa “partisipasi” dalam pemilu “tidak sah.”

Pesan pada 18 Oktober itu dikaitkan dengan “Komisi Pengkhotbah dan Bimbingan Islam Imarah Islam,” yang merupakan badan lain dalam rezim pemerintah Imarah Islam (Taliban).

Berikut isi pernyataan Komisi Bimbingan Islam Tersebut:

Pesan Untuk Para Ulama, Pengkhotbah, Para Tetua Suku Dan Imam Masjid Terkait Pemilu

Yang kami hormati, para Ulama, imam masjid, pengkhotbah, tokoh Jihadi, pemimpin suku dan para sesepuh,

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Anda sangat faham bahwa para penjajah dan sekutu mereka sekali lagi meluncurkan drama pemilihan parlemen yang menyesatkan bersama dengan propaganda militer dan berbagai upaya lain yang mereka lakukan sehingga mereka dapat menunjuk antek mereka sebagai anggota parlemen dan menggunakannya untuk tujuan jahat mereka seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kami tegaskan kembali bahwa perjuangan bersenjata dan Jihad melawan invasi militer terhadap musuh adalah kewajiban agama.  Dan termasuk amalan Jihad yang hebat dan kewajiban agama setiap orang beriman untuk melawan, menetralkan dan meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya yang ditimbulkan oleh semua musuh politik dan intelijen.

Karena tanggal pemilihan parlemen di bawah bayang-bayang penjajah semakin dekat, Imarah Islam dari Komisi Pengajaran dan Pembinaan Afganistan menyerukan semua ulama, pengkhotbah dan imam masjid, pemimpin suku, tokoh-tokoh Jihadi, para sesepuh dan orang-orang berpengaruh di kota-kota dan daerah pedesaan di seluruh negeri untuk berdiri teguh melawan makar para penjajah ini. Cegah semua kegiatan mereka, mulai dari kampanye media hingga mendirikan tempat pemungutan suara. Tingkatkan kesadaran rakyat bahwa partisipasi dalam pemilu adalah kejahatan dan melanggar hukum karena akan mendukung keberhasilan makar jahat para penjajah dan mendorong mereka untuk melanjutkan kejahatan mereka.

Para pengkhotbah dan para imam harus menginformasikan konstituensinya sementara pemimpin suku dan tokoh berpengaruh harus mencegah partisipasi rakyat dalam pemilu.

Pada akhirnya kita harus menekankan bahwa proses pemilu bertentangan dengan ajaran Islam dan budaya Afganistan. Pemilu adalah rencana asing untuk memperpanjang pendudukan, menutupi invasi militer dan membohongi rakyat, yang didanai dan hasil akhirnya didikte oleh penjajah kafir. Oleh karena itu, wajib bagi setiap Muslim sejati dan rakyat Afghan untuk menghentikan rencana ini sejak awal sehingga para penjajah kecewa dengan rencana mereka dan terpaksa mundur dari tanah air kita.

Imarah Islam Afghanistan

Komisi Pemberitaan, Pembinaan, dan Rekrutmen

 

Baca halaman selanjutnya: Departemen Militir Imarah juga Mengumumkan Hal Serupa