Ibnu Sheikh al-Libi: Kisah Penyiksaan Paling Penting yang tak Pernah Diungkap

Sedih untuk dijelaskan, AS telah mengajarkan kita berbagai hal tentang menyiksa tahanan di Abu Ghraib dan lain-lainnya. Kita belajar tentang kisah lain yang menyedihkan dalam paparan Ian Cobain dan Clara Usiskin. Mereka menyampaikan beberapa rincian penting dalam kisah penyiksaan terbesar yang tidak pernah sepenuhnya diceritakan: tentang Ibnu Sheikh al-Libi.

Sayangnya, kesalahan yang disebabkan oleh penyiksaan ada di berbagai tingkatan. Sebuah masalah jika CIA menyalahgunakan salah satu klien saya untuk terpaksa mengakui salah pada sebuah kejahatan. Kenyataannya, pria itu menderita dua kali: pertama, karena penganiayaan, dan kemudian ketika dia dikurung tanpa kejelasan hukum di Teluk Guantanamo, sama seperti 40 orang yang terus merana di penjara yang terkenal jahat itu.

Namun ada sisi yang lebih gelap dari rahasia-rahasia semacam itu, dan disinilah penyelidikan dari Middle East Eye sangat berperan penting: beberapa “informasi intelejen” yang digali darinya, sembari dalam keadaan disiksa, digunakan untuk mengubah kebijakan pemerintah, bahkan untuk memulai perang.

Baca juga:

Beberapa tahun yang lalu, Shaker Aamer, salah satu tahanan Guantanamo, memberi tahu saya apa yang dia ketahui tentang Libi. Shaker ditahan di sebuah “kandang” di pangkalan udara Bagram di Afghanistan ketika dia dibawa ke ruangan yang sama dengan Libi. Di sana, katanya, dia melihat seseorang yang dia pikir adalah agen Inggris, berada di tempat itu selama siksaan dilakukan.

Segera setelah itu, pada awal tahun 2002, dia melihat sebuah peti mati dibawa pergi. Telah diketahui bahwa Libi ada di dalamnya, dalam keadaan hidup. Namun, dalam perjalanannya ke Mesir, AS menyuruh antek-anteknya, Hosni Mubarak, melakukan pekerjaan kotor, menyiksa tahanan mereka dengan sengatan listrik.

Tidak mengherankan memang. Libi hanya mengatakan apa yang ingin didengar AS, bahwa Saddam Hussein bersekutu dengan al-Qaeda. Di waktu setelahnya, saya (sebagai pengacara –red) dapat menunjukkan bukti-bukti yang dikumpulkan dari Guantanamo, di mana seorang tahanan yang disiksa di sana juga mengatakan bahwa orang-orang Saddam sedang mengembangkan senjata pemusnah massal.

Ketika Libi pertama kali mengatakan semua ini, beberapa agen CIA menyatakan keraguan. Namun, keraguan itu tidak menghentikan Presiden AS George W. Bush. Bush justru mengutip pernyataan Libi  dalam sebuah pidato pada Oktober 2002. Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell, juga mencupliknya saat menyampaikan presentasinya kepada Dewan Keamanan PBB pada Februari 2003.

Baca juga:

Dengan demikian, “informasi intelijen” palsu yang dihasilkan dari proses penyiksaan tidak hanya membuat Libi di penjara, tetapi juga menjadi dalih bagi keputusan untuk menyerang Irak pada akhir tahun 2003.

Kita sama-sama tahu bencana yang terjadi kemudian, tetapi apa yang terjadi pada korban penyiksaan? Dalam lima tahun pertama setelah 9/11 saya punya proyek di mana saya mencoba mengikuti apa yang terjadi pada beberapa orang terkenal yang telah ditangkap dalam apa yang disebut “War on Terror”.

 

Penjara rahasia AS

Meskipun terdapat 760 tahanan di Teluk Guantanamo, tidak ada nama besar yang bertahan di sana untuk waktu yang lama. Kami mendengar desas-desus gelap bahwa mereka berada di penjara rahasia AS, yang tersebar dari Maroko ke Polandia.

Kemudian, pada bulan September 2006, sejumlah “Tahanan Bernilai Tinggi” yang mencuri perhatian, muncul di Kuba, termasuk Khalid Sheikh Mohammed, dalang serangan terhadap World Trade Center. Ada satu orang yang hilang dari pendatang baru  tersebut, yaitu Ibnu Sheikh al-Libi.

Baca juga:

Kita kemudian mengetahui apa yang terjadi: dia telah dikembalikan ke Libya. Pada awal Maret 2004, Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, telah berjabat tangan dengan Muammar Gaddafi di padang pasir.

Libi ditempatkan di sana untuk menghadapi penganiayaan lebih lanjut. Dengan sedikit keberuntungan, kami menemukan cara untuk mengirim pesan kepada dan dari dia. Namun hal itu tidak lama. Setelah itu, ceritanya dibuka, bahwa, menurut Gaddafi, Libi “bunuh diri”.

Hanya pengamat naif yang mempercayai hal itu, tetapi benar bahwa orang yang kasihan itu telah dimasukkan ke dalam peti mati dan kemudian ke dalam kuburan. Karena kehadirannya memunculkan masalah: jika dia diadili kembali sesuai aturan hukum, hal itu akan terlalu memalukan bagi orang-orang yang berkuasa.

Kita akan mengetahui bahwa AS salah pada fakta paling mendasar. Jauh dari menjalankan kamp pelatihan al-Qaeda di Afghanistan, ia bahkan tidak mendukung cara-cara Osama Bin Laden, karena tujuannya adalah untuk membebaskan negerinya sendiri.

Tapi yang paling penting, penyiksaan dirinya tidak hanya memaksa (seperti dalam kasus-kasus lain) munculnya persidangan palsu di Teluk Guantanamo, tetapi juga menghadirkan sebuah perang penuh malapetaka yang menelan korban ratusan ribu jiwa, dan membuat Timur Tengah semakin kacau. Dia harus “dihilangkan” dan Gaddafi bersedia mewujudkannya.

Baca juga:

Ini adalah kenyataan bahwa kita tidak bisa belajar pelajaran sejarah kecuali kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketika membahas perilaku salah pemerintah, sinar matahari adalah desinfektan terbesar. Namun ada kekuatan besar yang ingin menjaga rahasia kotor mereka tersembunyi, dari Blair ke Bush, dan seterusnya.

Memang, Inggris kadang-kadang menyalahkan bahwa orang Amerika itu agak tidak beradab dan “keluar jalur” disebabkan operasi penyiksaan dan penahanan di penjara rahasia mereka. Fakta terbaru tentang penahanan Libi menambahkan paku lain di peti mati kebohongan tertentu: Inggris tahu persis apa yang sedang terjadi, dan bahkan berusaha “mengambil untung” darinya dengan mengirimkan pertanyaan ke “sel penderitaan” Libi.

Pada akhirnya, hanya dengan penyelidikan yudisial yang lengkap dan transparan, kebenaran akan terungkap. Blair, sebaliknya, telah mengatakan bahwa kebebasan informasi adalah kesalahan terburuk dalam masa jabatannya, karena dia ingin para pejabat membuat keputusan secara rahasia.

Mungkin, ketika kita bisa melihat secara utuh, mungkin dia akan mengakui bahwa menyiksa, dan menggunakan “informasi” yang diperoleh melalui penyiksaan untuk memulai perang, adalah kesalahan yang lebih besar.

 

Ditulis oleh Clive Stafford Smith, seorang pengacara hak asasi manusia internasional. Dia telah mewakili lebih dari 300 orang yang menghadapi hukuman mati di AS, dan menjamin pembebasan 69 tahanan dari kamp tahanan Teluk Guantanamo.

 

Sumber:  middleeasteye

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *