Para Pahlawan yang Radikal

 

Pernahkah kita bertanya, apa itu pahlawan? Kenapa seseorang disebut pahlawan? Dan kenapa ia layak mendapat gelar tersebut?

Menurut kamus besar bahasa indonesia, pahlawan adalah mereka yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Keberanian, kekesatriaan, dan kerelaan untuk berkorban menjadi ciri khas yang membuat mereka disebut sebagai pahlawan.

Keberanian mereka saat itu begitu penting dan bermakna, yang berarti ada sebuah kondisi di mana orang-orang biasa merasa ketakutan, tak bisa melakukannya. Takut untuk bersuara, takut untuk bertindak. Takut, karena mereka menginginkan adanya perubahan kondisi, namun, apa daya, tatanan yang ada begitu kuat, risiko yang harus dihadapi begitu besar.

Dan seorang pahlawan hadir untuk itu. Mereka mengorban waktu, harta, jiwa, dan raga untuk menghasilkan perubahan dan perbaikan pada kehidupan masyarakat biasa. Pada awalnya, keberanian dan perjuangan mereka disambut dengan cibiran dan apatisme, siksaan dan pembunuhan. Lalu, kenapa mereka mendapati risiko seperti itu? Karena mereka menginginkan perbaikan, dengan keberanian dan pengorbanan, dari yang sudah ada. Bahkan mungkin mengganggu dan mengancam penguasa.

Baca juga:

Namun, itulah yang dilakukan para pahlawan. Dan karena itulah mereka disebut pahlawan. Mulai dari Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, hingga Nelson Mandela.

Kenapa Nelson Mandela disebut sebagai pahlawan? Perjuangan dia untuk melawan sistem apartheid di Afrika Selatan menjadikannya dielu-elukan, dari Obama hingga David Cameron, yang menganggapnya sebagai “cahaya besar dan pahlawan di zaman kita.” Padahal, Cameron yang sama lah yang di waktu muda menuntut agar Mandela digantung saja.

Seringkali kita hanya berhenti pada kesimpulan akhir, jarang sekali memperhatikan proses yang mereka jalani. Tahukah Anda bahwa Mandela, untuk memperjuangkan cita-citanya menghapus sistem apartheid yang sangat  represif, pernah menempuh jalan teror untuk meruntuhkan tatanan apartheid yang begitu kuat membelenggu Afrika Selatan? Saat itu, orang-orang kulit hitam dijadikan warga kelas dua, bahkan tidak diperlakukan selayaknya manusia. Harga yang harus ia bayar sangat mahal, ia harus dipenjara, demi perbaikan nasib kaumnya.

Diponegoro, kurang apa dia? Ia adalah putera mahkota, pewaris singgasana kerajaan Mataram. Tahta kerajaan Mataram hanya tinggal tunggu waktu untuk sampai di genggaman. Namun, ia rela meninggalkan semua itu. Berkorban, meninggalkan istana dan kemewahan, demi lahirnya sebuah tatanan yang lebih sesuai dengan idealisme yang ia cita-citakan, tegaknya Balad Islam di tanah Jawa.

Diponegoro hidup dalam suatu dunia yang semakin terbelah, antara mereka yang tunduk di bawah tatanan rezim Belanda, dan mereka yang melihat tatanan moral Islam sebagai “bintang pedoman” dalam masyarakat yang telah kehilangan tambatan tradisionalnya.

Baca juga:

Keputusannya untuk memberontak pada bulan Juli 1825 adalah karena tuntutan keadaan waktu itu. Dalam melakukannya ia benar-benar bersikap seperti ungkapan “kemuliaan kegagalan” (the nobility of failure) dalam tradisi samurai Jepang, yaitu kemampuan untuk tetap setia pada cita-cita meskipun tahu akan kalah atau menemui ajalnya.

Ia muak, tidak rela, dengan kerusakan yang ada di keraton Mataram waktu itu. Kemaksiatan, kerusakan moral, sistem perpajakan yang menindas rakyat, dipertontonkan di istana, di bawah kontrol dan kuasa Belanda.

Karenanya, ia ingin membawa perubahan. Perubahan yang sangat fundamental atas tatanan sosial dan politik yang ada. Dalam bahasa sekarang, apa yang diharapkan, dilakukan, dan diperjuangkan Diponegoro disebut dengan istilah radikal.

Menurut Cambridge Dictionary, radikal adalah meyakini atau mengekspresikan keyakinan bahwa perlu ada perubahan besar terhadap tatanan sosial dan politik. Makna lainnya, radikal adalah bagian paling penting dari sesuatu. Radikal juga berarti orang yang mendukung terjadinya perubahan besar di bidang sosial dan politik.

Baca juga:

Artinya, para pahlawan kemerdekaan adalah radikal. Mereka datang untuk menawarkan perubahan di tengah tatanan yang rusak di masyarakat. Jika mereka tidak radikal, mereka akan pasrah menerima nasib ditindas oleh para penjajah.

Sejarah menunjukkan bahwa tanpa radikalisme dan militansi dari para pahlawan, tidak akan ada kemerdekaan. Di negara manapun, yang terjajah oleh kolonialisme Eropa.

Artinya, para pahlawan kemerdekaan adalah radikal.

Belanda sendiri menuduh Diponegoro, Imam Bondjol, Teuku Umar, dll sebagai ekstremis, pengacau, dan teroris. Mereka mengakui bahwa militansi keislaman menjadi akar perlawanan di nusantara. (Baca: Imam Bondjol, Seorang ‘Teroris’ di Era Penjajahan Belanda)

Orang yang tidak radikal seringkali tidak paham apa itu radikal, dan apa artinya menjadi radikal. Ada satu masa, ratusan tahun yang lalu (akhir 1800-an hingga awal 1900-an) ketika radikalisme marak di seluruh dunia. Waktu itu, menjadi radikal sangat penting dan berarti.

Di tengah kerusakan tatanan yang ada waktu itu, orang-orang yang punya prinsip lah yang menjadi terdepan menuju perubahan. Harapannya, mereka bisa menjadi lebih baik. Jika dunia sudah dipenuhi dengan ketidakadilan, kezaliman, dan kerusakan, apakah kita akan diam menerima keadaan atas nama menjadi moderat?

Apakah para pahlawan tersebut berhasil? Belum tentu. Keberhasilan bukan ukuran utama kenapa mereka disebut pahlawan. Mandela berhasil, yang dengannya mampu mengubah nasibnya, dari “tiang gantungan” menjadi “cahaya dan pahlawan”. Sedang Diponegoro gagal. Nasibnya berujung pada pembuangan. Seluruh anak keturunannya pun menjadi buronan.

Apakah para pahlawan tersebut berhasil? Belum tentu. Keberhasilan bukan ukuran utama kenapa mereka disebut pahlawan.

Namun, pengorbanan, komitmen mereka pada prinsip dan kebenaran yang diyakini, menjadikan mereka disebut sebagai pahlawan yang menginspirasi dan mengubah nasib generasi berikutnya. Sebagaimana ungkapan Malcolm-X, “Jika kalian tidak siap untuk mati karenanya, maka buang kata ‘kemerdekaan’ dari perbendaharaan kata-katamu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *