Ibnu Sheikh Al Libi, Pemicu Amerika Berdarah-Darah di Irak

Ali Muhammad Abdul Aziz al-Fakheri adalah seorang militan Libya yang lebih dikenal sebagai Ibnu Sheikh al-Libi. Dalam laporan parlemen Inggris, ia disebut dengan nickname “Cuckoo”. Ia ditahan secara rahasia di tahanan AS dan Mesir dari akhir 2001 hingga setidaknya 2005 .

Saat kembali ke Libya dari tahanan AS pada akhir tahun 2005 atau awal 2006, ia dipenjara seumur hidup di penjara Abu Slim yang terkenal di Tripoli, di mana ia dilaporkan ditemukan meninggal di selnya pada tahun 2009.

Libi disebut telah meninggalkan Libya pada 1980-an, akhirnya bergabung dengan kekuatan yang melawan pendudukan Soviet di Afghanistan. Dia secara luas dilaporkan telah menjadi pemimpin kamp pelatihan militer Khalden di Afghanistan Timur antara tahun 1995 hingga 2000.

Baca juga:

Setelah invasi pimpinan AS ke Afghanistan, setelah serangan 9/11 dilakukan oleh Al-Qaeda di New York dan Washington pada tahun 2001, Libi ditangkap oleh pasukan AS ketika ia mencoba melarikan diri ke Pakistan dan ditahan di sebuah penjara di pangkalan udara Bagram dekat Kabul, pangkalan militer AS utama di negara tersebut.

Ia kemudian dikirim oleh CIA ke Mesir pada awal tahun 2002. Ia diangkut dalam peti mati yang disegel, menurut agen MI6 yang menyaksikan dia dibawa ke pesawat. Hal itu adalah sebagai bagian dari kebijakan “rendisi” AS, di mana tersangka terorisme diangkut ke penjara rahasia yang berlokasi di negara lain untuk diinterogasi.

Di Mesir, Libi disiksa dan kemudian memberi interogator informasi palsu tentang hubungan antara program senjata nuklir al-Qaeda dan pemimpin Irak saat itu, Saddam Hussein.

Libi kemudian mengatakan kepada pejabat Amerika bahwa dia telah merekayasa cerita tentang hubungan antara al-Qaeda dan Irak untuk menghindari penyiksaan lebih lanjut, menurut laporan Komite Intelijen Senat AS 2006.

Meskipun demikian, informasi palsu yang diperoleh dari Libi sering dikutip oleh para pejabat AS, termasuk Presiden George W Bush, selama rencana invasi ke Irak pada Maret 2003.

Libi mencabut pernyataannya setelah dikembalikan ke tahanan CIA pada Februari 2003. Namun pengakuannya digunakan oleh Menteri Luar Negeri AS saat itu, Colin Powell, dalam pidato di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan yang sama untuk mendukung klaim bahwa Irak telah memberikan pelatihan dalam bidang kimia dan senjata biologis untuk militan al-Qaeda.

Baca juga:

Pada tahun 2009, seorang mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa pencarian bukti kredibel yang menghubungkan Irak dengan al-Qaeda telah menjadi tujuan utama program “pengembangan teknik interogasi” yang disalahgunakan oleh pemerintahan Bush pada tahun 2002.

Menulis di Washington Note, Lawrence Wilkerson, mantan kepala staf Powell, menulis tentang program pengembangan teknik interogasi: “Prioritas utama intelijen tidak ditujukan untuk mencegah serangan teroris di AS tetapi menemukan bukti kuat yang menghubungkan Irak dan al-Qaeda.”

 

Disiksa, Dituduh Bunuh Diri Tanpa Bukti

Lahir di Ajdabiya, Libya pada tahun 1963, Libi diyakini telah menjadi anggota Kelompok Pejuang Islam Libya (LIFG), kelompok militan yang menentang pemimpin otoriter Libya, Muammar Gaddafi, yang pernah dituduh memiliki hubungan dengan al-Qaeda oleh AS dan Inggris.

Pemerintah Inggris dan dinas keamanannya memiliki hubungan yang rumit dan buram dengan LIFG yang menghangat dan didinginkan karena hubungan mereka dengan Gaddafi juga berkembang.

Gaddafi dianggap musuh Inggris pada 1980-an dan 1990-an karena sejumlah alasan, termasuk pembunuhan perwira polisi Inggris Yvonne Fletcher. Saat itu, Fletcher terluka parah akibat tembakan yang ditembakkan dari dalam kedutaan Libya di London oleh seorang pria bersenjata tak dikenal ketika dia sedang mengawasi protes terhadap Gaddafi pada 1984. Selain itu, ada kasus pemboman 1988 sebuah pesawat Pan-Am di atas Lockerbie, Skotlandia, di mana 259 penumpang dan awak, dan 11 orang di lapangan tewas.

Baca juga:

Layanan keamanan MI6 Inggris dilaporkan telah terlibat dalam upaya LIFG yang gagal untuk membunuh Gaddafi pada tahun 1996, sementara banyak anggota LIFG diizinkan untuk mendapatkan suaka dan menetap di Inggris.

Komite Senat pada laporan Intelijen tahun 2012, menegaskan bahwa Libi diserahkan kembali ke tahanan CIA pada awal tahun 2003. Namun masih belum jelas di mana ia ditahan untuk sebagian besar periode sebelum ia kembali ke Libya pada akhir 2005 atau awal 2006.

Beberapa laporan yang belum dikonfirmasi menunjukkan bahwa Libi dipindahkan ke Mauritania dan Maroko setelah dipindahkan dari Mesir. Libi dipastikan ditahan di Teluk Guantanamo selama beberapa bulan sebelum dipindahkan ke fasilitas penahanan lain pada April 2004, menurut laporan Komite Senat pada tahun 2014 tentang dalam program penahanan dan interogasi CIA.

Sekembalinya ke Libya, Libi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pihak berwenang Libya, meskipun tidak ada dakwaan terhadap dirinya. Persidangannya pun tidak disiarkan secara terbuka.

Human Rights Watch berbicara dengan Libi pada 27 April 2009, kurang dari sebulan sebelum kematiannya, di halaman penjara Abu Slim. Libi menolak diwawancarai, tetapi mengatakan kepada perwakilan lembaga tersebut: “Di mana Anda ketika saya disiksa di penjara Amerika?”

Pihak berwenang Libya mengklaim bahwa Libi melakukan bunuh diri di selnya.

Namun Clive Stafford Smith, pendiri badan hukum, Reprieve, yang mewakili banyak orang yang ditahan oleh AS di Guantanamo dan tempat lainnya, mengatakan setelah berita kematian Libi: “Kami diberitahu bahwa Libi bunuh diri di penjara Libya. Jika hal Itu benar, mungkin karena penyiksaan dan perlakuan kejam kepadanya; tetapi jika tidak benar, itu mungkin mencerminkan keinginan untuk membungkam salah satu hal paling memalukan dari pemerintahan Bush.”

“Kematian Ibnu Sheikh al-Libi menandakan bahwa dunia tidak akan pernah mendengar kisahnya tentang penyiksaan brutal yang ia alami,” kata Sarah Leah Whitson, direktur Human Rights Watch untuk Timur Tengah.

 

Sumber: middleeasteye

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *