Internet: Tempat Radikalisasi Supremasi Kulit Putih

Media sosial telah memainkan peran penting dalam kebangkitan ekstremisme sayap kanan baru-baru ini di Amerika Serikat. Tiga insiden baru-baru ini melibatkan ekstremis sayap kanan: Seorang pria yang mengirim paket berisi bom kepada para kritikus presiden Trump, kemudian seorang pria yang menembak mati dua orang Afro-Amerika di toko kelontong Kroger di Kentucky, dan yang terakhir adalah seorang pria yang mengamuk, melakukan pembunuhan di sebuah sinagog di Pittsburgh.

Ketiga serangan ini berada di dalam definisi ekstremisme sayap kanan, menurut Global Terrorism Database dari Universitas Maryland. Definisi tersebut berbunyi, “kekerasan untuk mendukung keyakinan tentang cara hidup pribadi dan / atau nasional, baik sedang dilakukan dan sudah terjadi atau ancamannya sudah dekat.”

Antiglobalisme, supremasi rasial atau etnis, nasionalisme, kecurigaan terhadap pemerintah federal, dan obsesi atas kebebasan individu adalah semua adalah ciri spesifik dari jaringan ideologi ini, yang tentu saja selalu diliputi dengan teori konspirasi.

Namun, ketika jumlah pengikut fanatisme ini tumbuh dengan cepat, pemerintah AS masih belum memiliki strategi yang koheren untuk melawan ekstremisme kekerasan ekstremisme sayap kanan yang mungkin disebarkan melalui internet.

Sebaliknya, desain pokok dari media sosial terkadang justru memperparah masalah. Media sosial menggunakan faktor kesepahaman kelompok sebagai acuan utama. Hal ini sama seperti memberikan dorongan keterlibatan pengguna yang semakin memperkaya platform seperti Facebook dan YouTube. Algoritme yang mendukung jaringan ini juga mempromosikan konten yang menarik, yang memandu pengguna baru menemukan ideology-ideologi beracun sesuai preferensinya.

Baca juga:

Dinamika ini dimainkan di seluruh dunia. Di Jerman, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kota-kota dengan penggunaan Facebook yang lebih besar memiliki lebih banyak serangan anti-pengungsi. Di Sri Lanka dan Myanmar, Facebook memainkan peran penting dalam menghasut kekerasan.

Meskipun motivasi pelaku kekerasan mungkin berbeda, tetapi jalur yang mereka tempuh menuju kekerasan juga serupa. Cesar Sayoc adalah terdakwa pengirim paket berisi bom kepada pengkritik Trump. Ia memposting tautan di Twitter dan Facebook tentang teori konspirasi mengenai Hillary Clinton dan imigrasi ilegal.

Terdakwa pembunuhan di Pittsburgh, Robert Bowers, aktif di Gab, sebuah jejaring sosial yang didirikan untuk menyebarkan pidato yang disensor oleh platform media social lain, termasuk pidato terlalu ekstrem. Dua jam sebelum melakukan penembakan, Bowers memposting bahwa organisasi Yahudi yang membantu pengungsi “seperti membawa penjajah yang membunuh rakyat kita. Saya tidak bisa duduk dan menonton orang-orang saya dibantai. Perhatikan, saya akan berbuat sesuatu.”

Gregory Bush adalah orang yang menembak dua orang dalam sebuah toko kelontong Kroger. Ketika dihadapkan dengan seorang pria kulit putih, ia berkata, “Orang kulit putih tidak membunuh kulit putih”. Dalam riwayatnya, ia adalah konsumen media sosial yang lebih pasif. Namun kesukaannya yang paling baru di Facebook sangat condong ke media konservatif. Seorang teman yang ia kenal secara online mengatakan bahwa tweet-tweet Bush – yang telah lama dibumbui dengan rasisme – menjadi semakin menginspirasinya selama pemilihan umum tahun 2016.

Tidak ada organisasi di balik serangan ini. Ketiga tersangka kemungkinan besar tidak pernah bertemu atau berinteraksi satu sama lain. Ini adalah bentuk baru ekstremisme: self-directed, teroris yang meradang internet.

Radikalisasi mungkin dimulai dengan percakapan santai di antara pecandu game online. Sesuatu yang dimulai dengan beberapa penghinaan rasis dapat menjadi awal mula propaganda supremasi kulit putih. Saluran di YouTube yang tampaknya tidak berbahaya dapat merekomendasikan saluran lain yang lebih bersifat ekstrem.

Baca juga:

Publik sudah tahu betapa berbahayanya siklus radikalisasi ini, karena mekanisme yang sama telah memberi ruang bagi apa yang disebut oleh Barat sebagai “terorisme” Islam dalam beberapa tahun terakhir. Anwar al-Awlaki, ulama yang berkomunikasi dengan penembak di Fort Hood pada tahun 2009 dan melatih seorang pemuda untuk mencoba meledakkan sebuah pesawat di Detroit, meninggalkan jejak digital yang bertahan hidup di YouTube selama bertahun-tahun setelah pembunuhannya oleh serangan pesawat tak berawak Amerika di Yaman.

Video-video dari khotbah-khotbahnya, bahkan tentang pelajaran sejarah atau pengendalian diri, selalu populer, berkat suaranya yang menyenangkan dan sikapnya yang serius. Sekarang, mereka juga memiliki daya tarik seorang pejuang dari sosok Al Awlaki.

Jika pemirsa mengklik video awal yang ramah dari ulama itu, yang lebih lembut, maka algoritme YouTube akan mengarahkan pemirsa ke salah satu khotbahnya yang lebih garang di kemudian hari. Misalnya seperti yang tentang perlunya seorang Muslim untuk berperang melawan Amerika.

 

Baca halaman selanjutnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *