Agresi Belanda Kedua Picu Jihad Santri dan Rakyat Aceh

Kegagalan total dalam agresi pertama tidak membuat Belanda menjadi sadar, malah dengan angkuh Belanda mempersiapkan agresi keduanya, yang didahului dengan gerakan mata-mata di bawah pimpinan konsulnya di Penang, G. Lavino.

Setelah usaha Kepala Intelijen G. Lavino dianggap matang maka Gubernur Jenderal Hindia Belanda Loudon mengangkat Letnan Jenderal J. Van Swieten menjadi Panglima agresi kedua tentara Hindia Belanda merangkap menjadi Komisaris Pemerintah Belanda untuk Aceh.

Baca juga:

Dengan dibebani tugas untuk menaklukkan Aceh dengan kekerasan, yang dibuat dalam sebuah instruksi oleh Loudon bertanggal 16 November 1873, pada tanggal 16 November 1873 berangkatlah panglima agresi kedua, Letnan Jenderal J. Van Swieten menuju Aceh dengan membawa 60 buah kapal perang.

Armada ini dilengkapi dengan 206 pucuk meriam, 22 pucuk mortir, 389 perwira, 7888 serdadu biasa, 32 orang perwira dokter, dan 3.565 orang tawanan laki-laki yang dipaksa untuk berperang.

Dilengkapi juga 243 orang tawanan perempuan yang mungkin dijadikan tempat serdadu-serdadunya melampiaskan hawa nafsunya, pastor, guru agama, antek-antek kaki tangannya seperti Sidi Tahil, Datok Setia Abuhasan, Mas Sumo Widikdjo, Mohammad Arsyad, Ke Beng Swie, Pie Auw, Josee Massang, Li Bieng Tjhet, Tjo Gee, Si Diman, Ramasamy, Si Kitab, Ameran, Malela dan Said Muhammad bin Abdurrahman Maysore.

Total pasukan yang dibawa Letnan Jenderal J. Van Swieten kurang lebih 13.000 orang.

Baca juga:

Pada tanggal 28 November 1873 tentara penjajah Belanda di bawah pimpinan Van Swieten tiba di pelabuhan Aceh dan pada tanggal 9 Desember 1873 tentara penjajah Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal Verspijck mendarat di pantai Kuala Lue dan besoknya berkumpul di Kuala Gigieng.

Setelah enam hari kemudian mereka baru dapat mencapai Kuala Aceh, yang kemudian menuju Peunayong dan Gampong Jawa, di mana sejak hari pertama mereka mendarat sampai direbutnya keraton mendapat perlawanan dahsyat dari angkatan perang dan rakyat Aceh.

Setelah menderita korban yang sangat banyak, maka pada tanggal 24 Januari 1873 bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1290, panglima agresor Letnan Jenderal J. Van Swieten dapat menduduki “Istana Kerajaan” yang telah dikosongkan.

Ia kemudian mengirim kabar kemenangannya kepada Gubernur Jenderal Loudon di Jakarta, yang berbunyi: “24 Januari kraton raja dan tanah air sudah di tangan kita, diucapkan selamat atas kemenangan ini”

Baca juga:

Di samping kawat itu, Van Swieten mengeluarkan pula sebuah dekrit yang berbunyi: “Bahwa Kerajaan Aceh, sesuai dengan hukum perang, menjadi hak-milik Kerajaan Belanda.” Banda Aceh kemudian dinamainya “Kutaraja” dengan mendapat pengesahan dari Pemerintah Pusat pada tanggal 16 Maret 1874.

Jatuhnya Keraton Kerajaan Aceh pada 31 Januari 1874 dan meninggalnya Sultan Mahmud Syah di pengungsian di daerah Pagar Ayer karena wabah kolera dianggap sebagai kemenangan oleh pihak Belanda. Setelah mengusai ibukota dan sebagian kecil wilayah Aceh Besar serta memploklamirkan kemenangan, Belanda berharap seluruh wilayah Aceh yang lain menyerah.

Harapan dan prediksi Belanda ternyata meleset. Bahkan perlawanan rakyat Aceh semakin meningkat, ulama yang kebanyakan adalah pimpinan dayah (pesantren) ikut mengobarkan perlawanan bersama santri-santrinya.

Sepeninggal Mahmud Syah, tampuk pemerintahan dijalankan oleh Tuanku Hasyim Bangta Muda selaku Mangkubumi karena Sultan Muhammad Dawud Syah masih kecil. Pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Keumala, Pidie.

 

 

Referensi:

A.Hasjmy, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, Cetakan Pertama 1977.

Anthony Reid, The Blood Of The People Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra, Oxford University Press Oxford Newyork Melbourne 1979.

Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, 1987

Joko P. Putranto, Aceh Conflict Resolution: Lessons Learned And The Future Of Aceh, Naval Postgraduate School Monterey California, Juni 2009

Imran Teuku Abdullah, Hikayat Perang Shabi, Satu Bentuk Karya Sastra Perlawanan, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Falkutas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada 14 Februari 2008.

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *