Kegagalan Agresi Pertama Penjajah Belanda atas Kesultanan Aceh Tahun 1873

Gb. Pohon Geulumpang atau Kelumpang yang tumbuh di halaman Masjid Raya, oleh pihak Belanda dinamakan Köhlerboom ( = pohon Köhler) karena tak jauh dari situ Jenderal Köhler tewas pada tanggal 14 April 1873

 

Setelah terjadi beberapa kali surat menyurat antara Sultan Kerajaan Aceh Darussalam dengan Komisaris Pemerintah Belanda Nieuwenhuijzen yang berlindung di atas kapal perang “Citadel van Antwerpen”, maka surat “Pernyataan Perang” Belanda kepada Kerajaan Aceh yang telah ditulis pada tanggal 26 Maret 1873, disampaikan kepada Sultan pada tanggal 1 April 1873;

Berikut bunyi surat pernyataan perang penjajah Belanda pada Kesultanan Aceh :

“Komisaris Gubernemen Hindia Belanda untuk Aceh;

Menimbang bahwa bagi Gubernemen Hindia Belanda terpikul kewajiban untuk membersihkan segala rintangan dalam memelihara kepentingan umum atas perniagaan dan pelayaran di kepulauan Hindia Timur;

bahwa kepentingan umum itu telah terganggu oleh berlanjutnya  pertentangan antara sesama negeri rantau Aceh, di antaranya ada yang telah datang meminta bantuan (pada) Gubernemen Hindia Belanda, tetapi masih saja belum bisa diberikan;

bahwa keinginan yang berulang-ulang dikemukakan oleh Gubernemen supaya keadaan demikian jangan terjadi lagi dan keinginan supaya ditentukan kedudukan Aceh dalam hubungan yang lebih tepat kepada Gubernemen Hindia Belanda, tetapi selalu saja terhambat oleh keengganan dari pihak pemerintah Kerajaan Aceh dan oleh kelengahan kerajaan untuk memelihara ketertiban dan keamanan yang diperlukan di daerah kekuasaannya;

bahwa percobaan untuk keperluan itu telah disambut dengan amat curang di kala Gubernemen Hindia Belanda sedang didekati dengan maksud membina perhubungan lebih akrab dengan Aceh;

bahwa telah diminta penjelasan kepada Sultan Aceh, pertama dengan surat tanggal 22 bulan ini sesudah itu pada tanggal 24, hasilnya tidak hanya tidak diberikan sama sekali penjelasan, tetapi juga telah tidak membantah segala apa yang didakwakan dalam surat itu dan lebih dari itu pula telah digiatkan mengumpul apa saja untuk mengadakan perlawanan;

bahwa dengan itu tidak bisa lain artinya selain bahwa Aceh menantang Gubernemen Belanda dan sikap permusuhannya;

bahwa karena itu pemerintah kerajaan Aceh telah bersalah melanggar perjanjian yang sudah diikatnya dengan Gubernemen Hindia Belanda bertanggal 30 Maret 1857 tentang perniagaan, perdamaian, dan persahabatan, yang karena itu meyakinkan bahwa pemerintah kerajaan tersebut tidak dapat dipercayai;

bahwa permintaan Hindia Belanda dalam keadaan seperti ini tidak mungkin lagi mempertahankan kepentingan umum yang diperlukan demi keamanan di bagian utara Sumatera, apabila tidak diambil tindakan kekerasan.

Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh pemerintah Hindia Belanda, atas nama Pemerintah, menyatakan perang kepada Sultan Aceh. Dengan pernyataan ini setiap orang diperingatkan terhadap beradanya mereka di bawah akibat perang dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam perang.

Termaktub di kapal perang “Citadel van Antwerpen” yang berlabuh di Aceh besar, pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873, (Tertanda) Nieuwenhuijzen.60

 

Surat tersebut di atas kemudian dibalas oleh Sultan Aceh pada tanggal 1 April 1873 yang bunyinya sebagai berikut:

“Surat yang telah kita kirimkan pada hari Ahad yang baru lalu telah tidak diberi tanggal hari bulan, hanya karena kesilapan belaka. Mengenai dengan permakluman yang dimaksud dalam surat kita itu, isinya tidak lain daripada mengemukakan bahwa dari pihak kita tidak ada tumbuh sedikitpun keinginan untuk mengubah hubungan persahabatan yang sudah diikat. Sebab, kita hanya seorang miskin dan muda dan kita—sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda—berada di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Akhirulkalam kita sampaikan kepada tuan-tuan sekaliannya. Termaktub pada 1 Safar 1290 (1 April 1873).”

 

Bila dicermati surat balasan Sultan Aceh menunjukkan keyakinan yang kuat kesultanan Islam Aceh untuk tidak tunduk dengan ancaman Belanda dan menyatakan bahwa perlidungan terbaik adalah dari Allah Yang Maha Esa.

Baca juga:

Agresi Belanda I di bawah pimpinan Mayor Jenderal Kohler dengan kekuatan 168 orang perwira dan 3800 serdadu Belanda dan tentara bayaran, dilakukan pada pagi hari tanggal 10 Muharram 1290 (5 April 1873) telah dihancurkan oleh Angkatan Perang Aceh yang gagah berani, sehingga setelah 18 hari bertempur, sisa-sisa serdadu Belanda lari pontang-panting ke kapal-kapalnya, dengan meninggalkan sekian banyak bangkai serdadunya yang mati konyol sementara bangkai panglimanya Mayor Jenderal J.H.R. Kohier pada tanggal 15 April 1873 masih sempat dilarikan ke kapal.

Sementara Komisaris Nieuwenhuijzen lari menyelamatkan diri ke Penang dengan kapal perang “Citadel van Antwerpen,” pada tanggal 1 April 1873 setelah dia menyampaikan kepada Sultan “Pernyataan Perang 26 Maret 1873.”

Baca juga:

Deklarasi Perang Belanda tersebut menjadi tonggak sejarah perjuangan pejuang-pejuang Aceh dalam mempertahankan akidah dan kehormatan mereka dari Penjajah Belanda. Agresi pertama penjajah Belanda gagal. Pejuang Aceh Darussalam dapat mempertahankan Aceh, bahkan Jenderal Kohler beserta 8 opsir terbunuh, di samping banyak tentara Belanda yang juga tewas.

 

Daftar Pustaka:

A.Hasjmy, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, Cetakan Pertama 1977.

Imran Teuku Abdullah, Hikayat Perang Shabi, Satu Bentuk Karya Sastra Perlawanan, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Falkutas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada 14 Februari 2008.

Ismail Jakob, Tengku Tjhik Di-Tiro (Muhammad Saman) : pahlawan besar dalam Perang Atjeh (1881-1891), Bulan Bintang Jakarta, 1960.

Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad Jilid Pertama, PT Percetakan dan Penerbitan Waspada Medan, 1981.

Muhammad Said, Aceh Sepanjang Abad Jilid Kedua, P.T.Harian Waspada Medan. 1985

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *