Jaringan Propaganda: Antara Nasionalis Sayap Kanan dan Pengaruh Rusia

Percakapan seputar pemilihan presiden AS 2016 sering melibatkan istilah fake news, atau “berita palsu,” campur tangan Rusia, pelanggaran data, dan dampak berbagai platform media sosial pada hasil yang memecah belah. Sebuah buku baru baru mencoba untuk mengurai narasi tentang hal-hal tersebut. Buku ini ditulis oleh para peneliti di Berkman Klein Centre (BKC) tentang ekosistem media yang mengelilingi pemilu AS tahun 2016.

Dalam buku Network Propaganda, Robert Faris, Hal Roberts dan Yochai Benkler dari Berkman Klein Center (BKC) telah menganalisis jutaan artikel: semua cerita, di situs web mana pun, arus utama dan pinggiran, yang menyebutkan calon mana pun untuk pemilihan dan partai-partai besar, dari 2015 hingga 2018.

Judul buku ini bila diterjemahkan berarti “Jaringan Propaganda: Manipulasi, Disinformasi, dan Radikalisasi dalam Politik Amerika”. Buku ini ditulis oleh Yochai Benkler, Profesor dalam bidang Studi Hukum Kewiraswastaan ​​di Sekolah Hukum Harvard dan co-director fakultas BKC; Robert Faris, direktur penelitian di BKC; dan Hal Roberts, seorang peneliti di BKC.

Kerja sama mereka bertiga memberikan studi komprehensif tentang ekosistem media yang melingkupi topik-topik yang terkait dengan media. Untuk menyusun buku ini, mereka menghabiskan masa penelitian hingga tiga tahun.

“Gagasan buku ini adalah untuk bergelut dengan apa yang baru saja terjadi pasca pemilu 2016. Apa sebenarnya yang baru saja terjadi di negara kita, pada sistem media kita, terhadap demokrasi kita?” kata Roberts Faris pada sebuah dialog tentang buku tersebut pada 4 Oktober lalu.

Kontribusi besar dari buku ini adalah apa yang para peneliti sebut sebagai model “polarisasi asimetris” yang berasal dari penelitian mereka pada ekosistem media partisan. Model, yang dibuat dengan data dari sumber media yang paling banyak dikutip selama dan setelah periode pemilihan, menunjukkan bahwa outlet media sayap kiri lebih dekat dengan media pertengahan, dan sumber media sayap kanan jauh lebih condong dan “beroperasi di dunia media mereka sendiri, ”kata Roberts. Para peneliti menemukan bahwa pola ini terbukti selama pemilihan dan bahkan lebih nyata selama tahun pertama kepresidenan Donald Trump.

Polarisasi asimetris terjadi secara konsisten di berbagai platform. Hal itu juga ditemukan dalam analisis berdasarkan tautan lintas media dan dalam pola berbagi media di Twitter dan Facebook.

“Pasti ada dua sisi, dan kedua sisi itu tidak berimbang. Kelompok sayap kanan lebih picik; mereka lebih ekstrim; mereka lebih bersifat partisan,” kata Faris tentang temuan itu. “Itu bukan opini subjektif; itu adalah pengamatan empiris. Dan sebagian besar dari apa yang kami coba lakukan dalam buku ini adalah mendokumentasikannya dan memahami apa artinya dan bagaimana hal itu direfleksikan dalam perilaku yang berbeda.”

Studi selama tiga tahun, yang berlangsung dari April 2015, awal siklus pemilihan umum, hingga November 2017, menggambarkan tentang tahun pertama kepresidenan Trump. Penelitian ini menggunakan 4 juta artikel media online yang bersumber dari Media Cloud, proyek gabungan antara BKC dan MIT Media Lab, tetapi juga mencakup data dari liputan media offline, dan dari platform media sosial seperti Twitter dan Facebook, antara lain. Para peneliti juga memanfaatkan karya sebelumnya tentang tren konsumsi media dan kepercayaan pada institusi untuk mengkontekstualisasikan temuan mereka.


Selain mempelajari ekosistem media saat ini, Network Propaganda juga mengeksplorasi sejarah komunikasi politik di AS dan munculnya tren yang berbeda, seperti radikalisasi, dan penciptaan pasar untuk “politik kemarahan”.

“Kami menelusuri sedikit sejarah media dan menjelaskan bagaimana perubahan dalam teknologi, perubahan dalam hukum dan regulasi, dan perubahan dalam budaya politik semuanya bekerja untuk memperkuat satu sama lain dalam efek jangka panjang untuk mengubah ekonomi fundamental dari industri kemarahan, “kata Benkler. Jejak yang ditelusuri oleh trio penulis berawal dari asal-usulnya pada 1960-an menjadi kebangkitan Rush Limbaugh pada awal 1990-an dan penciptaan Fox News.

Buku Network Propaganda meneliti liputan media seputar peristiwa besar yang terjadi, dan topik liputan media selama rentang waktu pemilihan umum, termasuk disinformasi dan bagaimana disinformasi menyebar dan dikonsumsi oleh publik.

Buku ini juga meneliti lonjakan dalam liputan media, seperti yang ada di awal penyelidikan Robert Mueller, hingga campur tangan asing dalam pemilu 2016. Banyak studi kasus mengilustrasikan temuan peneliti dalam seluruh buku, menawarkan analisis mendalam tentang bagaimana tren di media partisan berevolusi hingga keadaan mereka saat ini, dan bagaimana outlet media bergulat dengan masalah kepercayaan.

“Hal yang paling mengejutkan kami, dan bagi kami tampaknya sangat bertentangan dengan narasi yang berlaku saat ini, adalah bahwa media mainstream profesional, baik dalam model profesionalnya, dan dalam model turunan yang pro-sayap kanan, menjadi sangat sukses secara komersial. Dan itu adalah tujuan di mana segala sesuatu dibangun,” kata Benkler.

Tetapi penelitian dilakukan oleh tiga penulis buku ini telah menemukan bahwa penggerak utama disinformasi dalam politik Amerika selama tiga tahun terakhir bukanlah Rusia, tetapi Fox News dan ekosistem media sayap kanan yang berjejaring.

Yang dilakukan orang-orang Rusia adalah memanfaatkan genderang musik yang sudah ditabuh oleh kelompok sayap kanan: Upaya Rusia cukup kecil dalam ruang lingkup ini, relatif terhadap upaya media lokal. Dan kemenangan propaganda yang dicapai Rusia hanya terjadi ketika mesin media sayap kanan menyambar umpan yang diinisiasi Rusia dan, seringkali, menghiasi dan membumbui berita tersebut.

Para penulis menggunakan analisis jaringan untuk memeriksa kapan dan bagaimana produser media saling memperhatikan satu sama lain, dan bagaimana pemirsa memperhatikan media. Mereka melakukan analisis teks untuk melihat situs mana yang menulis tentang apa, dan kapan.

Sepanjang pekerjaan tersebut, para peneliti menemukan pola yang jelas, sebelum dan sesudah pemilihan. Orang-orang Rusia ada di dalam pemilihan umum. Mereka berusaha melakukan intervensi. Tetapi dalam semua kasus ini, media sayap kanan Amerika telah melakukan usaha yang keras untuk memulai dan menyebarkan disinformasi.

Yang pasti, tidak mungkin dalam pemilihan sedekat itu untuk mengesampingkan bahwa usaha-usaha Rusia menyumbangkan sedikit dukungan yang memisahkan kekalahan dari kemenangan di negara-negara ayunan yang menentukan. Dalam perlombaan yang begitu ketat, banyak faktor yang bisa memberi keseimbangan. Tetapi fokus pada kecakapan Rusia telah menjadi tidak proporsional.

Analisis dari para peneliti menggarisbawahi tidak hanya kekuatan besar dari media sayap kanan tetapi juga kekhasan mereka dari media sayap kiri. Jaringan outlet media yang konservatif, dengan Fox berada di pusatnya, telah mengisi sebagian besar narasi Amerika yang menegaskan bias mereka, mengisi mereka dengan kemarahan terhadap lawan politik mereka, dan mengisolasi mereka dari pandangan yang bertentangan dengan narasi ini.

Analisis para peneliti juga menemukan bahwa media yang condong ke kiri, apa pun tujuan mereka, telah gagal menghasilkan sesuatu yang serupa. Konsumen berita yang berhaluan kiri memiliki pola konsumsi yang lebih bervariasi yang mencakup perhatian yang cukup besar terhadap outlet jurnalistik profesional serta outlet partisan dan hyper-partisan.

Sebaliknya, di pihak sayap kanan, ada dinamika kompetitif sehingga tiap outlet media harus memperkuat dan menyebarkan kebohongan satu sama lain atau, jika tidak, mereka akan kehilangan pangsa pemirsa. Outlet media yang menghilangkan prasangka dalam narasinya tidak akan dibaca oleh konsumen media sayap kanan.

Sementara itu, berita model clickbait di Facebook tidak begitu mempengaruhi kemenangan Trump, karena pangsa media sosial lebih terbatas dibanding media konservatif secara keseluruhan. Faktanya, di antara pemilih Trump, 40 persen mengatakan bahwa Fox News adalah sumber utama yang dijadikan rujukan mengenai pemilu, sementara hanya 7 persen yang menjawab Facebook.

Dukungan untuk Trump sangat tinggi dalam demografi dengan tingkat paparan paling sedikit ke media sosial atau Internet. Orang-orang yang mempromosikan gagasan bahwa Rusia ikut mempengaruhi pemilihan umum akan sering mengutip angka bahwa unggahan Facebook Rusia menjangkau sekitar 126 juta orang Amerika. Tapi, angka tersebut mengacu pada siapa pun yang feed beritanya pernah kemasukan konten seperti itu, terlepas dari apakah mereka melihatnya atau tidak.

Faktanya, seperti yang dikemukakan oleh ilmuwan politik Universitas Michigan, Brendan Nyhan, sangat sulit untuk menilai dampak dari para tersangka yang memanipulasi pemilih, baik para penyusup dari Rusia, “pengusaha berita palsu” atau bahkan iklan yang ditargetkan secara mainstream.

Judul Buku: Network Propaganda: Manipulation, Disinformation, and Radicalization in American Politics

Penulis; YOCHAI BENKLER, ROBERT FARIS, dan HAL ROBERTS

Penerbit: Oxford University Press

Tahun Terbit: 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *