Diplomasi Spagheti, Awal “Blusukan” Tentara Bayaran di Yaman (Bag. 2)

Artikel berikut merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya: Lika-Liku Tentara Bayaran Amerika Dalam Pusaran Konflik Yaman [Bag. 1]

 

Misi pembunuhan Mayo mengekspos masalah yang lebih sentral: pemilihan target.

Golan bersikeras bahwa ia hanya membunuh teroris yang diidentifikasi oleh pemerintah UEA, sekutu AS. Tapi siapa yang bisa disebut teroris dan siapa yang disebut politikus? Bagaimana bentuk baru dari peperangan dan bagaimana pembunuh bayaran gaya lama disewa? Siapa yang berhak memilih siapa yang hidup dan siapa yang mati, tidak hanya dalam perang seperti yang dilakukan UEA, tetapi juga di negara demokrasi seperti AS?

Kesepakatan yang akhirnya membawa tentara bayaran Amerika ke jalan-jalan Aden dibuat saat makan siang di Abu Dhabi, di sebuah restoran Italia di klub perwira militer UEA. Golan dan mantan US Navy SEAL yang bernama Isaac Gilmore terbang dari AS untuk hadir di sana. Seperti yang diingat Gilmore, awal kesepakatan itu dimulai dengan tidak baik.

Tuan rumah mereka adalah Mohammed Dahlan, mantan kepala keamanan bagi Otoritas Palestina. Dalam balutan jas yang rapi, ia mengamati tamu-tamunya dengan dingin dan memberi tahu Golan bahwa dalam konteks lain mereka akan mencoba untuk membunuh satu sama lain.

Memang, mereka membuat persekutuan yang sebenarnya mustahil. Golan, yang mengatakan dia lahir di Hungaria dengan orang tua Yahudi, mempertahankan koneksi lama di Israel untuk bisnis keamanannya. Menurut beberapa sumber, dia mengatakan dia tinggal di sana selama beberapa tahun.

Golan pernah berpesta di London dengan mantan kepala Mossad Danny Yatom, menurut sebuah artikel Mother Jones tahun 2008. Spesialisasinya adalah “menyediakan keamanan untuk klien perusahaan energi di Afrika.” Salah satu kontraknya, menurut tiga sumber, adalah untuk melindungi kapal-kapal pengeboran di Ladang minyak lepas pantai Nigeria dari sabotase dan terorisme.

Baca juga:

Golan, yang memiliki janggut lebat dan merokok Marlboro merah, memancarkan antusiasme. Seorang mantan pejabat CIA menggambarkannya sebagai pedagang yang baik. Golan sendiri, yang tampaknya kutu buku, sering mengutip filsuf dan novelis. Sekali ia mengutip André Malraux: “Manusia bukanlah apa yang dia pikir dia tapi apa yang dia sembunyikan.”

Kiri ke kanan: Isaac Gilmore, Mohammed Dahlan, dan Abraham Golan (BuzzFeed News)

Golan mengatakan dia dididik di Prancis, bergabung dengan Legiun Asing Perancis, dan telah berkeliling dunia, sering mengikuti misi perang atau melakukan kontrak jasa keamanan. Di Beograd, katanya, ia mengenal pejuang paramiliter yang terkenal dan gangster Željko Ražnatović, atau lebih dikenal sebagai Arkan, yang dibunuh pada tahun 2001. “Saya sangat menghormati Arkan,” katanya kepada BuzzFeed News.

BuzzFeed News tidak dapat memverifikasi bagian-bagian biografi Golan, termasuk dinas militernya, tetapi Gilmore dan veteran operasi khusus AS lainnya yang telah bersamanya di lapangan mengatakan jelas dia memiliki pengalaman prajurit. Ia dianggap kompeten, kejam, dan penuh perhitungan, kata mantan pejabat CIA. Dia “cenderung melebih-lebihkan,” kata mantan petugas CIA lainnya, tetapi “untuk hal-hal gila, dia adalah tipe pria yang cocok untuk Anda rekrut.”

Dahlan tidak menanggapi beberapa pesan yang dikirim melalui rekannya. Ia dibesarkan di kamp pengungsi di Gaza, dan selama intifada tahun 1980-an dia menjadi pemain politik utama. Pada tahun 90-an ia ditunjuk sebagai kepala keamanan Otoritas Palestina di Gaza. Ia melakukan tindakan keras terhadap Hamas pada tahun 1995 dan 1996. Dia kemudian bertemu Presiden George W. Bush dan mengembangkan hubungan yang kuat dengan CIA.

Ia pernah bertemu direktur CIA pada saat itu, George Tenet , beberapa kali. Dahlan pernah disebut-sebut sebagai pemimpin masa depan dari Otoritas Palestina. Namun pada tahun 2007 ia jatuh dari mimpinya. Ia dituduh melakukan korupsi oleh Otoritas Palestina, dan oleh Hamas, ia dituduh bekerja sama dengan CIA dan Israel.

Baca juga:

Sebagai seorang lelaki tanpa kewarganegaraan, ia melarikan diri ke UEA. Di sana dia dilaporkan menjadi penasihat penting untuk Putra Mahkota Mohammed bin Zayed Al Nahyan, atau MBZ, yang dikenal sebagai penguasa Abu Dhabi yang sebenarnya. Mantan perwira CIA yang tahu Dahlan berkata, “UEA membawanya sebagai pit bull mereka.”

Sekarang, setelah makan siang di klub petugas, sang pit bull menantang tamunya untuk memberi tahu dia apa yang begitu istimewa tentang petarung dari Amerika. Mengapa mereka lebih baik dari tentara Emirat?

Golan menjawab dengan sombong. Ia ingin Dahlan mengetahui bahwa dia bisa menembak, melatih, berlari, dan bertarung lebih baik dari siapa pun di militer UEA. Golan berkata, “Bawakan aku yang terbaik dan aku akan mengalahkannya. Siapa saja.”

Orang Palestina itu menunjuk seorang pembantu wanita muda yang penuh perhatian yang duduk di dekatnya. “Dia adalah orang terbaikku,” kata Dahlan.

Lelucon itu melepaskan ketegangan, dan orang-orang itu mulai tenang. Lalu mereka memesan spaghetti, seperti yang direkomendasikan Dahlan.

UEA, dengan kekayaan besar tetapi hanya sekitar 1 juta warga, bergantung pada pekerja migran dari seluruh dunia untuk melakukan segala hal mulai dari membersihkan toilet hingga mengajar mahasiswa di universitasnya. Militernya tidak berbeda, membayar sejumlah besar uang kepada perusahaan-perusahaan pertahanan AS dan mantan jenderal. Departemen Pertahanan AS telah menyetujui transaksi setidaknya $ 27 miliar dalam penjualan senjata dan jasa pertahanan ke UEA sejak 2009.

Kiri: Gilmore. Kanan: Golan (BuzzFeed News)

Pensiunan Angkatan Darat AS, Jenderal Stanley McChrystal, pernah mendaftar untuk duduk di dewan sebuah perusahaan militer UEA. Mantan Navy SEAL dan Wakil Laksamana Robert Harward menjalankan divisi UEA Lockheed Martin. Eksekutif keamanan Erik Prince, yang sekarang terlibat dalam penyelidikan penasihat khusus Robert Mueller dalam gangguan pemilihan oleh Rusia, mendirikan toko di sana untuk sementara waktu, membantu UEA mempekerjakan tentara bayaran Kolombia.

Dan seperti yang dilaporkan BuzzFeed News awal tahun ini, negara itu menyematkan orang asing dalam militernya dan memberi pangkat jenderal besar kepada seorang kolonel letnan Amerika, Stephen Toumajan, menempatkannya sebagai komandan cabang angkatan bersenjatanya.

Baca juga:

UEA tidak sendirian dalam menggunakan kontraktor pertahanan; sebenarnya, AS lah yang membantu merintis langkah seluruh dunia ke arah privatisasi militer. Pentagon membayar perusahaan untuk menjalankan banyak fungsi tradisional, mulai dari memberi makan tentara, merawat senjata, hingga menjaga konvoi.

AS menarik garis di pertempuran; ia tidak menyewa tentara bayaran untuk melakukan serangan atau terlibat langsung dalam peperangan. Tapi garis itu bisa samar. Perusahaan swasta memberikan rincian keamanan bersenjata lengkap untuk melindungi diplomat di zona perang atau perwira intelijen di lapangan. Kontraktor semacam itu dapat terlibat dalam baku tembak, seperti yang mereka lakukan di Benghazi, Libya, ketika dua kontraktor meninggal pada 2012 saat menjaga pos CIA. Tapi, secara resmi, misinya adalah perlindungan, bukan peperangan.

Di luar AS, jarang ada yang mempekerjakan tentara bayaran untuk melakukan misi tempur, meskipun itu telah terjadi. Di Nigeria, sebuah serangan dilaporkan dipimpin oleh tentara bayaran Afrika Selatan, Eeben Barlow, yang bergerak dengan sukses melawan kelompok militan Islamis Boko Haram pada 2015. Sebuah perusahaan yang didirikan Barlow, Executive Outcomes, dipuji karena menghancurkan kekuatan pemberontak RUF di Sierra Leone yang dilanda perang pada 1990-an.

Tetapi melalui “diplomasi spageti” dengan Dahlan, Golan dan Gilmore menawarkan bentuk layanan tentara bayaran yang luar biasa. Mereka tidak memberikan rincian, tetapi yang jelas bukan pertempuran militer tradisional atau perang kontra-pemberontakan. Deal itu, baik Golan dan Gilmore katakan, menargetkan pembunuhan.

Gilmore mengatakan dia tidak ingat siapa pun yang menggunakan kata “pembunuhan” secara khusus. Tetapi jelas dari pertemuan pertama itu, katanya, bahwa ini bukan tentang menangkap atau menahan kepemimpinan Al-Islah. “Kami sangat spesifik dalam membuat target,” kata Gilmore. Golan mengatakan dia secara eksplisit diberitahu untuk membantu “mengganggu dan merusak” Al-Islah, yang ia sebut “cabang politik dari organisasi teroris.”

Dia dan Gilmore berjanji mereka bisa mengumpulkan tim dengan keterampilan yang tepat, dan dengan cepat.

Dalam beberapa minggu setelah makan siang itu, mereka melakukan kesepakatan dengan syarat. Tim kontraktor akan menerima $ 1,5 juta per bulan, Golan dan Gilmore mengatakan kepada BuzzFeed News. Mereka akan mendapat bonus jika membunuh dengan sukses. Golan dan Gilmore menolak mengatakan berapa banyak. Mereka akan melakukan operasi pertama mereka dengan setengah harga untuk membuktikan apa yang bisa mereka lakukan. Kemudian, kelompok Spear juga akan melatih tentara UEA dalam taktik komando.

Golan dan Gilmore memiliki syarat lain: Mereka ingin dimasukkan ke dalam Angkatan Bersenjata UEA. Dan mereka menginginkan senjata mereka, dan daftar target mereka, berasal dari perwira militer berseragam. Syarat itu “untuk memenuhi alasan yuridis,” kata Golan.

Dahlan dan pemerintah UEA menandatangani kesepakatan itu, kata Golan dan Gilmore, dan Spear Operation Group mulai bekerja.

Bersambung ke Inspirasi dari Amerika dan Israel, Bisnis Menggiurkan (Bag. 3)

Sumber: buzzfeednews