Suarakan Hak Untuk Hidup, 24.000 Palestina Terluka

Palestina telah membayar harga yang mahal untuk menyerukan hak-hak hidup mereka selama protes massal yang diadakan di sepanjang perbatasan Gaza dengan Israel. Aksi ini telah berlangsung selama delapan bulan terakhir.

Sekitar 180 warga Palestina telah ditembak mati oleh pasukan penjajah Israel dan hampir 6.000 lainnya terluka oleh tembakan api selama aksi bertajuk Great March of Return.

“Hampir semua korban tidak bersenjata, dan ditembak mati dari kejauhan saat berada di perbatasan Jalur Gaza,” menurut laporan yang baru dirilis oleh kelompok pegiat hak asasi manusia asal Israel, B’Tselem. Temuan ini mengkonfirmasi temuan sebelumnya, yang dibuat oleh organisasi lainnya.

“Sebagai gambaran umum, pasukan berbaju pelindung yang mengintai mereka dari sisi lain perbatasan tidak berada dalam bahaya nyata,” tambah B`Tselem.

Selain luka oleh tembakan langsung, terdapat 2.000 kasus cedera akibat inhalasi gas air mata, bersama dengan ratusan cedera oleh peluru logam berlapis karet. Kasus cedera yang dialami hingga 90 orang peserta aksi, 17 di antaranya anak-anak, telah mengakibatkan amputasi, pada hampir semua anggota tubuh bagian bawah.

Secara keseluruhan, 24.000 orang Palestina telah terluka selama demonstrasi Great March of Return. Jumlah ini sama dengan lebih dari satu persen dari total populasi wilayah itu.

Sekitar setengah dari mereka yang terluka dirawat di klinik lapangan di sekitar tempat aksi. Sisanya dipindahkan ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.

“Jumlah korban yang besar telah mengganggu sistem kesehatan yang sudah rapuh,” menurut WHO (World Health Organization). “Di rumah sakit, pasien yang masih trauma terpaksa dipulangkan sebelum waktunya untuk memberi ruang bagi pasien baru.”

Ratusan warga Palestina membutuhkan tindakan lebih lanjut untuk jangka panjang yang melibatkan beberapa operasi dan rehabilitasi ekstensif, menurut WHO.


Ditembak di anggota tubuh bagian bawah

B’Tselem mensurvei lebih dari 400 pengunjuk rasa yang terluka oleh tembakan, termasuk 63 anak-anak.

Sebagian besar korban, 85 persen, ditembak di bagian bawah tubuh mereka.

Sekitar 40 persen ditembak ketika mereka berada di sekitar pagar perbatasan Gaza-Israel. Sekitar sepertiga ditembak dengan jarak 150 meter dari pagar. Lebih dari 20 persen lainnya ditembak dengan jarak lebih dari 150 meter.

Empat puluh satu dari anak-anak yang disurvei mengatakan mereka “terluka ketika mereka menonton protes, mengibarkan bendera, memotret atau merekam protes, bergerak menjauh dari protes, atau merawat yang terluka,” kata B’Tselem.

Hampir semua pengunjuk rasa yang terluka oleh tembakan langsung yang disurvei oleh B’Tselem memerlukan perawatan medis yang berkepanjangan. Lebih dari separuh membutuhkan rehabilitasi dan terapi fisik. Sepuluh persen mengalami cacat permanen.

Ditembak oleh pasukan pendudukan hanya “bab pertama dalam ujian yang berkepanjangan,” menurut B’Tselem.

“Bahkan sistem perawatan kesehatan yang berfungsi luar biasa akan sangat kewalahan ketika menghadapi sejumlah besar korban,” kata kelompok itu.

“Namun di Gaza, bahkan sebelum protes dimulai, sistem perawatan kesehatan sudah di ambang kehancuran,” lanjut mereka.

Keadaan buruk sistem kesehatan Gaza adalah hasil dari blokade 11 tahun Israel, yang kemudian dilanjutkan dengan kekerasan brutal.

Obat-obatan habis

Pada awal bulan, apotek pusat Gaza “benar-benar kehabisan 226 jenis obat-obatan penting, dan hanya memiliki persediaan satu bulan tersisa dari 241 jenis obat-obatan lainnya,” menurut B’Tselem.

Stok lebih dari 250 jenis obat sekali pakai telah habis.

“Blokade tersebut membatasi penggantian peralatan medis yang rusak dan usang, terhadap impor peralatan medis dan obat-obatan canggih, dan pada perjalanan oleh dokter untuk pelatihan profesional di luar Gaza,” menurut B’Tselem.

“Selain itu, keterbatasan pasokan listrik di Gaza, akibat ulah Israel, juga mengganggu fungsi rumah sakit.”

Sementara itu Israel menolak atau menunda izin bagi pasien medis untuk bepergian ke luar Gaza melalui pos pemeriksaan Erez untuk melakukan perawatan yang tidak tersedia di Gaza.

Pasien lainnya telah dirujuk ke rumah sakit di Mesir tetapi tidak mampu membayar perawatan.

Bengkel pembuatan kaki palsu prostetik di Gaza “hanya dapat menyediakan kaki prostetik yang paling dasar dengan jangkauan gerak terbatas,” menurut laporan media baru-baru ini.

Biaya pergi ke luar negeri untuk pemilik anggota badan prostetik sangat mahal di Gaza yang miskin di mana blokade telah mendorong tingkat pengangguran menjadi lebih dari 50 persen.

Selain gangguan fisik, tindakan keras Israel terhadap para peserta aksi telah meningkatkan gejala stres pasca-trauma pada anak-anak yang pernah mengalami trauma dari serangan militer sebelumnya di Gaza.

“Kebijakan yang disengaja”

“Tingginya jumlah korban dalam rangkaian protes tersebut bukanlah sesuatu yang tidak dapat dihindari,” kata B’Tselem.

“Ini adalah hasil dari kebijakan yang disengaja oleh pihak keamanan Israel.”

Perintah tembakan itu “secara tidak sah melanggar hukum”. Perintah itu “mengizinkan penggunaan amunisi terhadap demonstran tak bersenjata yang tidak menimbulkan bahaya bagi siapa pun dan berada di sisi lain pagar, di dalam Jalur Gaza.”

Pasukan Israel telah menembak orang-orang yang berdiri ratusan meter jauhnya sementara mereka “tidak melakukan apa pun untuk membahayakan pasukan Israel,” sebagaimana dinyatakan oleh B’Tselem.

Perintah-perintah tembakan ini  dirahasiakan oleh negara telah disetujui oleh pengadilan tinggi Israel.

Pengadilan yang lebih rendah baru-baru ini memutuskan bahwa warga Palestina di Gaza tidak berhak untuk mendapat kompensasi atas kerusakan dari Israel karena negara telah menyatakan wilayah tersebut sebagai “entitas musuh.”

 

Sumber: electronicintifada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *